Dunia
saat ini telah memasuki era baru, era globalisasi. Sebagai hasil rekayasa teknologi
informasi, era ini membawa manusia kepada budaya global, budaya pop dan
melahirkan manusia-manusia kosmopolitan. Manusia masa kini seperti spesies baru
yang tidak mengenal batas-batas budaya. Jika pada periode tahun 60-80an industri
bioskop menjadi media penularan virus budaya barat melalui tontonan film-film
“panas” —yang menjadi hospes budaya freesex and drugs--, maka tahun 90an menjadi
era kedigjayaan dunia pertelevisian yang telah merubah pola perilaku masyarakat
menjadi lebih individualistik dan egois.
Televisi berhasil mencekoki sebagian besar manusia hingga mereka betah bertahan di depan TV selama berjam-jam. Akibatnya budaya kumpul-kumpul “kongkow-kongkow” di masyarakat kini mulai memudar. Semangat gotong-royong dan kebersamaan kian luntur tergantikan dengan gaya hidup hedonistik yang dijajakan para artis. Acara-acara yang berbau hiburan seperti konser musik ataupun acara malam tahun baru lebih diminati dibandingkan acara karawitan maupun tirakatan.
Televisi berhasil mencekoki sebagian besar manusia hingga mereka betah bertahan di depan TV selama berjam-jam. Akibatnya budaya kumpul-kumpul “kongkow-kongkow” di masyarakat kini mulai memudar. Semangat gotong-royong dan kebersamaan kian luntur tergantikan dengan gaya hidup hedonistik yang dijajakan para artis. Acara-acara yang berbau hiburan seperti konser musik ataupun acara malam tahun baru lebih diminati dibandingkan acara karawitan maupun tirakatan.
Gaya
hidup ini sengaja dibidikkan kepada masyarakat, terutama kepada generasi
mudanya. Akibatnya, masyarakat menjadi semakin rusak karena tidak terjadi regenerasi
ditengah-tengah mereka. Maraknya kejadian tawuran antar pelajar dan antar kampung,
rendahnya tingkat kelulusan siswa baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas, dan
semakin bertambahnya angka pengangguran setiap tahunnya menunjukkan bahwa gaya hidup
kebarat-baratan telah berhasil menurunkan generasi masyarakat. Etos kerja
masyarakat timur yang tekun dan ulet dalam bekerja dihilangkan dari generasi
mudanya. Sehingga kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat sungguh
benar-benar sangat parah dan sangat akut, seolah-olah sudah tidak dapat
ditangani sama sekali. Tentunya hal tersebut tidak bisa dibiarkan terus menerus
dan berlarut-larut.
Menariknya,
telah banyak dilakukan upaya pembenahan masyarakat—seperti adanya unit kegiatan
masyarakat (UKM), maupun program kuliah kerja nyata (KKN) yang di-endorse oleh
instansi akademis. Bahkan tidak jarang kegiatan-kegiatan tersebut menghabiskan
dana yang cukup besar dalam setiap pelaksanaannya. Namun kegiatan tersebut
belum mampu menggerakkan kembali masyarakat. Program-program tersebut hanyalah
sebatas transfer pengetahuan saja. Sementara etos masyarakat untuk berkarya
sudah hilang. Fenomena ini nampaknya dapat dianalogikan dengan buah simalakama
karena sama saja hasilnya ketika mencoba melakukan pembenahan dengan membiarkannya
begitu saja. Sehingga sikap pesimis dan apatis pun manjadi pandangan umum
masyarakat kebanyakan sebagai akibat dari keputus-asaan di tengah-tengah
masyarakat.
Pesimisme
seharusnya tidak boleh terjadi bagi kalangan yang terjun dan bergerak di tengah-tengah
masyarakat. Pola pikir beserta pola hidup merupakan dua hal yang seharusnya
pertama kali dibidik untuk kembali diubah. Masyarakat harus disadarkan dari
permasalahan ini. Masyarakat harus paham dan sadar bahwa gaya hidup baru yang
saat ini berkembang justru akan membawa masa depan yang suram. Hanya saja
proses untuk itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Faktor
penting yang sering menjadi penyebab kegagalan adalah kepercayaan (trust)
masyarakat yang “sakit” terhadap “dokter” yang terjun di tengah-tengah
masyarakat. Menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap agen perubahan
seringkali gagal disebabkan oleh: (1) agen perubahan menyepelekan
masalah-masalah kecil yang mampu menumbuhkan ketidak percayaan masyarakat, (2) agen
perubahan tidak peka terhadap permasalahan individu dari sebagian masyarakat.
Terkadang
bagi agen perubahan, menyepelekan permasalahan yang ada pada dirinya adalah hal
biasa. Namun di lain pihak, masyarakat sangat membenci hal ini. Seorang agen
perubahan hendaknya mampu menjadi teladan bagi masyarakat. Ia harus senantiasa bercermin
mengevaluasi dan mengoreksi diri sendiri agar apa-apa yang menjadi
kekurangannya mampu dieliminasi—atau bahkan dihilangkan, jika memungkinkan.
Sebab tanpa melakukan evaluasi diri, permasalahan kecil yang menjadi penghalang
kepercayaan masyarakat terhadap agen perubahan tidak mungkin dapat
diselesaikan.
Selain
itu, agen perubahan terlalu puas dengan pemikiran yang dia emban dan yang dia
tanamkan ditengah-tengah masyarakat. Sehingga menjadi kurang peka terhadap
permasalahan individu masyarakat. Hal ini acapkali dapat memunculkan pandangan
negatif dari masyarakat terhadap agen perubahan. Munculnya pandangan bahwa agen
perubahan hanya “omong doang” adalah dampak dari kurang pekanya terdapat
permasalahan individu masyarakat. Setidaknya agen perubahan dituntut untuk
mampu bergerak di tengah masyarakat serta mengabdi melayani masyarakat. Dari
situlah kepercayaan masyarakat terhadap agen perubahan dapat di jaga.
Jika
jati diri seorang agen perubahan di tengah-tengah masyarakat telah terbentuk,
kini yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengembangkannya hingga membuahkan
hasil sehingga kita dapat memetik hasilnya di masa kemudian.
[Tugas
Jurnalistik 2010]

No comments:
Post a Comment