Friday, 1 March 2013

Sayap Apatis


Dunia saat ini telah memasuki era baru, era globalisasi. Sebagai hasil rekayasa teknologi informasi, era ini membawa manusia kepada budaya global, budaya pop dan melahirkan manusia-manusia kosmopolitan. Manusia masa kini seperti spesies baru yang tidak mengenal batas-batas budaya. Jika pada periode tahun 60-80an industri bioskop menjadi media penularan virus budaya barat melalui tontonan film-film “panas” —yang menjadi hospes budaya freesex and drugs--, maka tahun 90an menjadi era kedigjayaan dunia pertelevisian yang telah merubah pola perilaku masyarakat menjadi lebih individualistik dan egois.
Televisi berhasil mencekoki sebagian besar manusia hingga mereka betah bertahan di depan TV selama berjam-jam. Akibatnya budaya kumpul-kumpul “kongkow-kongkow” di masyarakat kini mulai memudar. Semangat gotong-royong dan kebersamaan kian luntur tergantikan dengan gaya hidup hedonistik yang dijajakan para artis. Acara-acara yang berbau hiburan seperti konser musik ataupun acara malam tahun baru lebih diminati dibandingkan acara karawitan maupun tirakatan.
Gaya hidup ini sengaja dibidikkan kepada masyarakat, terutama kepada generasi mudanya. Akibatnya, masyarakat menjadi semakin rusak karena tidak terjadi regenerasi ditengah-tengah mereka. Maraknya kejadian tawuran antar pelajar dan antar kampung, rendahnya tingkat kelulusan siswa baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas, dan semakin bertambahnya angka pengangguran setiap tahunnya menunjukkan bahwa gaya hidup kebarat-baratan telah berhasil menurunkan generasi masyarakat. Etos kerja masyarakat timur yang tekun dan ulet dalam bekerja dihilangkan dari generasi mudanya. Sehingga kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat sungguh benar-benar sangat parah dan sangat akut, seolah-olah sudah tidak dapat ditangani sama sekali. Tentunya hal tersebut tidak bisa dibiarkan terus menerus dan berlarut-larut.
Menariknya, telah banyak dilakukan upaya pembenahan masyarakat—seperti adanya unit kegiatan masyarakat (UKM), maupun program kuliah kerja nyata (KKN) yang di-endorse oleh instansi akademis. Bahkan tidak jarang kegiatan-kegiatan tersebut menghabiskan dana yang cukup besar dalam setiap pelaksanaannya. Namun kegiatan tersebut belum mampu menggerakkan kembali masyarakat. Program-program tersebut hanyalah sebatas transfer pengetahuan saja. Sementara etos masyarakat untuk berkarya sudah hilang. Fenomena ini nampaknya dapat dianalogikan dengan buah simalakama karena sama saja hasilnya ketika mencoba melakukan pembenahan dengan membiarkannya begitu saja. Sehingga sikap pesimis dan apatis pun manjadi pandangan umum masyarakat kebanyakan sebagai akibat dari keputus-asaan di tengah-tengah masyarakat.
Pesimisme seharusnya tidak boleh terjadi bagi kalangan yang terjun dan bergerak di tengah-tengah masyarakat. Pola pikir beserta pola hidup merupakan dua hal yang seharusnya pertama kali dibidik untuk kembali diubah. Masyarakat harus disadarkan dari permasalahan ini. Masyarakat harus paham dan sadar bahwa gaya hidup baru yang saat ini berkembang justru akan membawa masa depan yang suram. Hanya saja proses untuk itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Faktor penting yang sering menjadi penyebab kegagalan adalah kepercayaan (trust) masyarakat yang “sakit” terhadap “dokter” yang terjun di tengah-tengah masyarakat. Menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap agen perubahan seringkali gagal disebabkan oleh: (1) agen perubahan menyepelekan masalah-masalah kecil yang mampu menumbuhkan ketidak percayaan masyarakat, (2) agen perubahan tidak peka terhadap permasalahan individu dari sebagian masyarakat.
Terkadang bagi agen perubahan, menyepelekan permasalahan yang ada pada dirinya adalah hal biasa. Namun di lain pihak, masyarakat sangat membenci hal ini. Seorang agen perubahan hendaknya mampu menjadi teladan bagi masyarakat. Ia harus senantiasa bercermin mengevaluasi dan mengoreksi diri sendiri agar apa-apa yang menjadi kekurangannya mampu dieliminasi—atau bahkan dihilangkan, jika memungkinkan. Sebab tanpa melakukan evaluasi diri, permasalahan kecil yang menjadi penghalang kepercayaan masyarakat terhadap agen perubahan tidak mungkin dapat diselesaikan.
Selain itu, agen perubahan terlalu puas dengan pemikiran yang dia emban dan yang dia tanamkan ditengah-tengah masyarakat. Sehingga menjadi kurang peka terhadap permasalahan individu masyarakat. Hal ini acapkali dapat memunculkan pandangan negatif dari masyarakat terhadap agen perubahan. Munculnya pandangan bahwa agen perubahan hanya “omong doang” adalah dampak dari kurang pekanya terdapat permasalahan individu masyarakat. Setidaknya agen perubahan dituntut untuk mampu bergerak di tengah masyarakat serta mengabdi melayani masyarakat. Dari situlah kepercayaan masyarakat terhadap agen perubahan dapat di jaga.
Jika jati diri seorang agen perubahan di tengah-tengah masyarakat telah terbentuk, kini yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengembangkannya hingga membuahkan hasil sehingga kita dapat memetik hasilnya di masa kemudian.
[Tugas Jurnalistik 2010]

No comments:

Post a Comment