Sunday, 12 May 2013

Selamat jalan Ramadhan, Selamat datang Puasa


Saya bayangkan kalau Allah “Ikut berlebaran”, bagaimana nasib saya dan kita semua. Kalau Tuhan tak berpuasa lagi, habislah kita. Kalau ia tak menahan diri, mampuslah kehidupan kita. Kalau Allah tak menahan diri sekarang ini untuk menghukum kekufuran kita, apa jadinya?

[Emha Ainun Najib_Seandainya Allah pun “berlebaran”]


Bulan ramadhan, bulan penuh barokah, penuh rahmat dan ampunan. Pada bulan ini setan-setan dibelenggu selain itu amalan ibadah mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda. Sungguh bulan ini adalah bulan yang special dan istimewa dengan segala keutamaannya. Bulan waktu diturunkannya al-Qur’an. Tidak ada bulan yang lebih utama selain bulan Ramadhan.
Biasanya kita akan melihat orang-orang kemudian memperbanyak amal ibadahnya. Masjid-masjid menjadi lebih ramai kegiatannya untuk kegiatan berbuka bersama maupun shalat tarawih berjama’ah. Ada yang tadarus al-Qur’an di serambi, ada yang kemudian beri’tikaf dan lain sebagainya. Terlihat memang bulan Ramadhan berbeda dengan sebelas bulan yang lain.

Tuesday, 7 May 2013

PANCASILA


Pancasila itu sakti. Pancasila itu sakral. Pancasila itu suci. Pancasila itu harga mati. Pancasila itu asas; asas dari segala asas.
Karena sakral, Pancasila tak boleh direndahkan. Ada kesan, di negeri ini orang boleh saja melecehkan Islam, mencampakkan Al-Quran, termasuk menghina Rasulullah sang teladan. Sebagian menganggap hal itu sebagai bagian dari ekspresi kebebasan yang dijamin demokrasi. Namun, tidak dengan Pancasila. Merendahkan dan menghina Pancasila adalah kejahatan tak terperi dan pastinya anti-demokrasi.
Karena suci, Pancasila tak boleh diusik dan dikritisi. Ada kesan di negeri demokrasi ini Islam boleh saja diusik; al-Quran dan as-Sunnah boleh dikritisi. Namun, tidak dengan Pancasila. Sebab, bagi sebagian orang Pancasila itu lebih tinggi dari al-Quran maupun as-Sunnah. Pancasila digali dari nilai-nilai luhur nenek moyang bangsa Indonesia. Adapun al-Quran dan as-Sunnah hanyalah bersumber dari perkataan Tuhannya umat Islam semata. Karena itu, semua aturan dan perundang-undangan yang ada di negeri ini boleh tidak merujuk bahkan bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah, tetapi haram berseberangan dan berlawanan dengan Pancasila.
Karena harga mati, Pancasila tak boleh ditawar-tawar. Menawar Pancasila adalah tindakan amoral, bahkan kriminal.  Lain halnya dengan syariah Islam. Di negeri demokrasi ini, hukum Islam hanyalah pilihan; boleh diambil atau dicampakkan.
Sebaliknya sebagai asas, Pancasila tak boleh sekadar jadi pilihan. Asas negara boleh saja tidak berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, tetapi haram jika tidak berdasarkan Pancasila. Maka dari itu, menurut Pancasilais sejati, jika negara saja harus berasaskan Pancasila, maka apalagi Parpol dan Ormas yang merupakan organisasi lebih kecil, tentu lebih wajib berasaskan Pancasila.
****