Aku
tak peduli dikatakan bermoral atau tidak.
Aku
lebih memilih disebut tak bermoral dari pada tak berakhlak.
Dan
aku bukan pejuang moral dan tak pantas mempertanyakannya kepadaku.
Karena
aku memang tak bermoral.
Uhh,
hari ini suhu udara terasa panas sekali, setiap sudut ruang seperti perapian saja,
Tidak ada tempat yang teduh, semuanya panas. Seolah dunia ini tak lagi ada
tempat yang digunakan “tuan panas” untuk menyalurkan hasratnya memancarkan
jutaan kalori energy yang siap unuk di ttransformasi. Ratusan peluh seukuran
jagung menjadi primadona, sehingga setiap hari kami mandi menjadi 3 kali
sehari. 2 kali dilakukan saat padi dan sore hari, dan saat siang mandi dengan
keringat berparfumkan aroma bau badan.
Ditengah suasana panas yang
menyengat tersebut suasana tetap teduh karena semua murid duduk rapi nan
tenang. Tidak ada satu pun murid yang berbuat kegaduhan. Semuanya terfokus pada
materi yang disampaikan sang guru.
“Moral1 adalah hal
mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral adalah tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang
tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak
memiliki nilai positif di mata manusia lainnya.” Kata sang guru berapi-api.
Hingga
terlihat dari barisan sebuah acungan jari mungil pertanda bahwa komunikasi
pengajaran berjalan dengan baik karena mendapat respon dari muridnya. Dengan
suara yang kecil si murid bertanya kepada gurunya
“ Pak
guru, apa yang dimaksud nilai-nilai positif itu?” tanya si murid.
. “Moral1 adalah
hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi
individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.
manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral
adalah nilai mutlak dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian
terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah
perbuatan, tingkah laku, ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia.
apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di
masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan
masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.
Sebegaimana peribahasa mengatakan Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain
ikannya. Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung.” paparannya sang guru
dengan penuh ketenangan
Hal itu
berlangsung hingga suatu saat berakhir dan suasana teduh itu menghilang berubah
kembali menjadi panas bahkan lebih panas lagi, sehingga ruangan pun lebih
terasa seperti “neraka” saja ketika si murid yang memiliki jari mungil dan
suara kecil itu bertanya lagi2.
ç==è
Singkat
cerita ternyata sang guru tadi mengajar di salah satu wilayah pedalaman Wamena
Papua. Dan sang guru bingung mau menjawab apa dari pertanyaan terakhir si murid
tadi.
Moral1
merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait
dengan nilai-nilai baik dan buruk.
Mungkin
kita masih mengingat sewaktu masih dibangku sekolah, sewaktu pakaian masih pake
seragam (maklum aku sudah kuliah), Di mata pelajaran tertentu (tak usah aku
sebutkan kalian pasti sudah tahu) sang guru dengan ikhlas hingga berbuih menjelaskan
bahwa moral adalah sesuatu yang oleh hati merupakan kebaikan, seseorang yang
memiliki moral dia akan mampu menjalani hidup dengan benar dan memberikan
kententraman dan kedamaian bagi dunia. Sehingga para murid pun mengiyakannya
menandakan paham sebagaimana pahamnya aku ketika melihat saudaraku tertimpa
bencana ya seharunya menolong.
Di sisi lain saat murid mencoba mengaplikasikannya ternyata si
murid tidak semudah itu. Bahwa standar nilai moral tidak memiiki standard kode
etik yang sama. Katakanlah sesuatu yang kamu anggap benar belum tentu aku
anggap benar. Dan itu juga didapat dari mata pelajaran yang sama yang dikemas
saat pembahasan pluralism dan demokrasi.
Immoral
sebuah kata yang memilliki arti tak mermoral katakanlah seperti biadab.
Takpunya sopan santun, asusila jahat. Dan semua definisi itu mengarah kepada
perbuatan jadah. Yang namanya perbuatan jahat
Di
amerika seorang gadis remaja yang usianya telah menginjak umur 16 tahun, dia
telah mendapatkan hak kebebasan. Tidak bisa kemudian orang tuannya menanyakan,
“apakah kamu masih virgin atau sudah janda?” bisa-bisa ortu tersebut malah
diseret anak gadisnya di meja hijau karena mempertanyakan hal yang bersifat
privacy bagi gadis tersebut. Nah ini moral di Amerika. Hal yang berbeda dengan
Indonesia, walaupun saat ini paham kebebasan sudah mulai menjalar dan merasuki
pola pikir kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tidak akan orang tua sampai
diseret hingga pengadilan hanya karena mempertanyakan kevirginan anak gadisnya.
Lantas mana yang benar hayo?
Ada
contoh lain yang menarik, Indonesia terkenal dengan banyak pulaunya. Dikenal
dengan mega biodiversitanya, karena kaya akan keanekaragaman hayati serta
sumberdaya alam. Dan dikenal dengan banyak ragam suku bangsa, adat istiadat
serta kebudayaan. Sebuah konsekuensi yang logis ketika Indonesia memiliki kode
etik yang berbeda satu sama lainnya. Di Jawa orang yang memakai koteka ya
dianggap sebagai orang gila, “gelo”, “ora waras”, “edan”, “gendeng”,”abnormal”
dan sebagainya yang tidak punya moral (immoral), sebaliknya kalau kamu dipapua
kamu mau telanjang sekalian sambil main-mainkan anu mu itu, kamu ga akan
dianggap yang tak bermoral alias wajar. Lantas kalau moral dianggap sebagai
suatu landasan kebaikan yang muncul dari hati nurani lantas moral yang mana?
Bagi
aku hal itu kemudian menjadi tidak mengherankan ketika dikemudian hari aku
menjumpai kalangan yang mengaku aktivis bermoral mengumpulkan laporan berupa
fotocopy. Atau mungkin selama ini aku yang salah menganggap laporan itu
merupakan tanggung jawab pribadi dan harus dikerjakan sendiri ternyata laporan
itu boleh berupa fotocopyan. Aku juga tidak heran ketika kemudian hari aku
menjumpai kalangan yang untuk mendapatkan dukungan calonnya tidak berterus
terang melainkan dengan mengatakan untuk mengaktivasi hak pilih. Atau mungkin
selama ini aku yang salah untuk terlalu polos dalam menghadapi situasi.
Ayolah
kawan,, janganlah kalian menjadi buta dengan memenutup mata dan hati kalian. Aku
akui memang aku ini takbermoral tetapi Jangan hanya karena ketidaksukaan kalian
dengan surat cintaku ini lantas kalian melepasnya di berbagai tempelan yang
tersebar di penjuru dunia dan membuangnya di tempat sampah. Kita sama-sama
tahukok kalau membuang sampah ditempat sampah adalah akhlak yang terpuji.
Tetapi
aku juga sudah siap kok menghadapi kemungkinan-kemingkinan itu. Jadi kalau
kawan-kawan melihat yang seperti itu sudah dibiarkan saja, jangan di sadarkan,
dibiarkan sajalah, dan jangan dipaksa untuk berubah. Mungkin akunya juga yang
salah.
Yang
jelas pembebasan palestina dari cengkraman Israel tidak bisa dilakukan hanya
dengan moral serta perjanjian damai, tetapi dengan menggempurnya. Karena aku
GEMPUR ISRAEL.
Sleman,
12 December 2009, 02:46:41
No comments:
Post a Comment