Hanyalah pesan yang ingin
kusampaikan. Hidup ini adalah pasti. Bahwasanya saat ini kita tak dapat
memungkiri bahwa aku, kamu dan kalian masih hidup. Dan hidup adalah pilihan.
Setiap langkah yang aku, kamu dan kalian jalani adalah buah dari keputusan. Dan
perlu diingat, bahwa mati adalah kepastian bukan pilihan. Setiap tarikan nafas
sauatu saat akan terlepas. .Setiap detak jantung pun pasti akan tak lagi
terdengar. Dan setiap derap langkah pun nantinya akan terhanti, entah karena tersandung,
menginjak kerikil tajam maupun karena otot yang melemah dan membusuk karena tak
lagi mendapat suplai makanan dari tubuh. Benar, hidup ini tidaklah abadi,
tinggal sejauh mana kita mampu menjalankannya apakah dengan menorehkan tinta
emas ataukah meninggalkan coretan hitam yang tak bermakna sama sekali.
Friday, 1 March 2013
Sayap Apatis
Dunia
saat ini telah memasuki era baru, era globalisasi. Sebagai hasil rekayasa teknologi
informasi, era ini membawa manusia kepada budaya global, budaya pop dan
melahirkan manusia-manusia kosmopolitan. Manusia masa kini seperti spesies baru
yang tidak mengenal batas-batas budaya. Jika pada periode tahun 60-80an industri
bioskop menjadi media penularan virus budaya barat melalui tontonan film-film
“panas” —yang menjadi hospes budaya freesex and drugs--, maka tahun 90an menjadi
era kedigjayaan dunia pertelevisian yang telah merubah pola perilaku masyarakat
menjadi lebih individualistik dan egois.
Seleksi Habitat Banteng di Taman Nasional Baluran
INTISARI
SELEKSI
HABITAT OLEH BANTENG (Bos javanicus)
DI
TAMAN NASIONAL BALURAN
Oleh:
Mohamad Eko Nurcahyono1)
Banteng
(Bos javanicus) di Taman Nasional
Baluran merupakan satwa yang dinyatakan terancam punah. Ada berbagai tipe
vegetasi di Taman Nasional Baluran merupakan habitat yang mempengaruhi kelangsungan
populasi banteng. Namun saat ini kondisi kawasan Taman Nasional Baluran mengalami
perubahan sehingga dikhawatirkan menurunkan kualitas habitat banteng. Informasi
yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan dan interaksi benteng terhadap
habitatnya adalah seleksi habitat, karena informasi tersebut mengkaji
kecenderungan tipe vegetasi yang dipilih banteng serta sumberdaya habitat yang
digunakan banteng.
Untuk
mengetahui tipe vegetasi yang dipilih banteng, dilakukan dengan analisis chi square antara keseluruhan plot
dengan plot yang terdapat tanda-tanda kehadiran banteng (presence). Sementara untuk mengetahui sumberdaya yang dibutuhkan
banteng digunakan analisis regresi logistik dari variabel sumberdaya habitat yang
merupakan faktor vegetasi, faktor fisik serta faktor manusia. Variabel tersebut
mewakili aspek pakan, air, pelindung dan ruang yang dibutuhkan banteng.
Pengambilan sampel kehadiran dilakukan dengan metode line trensect di seluruh kawasan secara tidak langsung. Sementara
sampel variabel sumberdaya habitat diambil dengan membuat petak ukur di dalam line transect dengan jarak minimal 200
meter.
Berdasarkan
hasil analisis chi square diperoleh
bahwa banteng di Taman Nasional Baluran memilih hutan jati, hutan pantai dan
hutan musim daripada savana. Dan dari hasil analisis regresi logistik diperoleh
variabel jarak sumber air, kepadatan tiang, kepadatan semai, penutupan
horizontal tajuk serta penutupan vertikal tumbuhan bawah tinggi yang menjadi
alasan banteng memilih kawasan hutan sebagai habitatnya.
Kata
Kunci: Seleksi Habitat. Banteng, Taman Nasional Baluran
Subscribe to:
Comments (Atom)
