Sholawat Tarhim. Sering kita mendengar lantunan sholawat menjelang
kumandang adzan subuh. Ya itulah sholawat Tarhim. Masih sering saya, dan mungkin
juga pembaca sekalian, mendengar lantunannya dari musholla atau masjid di
desa-desa. Syairnya sederhana dan mudah diikuti membuatnya familiar di telinga
warga muslim Indonesia. Nah, mari sejenak kita ngobrol tentang Sholawat Terhim.
Adalah
seorang Syaikh Mahmoud Khalil al-Husyairi yang telah berjasa menggubah sholawat
ini. Beliau ini adalah ketua Jam’iyyatul Qurra’ di Kairo, Mesir. Beliau adalah
qaari’ yang populer pada zamannya dan tinggi ilmunya. Sampai-sampai
digelari Syaikhul Maqaari’ atau Begawannya Para Qaari’. Saya sendiri
menelusuri tentang sholawat ini dan bio Syaikh Mahmoud dari Kiai Google. Sila
dikritisi apabila memang ada yang patut dikritisi. Semoga ada hikmah pula dari
tulisan saya ini. Intinya, mari berbagi ilmu. Saya tidak lebih pintar dari
pembaca sekalian.
Dalam
sebuah majlis Cak Nun (Emha Ainun Najib) membedah secara singkat padat perihal
‘terdamparnya’ sholawat ini ke musholla wa masajid di tempat kita. Jadi,
ceritanya Syaikh Mahmoud ini pernah berkunjung ke Indonesia pada sekitaran tahun
60’an. Konon katanya, sholawat ini ‘dibajak’ di studio Lokananta, Solo, dan
pertama kali sampai ke telinga orang Indonesia melalui corong Radio Yasmara
(Yayasan Masjid Rahmat) di Surabaya.
***
Cak Nun
dawuh bahwa sholawatan itu tidak perlu menunggu bersama-sama orang
banyak. Tidak perlu formalitas, pada hemat saya. Yang penting Anda ingat
Rasulullah. Anda ingat posisi anda bertiga, bersama Rasulullah dan Allah, itu
juga sholawat. Baik dengan ucapan maupun ingatan dalam hati.
“Mengapa sih pake inget Rasulullah?”
Satu
hal, karena yang paling bisa kita andalkan di hadapan Gusti Allah itu ya Kanjeng
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Kalau mau Gusti Allah itu
setia dengan apa yang kita inginkan, cita-citakan, kita mestinya berkaca,
bisakah kita ini diandalkan oleh Gusti Allah? Sebenarnya kita ini, kan, belum
bisa diandalkan oleh Gusti Allah jika menilik perangai kita yang masih serba
kurang. Maka, dalam bahasa Cak Nun, kita ini cuma bisa ‘gondelan klambine
Kanjeng Nabi’. Bergantung atau menggantungkan diri pada Kanjeng Nabi. Karena
yang pasti bisa diandalkan itu, ya, Rasulullah Muhammad.
Sholawatan adalah ‘gondelan klambine Kanjeng Nabi’ yang dimaksud oleh
Cak Nun. Karena Beliau sangat bisa diandalkan dan sangat mencintai kita,
ummatnya. Seluruh hidupnya Kanjeng Nabi adalah untuk mendoakan
ke-mashlahat-an kita, fiddunya walaakhirah. Itulah
Sholawat.
***
Sholawat Tarhim, kembali menurut dawuh Cak Nun, menggambarkan
bagaiman kita seharusnya ikhlas kepada Gusti Allah Azza wa Jalla.
Sesusah-susahnya kita di dunia ini, marilah berlapang dada, nrima kalau
kata orang Jawa. Yang penting kita tidak dimurkai Gusti Allah dan tetap dicintai
oleh Kanjeng Nabi. Gampangnya, kata Cak Nun, “Berkeinginanlah menjadi
ma’mum-nya Kanjeng Nabi.” Entah apapun yang terjadi. Itulah cita-cita
yang luar biasa.
“Ash-Shallatu wa as-salaamu ‘alaiik... Yaa Imaam al-Mujaahidiin...”
Mari
kita bersholawat. Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Kanjeng Nabi.
Pemimpinnya atau imamnya para pejuang.