Saturday, 13 April 2013

My Immoral


Aku tak peduli dikatakan bermoral atau tidak.
Aku lebih memilih disebut tak bermoral dari pada tak berakhlak.
Dan aku bukan pejuang moral dan tak pantas mempertanyakannya kepadaku.
Karena aku memang tak bermoral.

Uhh, hari ini suhu udara terasa panas sekali, setiap sudut ruang seperti perapian saja, Tidak ada tempat yang teduh, semuanya panas. Seolah dunia ini tak lagi ada tempat yang digunakan “tuan panas” untuk menyalurkan hasratnya memancarkan jutaan kalori energy yang siap unuk di ttransformasi. Ratusan peluh seukuran jagung menjadi primadona, sehingga setiap hari kami mandi menjadi 3 kali sehari. 2 kali dilakukan saat padi dan sore hari, dan saat siang mandi dengan keringat berparfumkan aroma bau badan.
Ditengah suasana panas yang menyengat tersebut suasana tetap teduh karena semua murid duduk rapi nan tenang. Tidak ada satu pun murid yang berbuat kegaduhan. Semuanya terfokus pada materi yang disampaikan sang guru.
“Moral1 adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral adalah tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya.” Kata sang guru berapi-api.
Hingga terlihat dari barisan sebuah acungan jari mungil pertanda bahwa komunikasi pengajaran berjalan dengan baik karena mendapat respon dari muridnya. Dengan suara yang kecil si murid bertanya kepada gurunya
“ Pak guru, apa yang dimaksud nilai-nilai positif itu?” tanya si murid.

. “Moral1 adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai mutlak dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan, tingkah laku, ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Sebegaimana peribahasa mengatakan Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung.” paparannya sang guru dengan penuh ketenangan
Hal itu berlangsung hingga suatu saat berakhir dan suasana teduh itu menghilang berubah kembali menjadi panas bahkan lebih panas lagi, sehingga ruangan pun lebih terasa seperti “neraka” saja ketika si murid yang memiliki jari mungil dan suara kecil itu bertanya lagi2.
ç==è
Singkat cerita ternyata sang guru tadi mengajar di salah satu wilayah pedalaman Wamena Papua. Dan sang guru bingung mau menjawab apa dari pertanyaan terakhir si murid tadi.
Moral1 merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk.

Mungkin kita masih mengingat sewaktu masih dibangku sekolah, sewaktu pakaian masih pake seragam (maklum aku sudah kuliah), Di mata pelajaran tertentu (tak usah aku sebutkan kalian pasti sudah tahu) sang guru dengan ikhlas hingga berbuih menjelaskan bahwa moral adalah sesuatu yang oleh hati merupakan kebaikan, seseorang yang memiliki moral dia akan mampu menjalani hidup dengan benar dan memberikan kententraman dan kedamaian bagi dunia. Sehingga para murid pun mengiyakannya menandakan paham sebagaimana pahamnya aku ketika melihat saudaraku tertimpa bencana ya seharunya menolong.
Di sisi lain saat murid mencoba mengaplikasikannya ternyata si murid tidak semudah itu. Bahwa standar nilai moral tidak memiiki standard kode etik yang sama. Katakanlah sesuatu yang kamu anggap benar belum tentu aku anggap benar. Dan itu juga didapat dari mata pelajaran yang sama yang dikemas saat pembahasan pluralism dan demokrasi.  
Immoral sebuah kata yang memilliki arti tak mermoral katakanlah seperti biadab. Takpunya sopan santun, asusila jahat. Dan semua definisi itu mengarah kepada perbuatan jadah. Yang namanya perbuatan jahat
Di amerika seorang gadis remaja yang usianya telah menginjak umur 16 tahun, dia telah mendapatkan hak kebebasan. Tidak bisa kemudian orang tuannya menanyakan, “apakah kamu masih virgin atau sudah janda?” bisa-bisa ortu tersebut malah diseret anak gadisnya di meja hijau karena mempertanyakan hal yang bersifat privacy bagi gadis tersebut. Nah ini moral di Amerika. Hal yang berbeda dengan Indonesia, walaupun saat ini paham kebebasan sudah mulai menjalar dan merasuki pola pikir kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tidak akan orang tua sampai diseret hingga pengadilan hanya karena mempertanyakan kevirginan anak gadisnya. Lantas mana yang benar hayo?
Ada contoh lain yang menarik, Indonesia terkenal dengan banyak pulaunya. Dikenal dengan mega biodiversitanya, karena kaya akan keanekaragaman hayati serta sumberdaya alam. Dan dikenal dengan banyak ragam suku bangsa, adat istiadat serta kebudayaan. Sebuah konsekuensi yang logis ketika Indonesia memiliki kode etik yang berbeda satu sama lainnya. Di Jawa orang yang memakai koteka ya dianggap sebagai orang gila, “gelo”, “ora waras”, “edan”, “gendeng”,”abnormal” dan sebagainya yang tidak punya moral (immoral), sebaliknya kalau kamu dipapua kamu mau telanjang sekalian sambil main-mainkan anu mu itu, kamu ga akan dianggap yang tak bermoral alias wajar. Lantas kalau moral dianggap sebagai suatu landasan kebaikan yang muncul dari hati nurani lantas moral yang mana?
Bagi aku hal itu kemudian menjadi tidak mengherankan ketika dikemudian hari aku menjumpai kalangan yang mengaku aktivis bermoral mengumpulkan laporan berupa fotocopy. Atau mungkin selama ini aku yang salah menganggap laporan itu merupakan tanggung jawab pribadi dan harus dikerjakan sendiri ternyata laporan itu boleh berupa fotocopyan. Aku juga tidak heran ketika kemudian hari aku menjumpai kalangan yang untuk mendapatkan dukungan calonnya tidak berterus terang melainkan dengan mengatakan untuk mengaktivasi hak pilih. Atau mungkin selama ini aku yang salah untuk terlalu polos dalam menghadapi situasi.
Ayolah kawan,, janganlah kalian menjadi buta dengan memenutup mata dan hati kalian. Aku akui memang aku ini takbermoral tetapi Jangan hanya karena ketidaksukaan kalian dengan surat cintaku ini lantas kalian melepasnya di berbagai tempelan yang tersebar di penjuru dunia dan membuangnya di tempat sampah. Kita sama-sama tahukok kalau membuang sampah ditempat sampah adalah akhlak yang terpuji.
Tetapi aku juga sudah siap kok menghadapi kemungkinan-kemingkinan itu. Jadi kalau kawan-kawan melihat yang seperti itu sudah dibiarkan saja, jangan di sadarkan, dibiarkan sajalah, dan jangan dipaksa untuk berubah. Mungkin akunya juga yang salah.
Yang jelas pembebasan palestina dari cengkraman Israel tidak bisa dilakukan hanya dengan moral serta perjanjian damai, tetapi dengan menggempurnya. Karena aku GEMPUR ISRAEL.

Sleman, 12 December 2009, 02:46:41
   

No comments:

Post a Comment