Inilah ajaipnya ilmu ekonomi, inflasi adalah fungsi dari
ekspektasi.
Berapa tingkat inflasi tahun depan ? 8 persen ? 10 persen ?
Semua hasil dari perkiraan, antisipasi.
Berapa inflasi bulan depan ? 0.5 persen ? 1 persen ?
Semua keluar dari kalkulasi perkiraan, ekspektasi.
Ajaib bukan ?
Kita selama ini mempercayakan nasib perekonomian dunia,
Nasib periuk nasi banyak orang,
Dengan orang-orang yang dikelas diajarkan tetntang
ekspektasi.
Bukankah itu tidak beda dengan para penyihir,
dukun, juru ramal, atau profasi dunia ghaib lain ?
[Tere Liye_Hal. 61-62]
Buku yang satu ini tidaklah sembarang novel, sembarang cerita, atau sembarang laku di pasaran. Ia mengangkat isu, mengangkat fakta yang boleh jadi fiktif dengan merek dagang yang di palsukan. Tetapi bisa jadi fakta pelik yang sengaja diungkap dengan bumbu-bumbu sastra yang disamarkan. Ya begitulah sastra, karena boleh dikatakan sejak dari dahulu sastra akan berbicara jika media jurnalistik semuanya pada bungkam. Dan sastra akan menjadi alat informasi, alat edukasi, alat advokasi, alat provokasi bahkan propaganda sekalipun di saat situasi dan kondisi yang menentukan tepat.
“Kok bisa begitu?” tanya bang Badut kepadaku.
Ya kalau tidak benar demikian, mana mungkin ada puisi-puisi
Taufik Ismail yang terkenal tajam di masa orba. Mungkinkah juga seorang sastrawan Pramoedya Ananta Toer mendapat writes block, tidak diakui
kredibilitasnya sebagai seorang jurnalis, reportase sejarah yang ia buat dalam
bentuk jurnal dianggap palsu menjadikan semua karyanya di boikot, ditarik dari
peredaran, sampai dibakar pemerintah orba, hingga dia diasingkan sampai pulau
Buru segala. Kejam ? bahkan setelah pulang dari pengasingan ia berhati-hati
dengan menyamarkannya menjadi tulisan sastra dan itu juga masih mengalami
pembredelan.
Khusus karya Tere Liye yang satu ini sangat berbeda tidak
seperti kebanyakan karya dia yang mengangkat kasih sayang, percintaan bahkan
petualangan yang disajikan dalam bentuk roman. Tapi novel yang satu ini
mengupas bobroknya sistem moneter dunia, mekanisme rapuhnya financial berbasis fiat money, fractional
reserve requirement dan interest
tiga pilar ekonomi yang disebut-sebut sebagai three pillar of evil dalam satanic
finance, dampak sistemik yang ditimbulkan di kemudian hari dan tak hanya
itu, novel ini menelanjangi siapa saja para bedebah yang menjadi aktor yang
bekerja dibalik Negeri Para Bedebah itu semuanya. Tere Liye cukup beruntung,
koretannya tidak dicekal karena ia tidak hidup pada masa orde baru.
Belum lupa dalam ingatan kita saat kita disajikan sebuah
puzzle berita yang terus-terusan seolah tak ada ujungnya. Dari skandal dana
talangan terhadap sebuah perbankan swasta yang sampai sekarang entah bagaimana
kasusnya. Entah siapa saja pejabat yang terlibat atau bahkan dilibatkan dalam
kasus tersebut, media lokal maupun nasional seolah lupa dengan kelanjutan dari
kasus tersebut. Masih ingat juga headline-headline yang dimuat mudah sekali
dibelokkan dari satu kasus ke kasus yang lain. Bahkan rakyat sudah kenyang dan
muak dengan upaya pembelokan isu itu semua. Jadi dengan membaca Negeri Para
Bedebah, pembaca diberikan petunjuk dari puzzle yang acak itu tadi. Seolah-olah
Negeri Para Bedebah lah yang menjadi kunci jawaban atas teka teki politik. Tak
ayal lagi, pembaca lantas diajak menerka-nerka siapa dan apa saja yang penulis
maksudkan dalam novel Negeri Para Bedebah itu.
Persetan dengan sosok Thomas sebagai lakon utamanya, novel ini justru menunjukkan kebusukan semua pihak
dari kedua belah korporasi yang berseteru sampai aparat-aparat korup dan rakus
yang haus akan harta dan kekuasaan. Mereka mudah sekali menyuap dan disumpal
dengan uang dengan bahasa yang halus yakni kesepakatan. Begitulah potret jadi
konglongmerat. Tak hanya itu, para konglongmerasi itu pun berselingkuh dengan
para pembuat kebijakan. Disitu ditampilkan bagaimana melobby pimpinan partai
dalam sebuah konvesi bahkan kepada seorang menteri negara sekalipun.
Dengan alul maju dan mundur serta pengungkapan kalimat yang
unik dan menarik khas Tere Liye, maka buku ini dikategorikan sebagai buku layak
baca bahkan sangat disarankan untuk punya sendiri, walaupun buku yang saya baca
adalah pinjaman dari seorang teman.
[@mekoNaga]
Sastra tidak hanya menggrogoti kesombonganku,
atau selalu mengajakku dalam suasana keikhlasan
tentang pemberian Tuhan padaku,
namun ia juga kerab mengantarku dalam keresahan atas
kenyamanan hidup,
dengan caranya sendiri !!!
_momon_
