Sunday, 14 April 2013

Refleksi Diri


”Dalam mengevaluasi diri, membutuhkan orang lain yang menilai diri kita.”
”Kamu tidak akan menemukan siapa dirimu hanya dengan dirimu sendiri.”
”Sama seperti cermin, kau membutuhkannya saat kau akan menilai dirimu sendiri.”

Kata-kata tersebut selalu ku coba tuk ku pikirkan. Entah berapa lama aku memikirkannya ataukah aku hanya berkhayal saja. Hingga aku terringat Saat aku prektek lapangan di kampus hutan jati, kami seangkatan sekitar 80 orang bertempat disebuah asrama milik kampus. Disitu terdapat mess kamar, kantor, aula dapur dll. Kehidupan selama 25 hari ditengah hutan terjamin. Makan 3 kali sehari teteapi dijadwal, seperti ditempat para tahanan. Dalam sekamar kami ber8 ditempatkan.

Setiap kamar terdapat 3 buah ranjang bertingkat sehingga ada 6 kasur. Padahal kami sekamar ada 8 orang, artinya setiap malam harus ada 2 anak yang harus di tumbalkan mandapat giliran tidur dibawah walau kenyataannya selama hampir sebulan tementemen lebih milih tidur dibawah karena ketakutan tidur diatas kasur terlebih di ranjang paling atas. Nyatanya aku enjoy saja tidur di ranjang paling atas walaupun malam pertamaku susah sekali tidur(kepikiran mama terus).

Kejadiannya Ada seorang teman yang menanyakan kepada ku, meko kenapa sih kami sesing banget berkaca. Kebetulan di kamar ada lemari dengan 8 kolom dan di tengahnya terdapat sebuah cermin besar dan entah kenapa setiap bangun tidur habis mandi, datang ke kamar trus kalau pas nganggur langsung saja aku berdiri tegak dihadapan cermin dan aku memperlihatkan kemolekan tubuhku dan kegantengan wajahku yang mirip fauzi baadillah ini.


Aku Memandang wajah dan tubuhku sembari merenungkan wajahku. Dalam benakku sendiri Aku bertanya-tanya, inikah wajah seorang perubah dunia tataukah hanya sampah masyarakat biasa. Inikah wajah orang beradab ataukah wajah manusia biadab. Inikah wajahyang akan membahagiakan orang tua ataukah hanya menjadi sang pendurhaka....?

Dan itu kata-kata jawaban yang kutemukan sendiri saat aku merefleksikan diriku melalui cermin. Dan melalui cerminlah aku mensugesti di pikiran bawah sadar ku bahwa akulah sang perubah dunia.....huahaha...hahaha...hahaha...

Dari filosofi cermin kita diajak untuk berserah diri pasrah menerima apa-apa yang dikatakan cermin, sebab cermin tidak pernah berbohong(ini bukan cerita puteri salju lho).
Sekarang coba saat kamu sedang merapikan diri, kamu ngaca, kamu memperoleh informasi terkait dirimu yang kumal itu, dengan mata yang masih ”blobokan”, banyak upilnya, trus rambut acak-acakan lantas apa kamu mau protes pada cermin. Lalu kamu berkata kepada ”hai cermin siapakah pangeran yang paling tampan sedunia” pasti jawabannya ”aku”.  Artinya orang yang mengevaluasi diri akan selalu diam menerima masukan dari lingkungannya

Sungguh tidak tahu malu kalau pemerintah saat ini justru menganggap dirinya paling hebat. Sok hebat lah tepatnya. Mereka menilai keberhasilan mereka oleh dirimereka sendiri. Para ahli yang menilai pun adalah orang yang berpihak kepada mereka.

Mereka mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi meraka tidak mau melihat kenyataan bahwa kemiskinan menyebar luas.

Mereka mematok kriteria miskin sesuai kepentingan mereka sehingga diperoleh bahwa angka kemiskinan menurun. Padahal kalian bisa lihat sendiri, ribuan orang mengantri pembagian BLT. Bakan saat pembagian zakat lebaran tahun2008 lalu beberapa orang meninggal akibat berdesak-desakan mengantri dan terinjak-injak.

Pemerintah ngotot bahwa domokrasi adalah bentuk negara yang paling baik, tetapi kalian bisa lihat sendiri dengan demokrasilah Indonesia menjadi boros untuk melakukan ritual lima tahunan yang penuh dengan syirik, riya’. Dasar sombong kalian para penguasa.
Demokrasi yang tidak menimbulkan kententraman, malah menambah kerusuhan di banyak daerah, serta daftar caleg gila dan stress merata.

Lantas saat ini, para da’i yang sedang berusaha dengan ikhlas mengingatkan penguasa dalam rangka menjadi cermin untuk memperbaiki bangsa ini dengan aturan yang sesuai fitrah untuk mengatur manusia dituduh dan dicap sitgma negatif sebagai teroris dan aktivitasnya diawasi.

Sungguh kami tidak akan gentar dengan persekongkolan ini. Dan kami tidak setolol itu. Kami akan menjadi pecahan cermin yang akan merobek perut kekuasaan mu wahai penguasa khianat.

Yogyakarta, 2009-09-08, 06:29:39

No comments:

Post a Comment