”Dalam mengevaluasi diri, membutuhkan orang lain yang
menilai diri kita.”
”Kamu tidak akan menemukan siapa dirimu hanya dengan
dirimu sendiri.”
”Sama seperti cermin, kau membutuhkannya saat kau akan
menilai dirimu sendiri.”
Kata-kata tersebut selalu ku coba tuk ku pikirkan. Entah
berapa lama aku memikirkannya ataukah aku hanya berkhayal saja. Hingga aku
terringat Saat aku prektek lapangan di kampus hutan jati, kami seangkatan sekitar
80 orang bertempat disebuah asrama milik kampus. Disitu
terdapat mess kamar, kantor, aula dapur dll. Kehidupan selama 25 hari ditengah
hutan terjamin. Makan 3 kali sehari teteapi dijadwal, seperti ditempat para
tahanan. Dalam sekamar kami ber8 ditempatkan.
Setiap kamar terdapat 3 buah ranjang bertingkat sehingga
ada 6 kasur. Padahal kami sekamar ada 8 orang, artinya setiap malam harus ada 2
anak yang harus di tumbalkan mandapat giliran tidur dibawah walau kenyataannya
selama hampir sebulan tementemen lebih milih tidur dibawah karena ketakutan
tidur diatas kasur terlebih di ranjang paling atas. Nyatanya aku enjoy saja
tidur di ranjang paling atas walaupun malam pertamaku susah sekali
tidur(kepikiran mama terus).
Kejadiannya Ada seorang teman yang menanyakan kepada ku,
meko kenapa sih kami sesing banget berkaca. Kebetulan di kamar ada lemari
dengan 8 kolom dan di tengahnya terdapat sebuah cermin besar dan entah kenapa
setiap bangun tidur habis mandi, datang ke kamar trus kalau pas nganggur
langsung saja aku berdiri tegak dihadapan cermin dan aku memperlihatkan
kemolekan tubuhku dan kegantengan wajahku yang mirip fauzi baadillah ini.
Aku Memandang wajah dan tubuhku sembari merenungkan
wajahku. Dalam benakku sendiri Aku bertanya-tanya, inikah wajah seorang perubah
dunia tataukah hanya sampah masyarakat biasa. Inikah wajah orang beradab
ataukah wajah manusia biadab. Inikah wajahyang akan membahagiakan orang tua
ataukah hanya menjadi sang pendurhaka....?
Dan itu kata-kata jawaban yang kutemukan sendiri saat aku
merefleksikan diriku melalui cermin. Dan melalui cerminlah aku mensugesti di
pikiran bawah sadar ku bahwa akulah sang perubah
dunia.....huahaha...hahaha...hahaha...
Dari filosofi cermin kita diajak untuk berserah diri
pasrah menerima apa-apa yang dikatakan cermin, sebab cermin tidak pernah
berbohong(ini bukan cerita puteri salju lho).
Sekarang coba saat kamu sedang merapikan diri, kamu
ngaca, kamu memperoleh informasi terkait dirimu yang kumal itu, dengan mata
yang masih ”blobokan”, banyak
upilnya, trus rambut acak-acakan lantas apa kamu mau protes pada cermin. Lalu
kamu berkata kepada ”hai cermin siapakah pangeran yang paling tampan sedunia”
pasti jawabannya ”aku”. Artinya orang
yang mengevaluasi diri akan selalu diam menerima masukan dari lingkungannya
Sungguh tidak tahu malu kalau pemerintah saat ini justru
menganggap dirinya paling hebat. Sok hebat lah tepatnya. Mereka menilai
keberhasilan mereka oleh dirimereka sendiri. Para ahli yang menilai pun adalah
orang yang berpihak kepada mereka.
Mereka mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi meningkat,
tetapi meraka tidak mau melihat kenyataan bahwa kemiskinan menyebar luas.
Mereka mematok kriteria miskin sesuai kepentingan mereka
sehingga diperoleh bahwa angka kemiskinan menurun. Padahal kalian bisa lihat
sendiri, ribuan orang mengantri pembagian BLT. Bakan saat pembagian zakat
lebaran tahun2008 lalu beberapa orang meninggal akibat berdesak-desakan
mengantri dan terinjak-injak.
Pemerintah ngotot bahwa domokrasi adalah bentuk negara
yang paling baik, tetapi kalian bisa lihat sendiri dengan demokrasilah
Indonesia menjadi boros untuk melakukan ritual lima tahunan yang penuh dengan
syirik, riya’. Dasar sombong kalian para penguasa.
Demokrasi yang tidak menimbulkan kententraman, malah
menambah kerusuhan di banyak daerah, serta daftar caleg gila dan stress merata.
Lantas saat ini, para da’i yang sedang berusaha dengan
ikhlas mengingatkan penguasa dalam rangka menjadi cermin untuk memperbaiki
bangsa ini dengan aturan yang sesuai fitrah untuk mengatur manusia dituduh dan
dicap sitgma negatif sebagai teroris dan aktivitasnya diawasi.
Sungguh kami tidak akan gentar dengan persekongkolan ini.
Dan kami tidak setolol itu. Kami akan menjadi pecahan cermin yang akan merobek
perut kekuasaan mu wahai penguasa khianat.
Yogyakarta,
2009-09-08, 06:29:39
No comments:
Post a Comment