Friday, 1 March 2013

Halaman Persembahan


Hanyalah pesan yang ingin kusampaikan. Hidup ini adalah pasti. Bahwasanya saat ini kita tak dapat memungkiri bahwa aku, kamu dan kalian masih hidup. Dan hidup adalah pilihan. Setiap langkah yang aku, kamu dan kalian jalani adalah buah dari keputusan. Dan perlu diingat, bahwa mati adalah kepastian bukan pilihan. Setiap tarikan nafas sauatu saat akan terlepas. .Setiap detak jantung pun pasti akan tak lagi terdengar. Dan setiap derap langkah pun nantinya akan terhanti, entah karena tersandung, menginjak kerikil tajam maupun karena otot yang melemah dan membusuk karena tak lagi mendapat suplai makanan dari tubuh. Benar, hidup ini tidaklah abadi, tinggal sejauh mana kita mampu menjalankannya apakah dengan menorehkan tinta emas ataukah meninggalkan coretan hitam yang tak bermakna sama sekali.
Perlu diketahui bahwa kelulusan bukanlah pencapaian prestasi yang sebenarnya, tetapi seberapakah manfaat dari diri kita setelah menempuh perjalanan panjang di dunia ilmu pengetahuan maupun setelah berjibun mengalami pergulatan pemikiran yang tek mudah. Banyak dari kita saat malah terjebak dan tidak sadar, ketika selesai menyelesaikan jenjang perkuliahan yang cukup memeras otak, kegiatan praktikum yang melelahkan ditambah biaya pendidikan yang tak lagi kompromi kelulusan adalah hasil akhir dan apabila melaluinya semuanya telah selesai. Padahal ketika telah melewati “fase” kelulusan adalah masalah baru yang jauh lebih berat telah menanti untuk menghadang. Seperti layaknya pendekar di dunia persilatan apabila telah menyelesaikan satu tingkatan maka tingkatan yang jauh lebih berat dari tingkatan semula.
Ketika yang tercetak di pikiran mahasiswa adalah seperti  maka akan banyak sarjana “kacamata kuda” karena lulusan yang terbentuk hanya mampu melihat apa-apa yang ada didepan matanya saja. Dia tidak akan pernah mencoba untuk keluar dari pakemnya, setidaknya tidak jauh-jauh amatlah. Ketika yang terjadi seperti itu kita bisa lihat sekarang banyak sarjana tetapi pengangguran hanya karena pikirannya telah terkooptasi “kacamata kuda” tersebut. Banyak lulusan yang hanya berharap akan adanya lapangan kerja, ya karena sejak dulu memang kita dididik “didoktrin” untuk menjadi buruh, pelayan atau bahasa kerennya babu-babu perusahaan. Hal ini diperkuat dengan system pendidikan, bahwa kompetensi lulusan sarjana secara akademis adalah menjadi peneliti. Perlu untuk diakui secara jujur bahwa kompetensi sarjana lulusan S1 sendiri hanyalah bagaimana menerapkan metode penelitian.
Dan cermin dunia pendidikan saat ini seperti sebuah menara gading yang menjulang terlampau tinggi sehingga rakyat tak lagi mudah untuk mengakses pendidikan. Memang pendidikan yang berkualitas tidaklah diperoleh dengan harga yang murah. Tetapi menjadi kewajiban negaralah untuk membiayai hak-hak pendidikan rakyatnya. Dari rakyatlah bahwa bangsa ini dibangun dan dari kebodohan rakyatnyalah bangsa ini akan runtuh. Disisi lain banyak dikalangan akademisi yang berkecukupan asyik mengurusi kesenangannya sendiri dimana budaya hedonis ternyata telah merambah di dunia kehidupan kita. Tidaklah banyak yang kemudian memperhatikan tetangganya untuk menyekolahkan mereka hingga mendapat pendidikan yang selayaknya mereka dapatkan.
 Tentunya persembahan ini bukanlah sebuah apologi yang hanya melakukan kritik tanpa disertai dengan otokritik. Tetapi bahwa realitas tersebut benar adanya sehingga mempu menjadi koreksi terutama untuk diri saya sendiri. Disisi lain menjadi sangat naïf apabila sebuah kesalahan itu kemudian terulang untuk keduakalinya bahkan sampai ketigakalinya. Amat sangat bodoh dan tololnya itu bila terjadi. Kenapa, karena manusia tidak menggunakan pikirannya untuk mengevaluasi diri. Bahkan unta pun tidak akan terperosok pada lubang yang sama, maka apabila manusia yang notabene akalnya sempurna dibanding binatang tetapi masih melakukan kesalahan yang sama terpaksa harus saya katakan “maaf” tolol.

 Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya Hanya kepada-Nya tunduk” (Ar-Ruum [30] : 26)

“ telah nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali” (Ar-Ruum [30] : 41)

Ibarat tak ada gading yang tak retak, maka seiring perjalanan saya dalam mengarungi hidup di dunia perkuliahan ini banyak sekali kesalahan yang telah saya perbuat. Taklupa permohonan maaf yang sebesar-besarnya kami mohonkan kepada:
o    Suharjanto dan Budi Sulistyowati selaku kedua orang tuaku yang telah mendidikku menjadi seorang Naga. Dengannya aku menjadi berada orang yang teguh menggenggam bara Islam sebagai jalan hidupku.
o    Dosen-dosenku di kampus yang selama ini telah memberikan arahan dalam pembelajaran diperkuliahan. Maaf kalau terkadang saya bertanya keluar dari konteks materi.
o    Teman-temanku di kampus kehutanan. Terkadang aku harus berubah menjadi Naga dan memunculkan sisi buasku terlebih tatapan mata yang tajam dan menusuk hati hal itu karena aku sayang sama kalian.
o    Teman-teman seangkatan 2005 dan sejurusan KSDH. Maaf kalau selama ini aku tidak pernah mengikuti kegiatan makrab karena aku tak bisa meluangkan waktu sedikitpun untuk melayani permintaan kalian.
o    Teman-teman satu kelompok penelitian Tejo, Haruno, Sugi, Benk2, Ucok ditambah Mas Sandy dan Acil terimakasih atas bantuannya selama ini dalam prngambilan data. Maaf kalau aku tak sependapat mengenai korsa rimbaan waktu itu.
o    Teman-temanku di Hizbut Tahrir Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam MPO. Maafkan saya jika terkadang semangat ku sempat memudar dalam dakwah karena berbagai urusan pribadi. tetapi apabila urusan tidak segera diselesaikan maka tidak akan selesai satu masalah pun.
o    Teman-teman KMIK, afwan kalau banyak kesalahan yang tampak dari diri saya. Terkadang rasa benci itu mucul secara alami begitu pula sebaliknya. Tetapi hanya satu kata kuncinya adalah evaluasi diri. Sebab barang siapa menebar angin, dari situlah dia akan menuai badainya.
o   Sekali lagi saya memohon maaf bagi nama ataupun pihak yang tidak sempat aku tulis kan di dalam halaman persembahan ini.



No comments:

Post a Comment