Hanyalah pesan yang ingin
kusampaikan. Hidup ini adalah pasti. Bahwasanya saat ini kita tak dapat
memungkiri bahwa aku, kamu dan kalian masih hidup. Dan hidup adalah pilihan.
Setiap langkah yang aku, kamu dan kalian jalani adalah buah dari keputusan. Dan
perlu diingat, bahwa mati adalah kepastian bukan pilihan. Setiap tarikan nafas
sauatu saat akan terlepas. .Setiap detak jantung pun pasti akan tak lagi
terdengar. Dan setiap derap langkah pun nantinya akan terhanti, entah karena tersandung,
menginjak kerikil tajam maupun karena otot yang melemah dan membusuk karena tak
lagi mendapat suplai makanan dari tubuh. Benar, hidup ini tidaklah abadi,
tinggal sejauh mana kita mampu menjalankannya apakah dengan menorehkan tinta
emas ataukah meninggalkan coretan hitam yang tak bermakna sama sekali.
Perlu diketahui bahwa
kelulusan bukanlah pencapaian prestasi yang sebenarnya, tetapi seberapakah
manfaat dari diri kita setelah menempuh perjalanan panjang di dunia ilmu
pengetahuan maupun setelah berjibun mengalami pergulatan pemikiran yang tek
mudah. Banyak dari kita saat malah terjebak dan tidak sadar, ketika selesai
menyelesaikan jenjang perkuliahan yang cukup memeras otak, kegiatan praktikum
yang melelahkan ditambah biaya pendidikan yang tak lagi kompromi kelulusan
adalah hasil akhir dan apabila melaluinya semuanya telah selesai. Padahal
ketika telah melewati “fase” kelulusan adalah masalah baru yang jauh lebih
berat telah menanti untuk menghadang. Seperti layaknya pendekar di dunia
persilatan apabila telah menyelesaikan satu tingkatan maka tingkatan yang jauh
lebih berat dari tingkatan semula.
Ketika yang tercetak di
pikiran mahasiswa adalah seperti maka
akan banyak sarjana “kacamata kuda” karena lulusan yang terbentuk hanya mampu
melihat apa-apa yang ada didepan matanya saja. Dia tidak akan pernah mencoba
untuk keluar dari pakemnya, setidaknya tidak jauh-jauh amatlah. Ketika yang
terjadi seperti itu kita bisa lihat sekarang banyak sarjana tetapi pengangguran
hanya karena pikirannya telah terkooptasi “kacamata kuda” tersebut. Banyak
lulusan yang hanya berharap akan adanya lapangan kerja, ya karena sejak dulu
memang kita dididik “didoktrin” untuk menjadi buruh, pelayan atau bahasa
kerennya babu-babu perusahaan. Hal ini diperkuat dengan system pendidikan,
bahwa kompetensi lulusan sarjana secara akademis adalah menjadi peneliti. Perlu
untuk diakui secara jujur bahwa kompetensi sarjana lulusan S1 sendiri hanyalah
bagaimana menerapkan metode penelitian.
Dan cermin dunia pendidikan
saat ini seperti sebuah menara gading yang menjulang terlampau tinggi sehingga
rakyat tak lagi mudah untuk mengakses pendidikan. Memang pendidikan yang
berkualitas tidaklah diperoleh dengan harga yang murah. Tetapi menjadi
kewajiban negaralah untuk membiayai hak-hak pendidikan rakyatnya. Dari
rakyatlah bahwa bangsa ini dibangun dan dari kebodohan rakyatnyalah bangsa ini
akan runtuh. Disisi lain banyak dikalangan akademisi yang berkecukupan asyik
mengurusi kesenangannya sendiri dimana budaya hedonis ternyata telah merambah
di dunia kehidupan kita. Tidaklah banyak yang kemudian memperhatikan
tetangganya untuk menyekolahkan mereka hingga mendapat pendidikan yang
selayaknya mereka dapatkan.
“ Dan kepunyaan-Nyalah
siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya Hanya kepada-Nya tunduk”
(Ar-Ruum [30] : 26)
“
telah nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan
mereka, agar mereka kembali” (Ar-Ruum [30] : 41)
Ibarat tak ada gading yang tak retak, maka seiring
perjalanan saya dalam mengarungi hidup di dunia perkuliahan ini banyak sekali
kesalahan yang telah saya perbuat. Taklupa permohonan maaf yang
sebesar-besarnya kami mohonkan kepada:
o
Suharjanto dan Budi Sulistyowati selaku kedua orang tuaku
yang telah mendidikku menjadi seorang Naga. Dengannya aku menjadi berada orang
yang teguh menggenggam bara Islam sebagai jalan hidupku.
o
Dosen-dosenku di kampus yang selama ini telah
memberikan arahan dalam pembelajaran diperkuliahan. Maaf kalau terkadang saya
bertanya keluar dari konteks materi.
o
Teman-temanku di kampus kehutanan. Terkadang aku harus
berubah menjadi Naga dan memunculkan sisi buasku terlebih tatapan mata yang
tajam dan menusuk hati hal itu karena aku sayang sama kalian.
o
Teman-teman seangkatan 2005 dan sejurusan KSDH. Maaf
kalau selama ini aku tidak pernah mengikuti kegiatan makrab karena aku tak bisa
meluangkan waktu sedikitpun untuk melayani permintaan kalian.
o
Teman-teman satu kelompok penelitian Tejo, Haruno,
Sugi, Benk2, Ucok ditambah Mas Sandy dan Acil terimakasih atas bantuannya
selama ini dalam prngambilan data. Maaf kalau aku tak sependapat mengenai korsa
rimbaan waktu itu.
o
Teman-temanku di Hizbut Tahrir Indonesia dan
Himpunan Mahasiswa Islam MPO. Maafkan saya jika terkadang semangat ku sempat
memudar dalam dakwah karena berbagai urusan pribadi. tetapi apabila urusan
tidak segera diselesaikan maka tidak akan selesai satu masalah pun.
o
Teman-teman KMIK, afwan kalau banyak kesalahan yang
tampak dari diri saya. Terkadang rasa benci itu mucul secara alami begitu pula
sebaliknya. Tetapi hanya satu kata kuncinya adalah evaluasi diri. Sebab barang
siapa menebar angin, dari situlah dia akan menuai badainya.
o
Sekali lagi saya memohon maaf bagi nama ataupun pihak yang
tidak sempat aku tulis kan di dalam halaman persembahan ini.
No comments:
Post a Comment