Sunday, 12 May 2013

Selamat jalan Ramadhan, Selamat datang Puasa


Saya bayangkan kalau Allah “Ikut berlebaran”, bagaimana nasib saya dan kita semua. Kalau Tuhan tak berpuasa lagi, habislah kita. Kalau ia tak menahan diri, mampuslah kehidupan kita. Kalau Allah tak menahan diri sekarang ini untuk menghukum kekufuran kita, apa jadinya?

[Emha Ainun Najib_Seandainya Allah pun “berlebaran”]


Bulan ramadhan, bulan penuh barokah, penuh rahmat dan ampunan. Pada bulan ini setan-setan dibelenggu selain itu amalan ibadah mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda. Sungguh bulan ini adalah bulan yang special dan istimewa dengan segala keutamaannya. Bulan waktu diturunkannya al-Qur’an. Tidak ada bulan yang lebih utama selain bulan Ramadhan.
Biasanya kita akan melihat orang-orang kemudian memperbanyak amal ibadahnya. Masjid-masjid menjadi lebih ramai kegiatannya untuk kegiatan berbuka bersama maupun shalat tarawih berjama’ah. Ada yang tadarus al-Qur’an di serambi, ada yang kemudian beri’tikaf dan lain sebagainya. Terlihat memang bulan Ramadhan berbeda dengan sebelas bulan yang lain.

Disisi lain di bulan Ramadhan lah kita disyari’atkan puasa yakni menahan diri dari makan dan minum  hal-hal yang membatalkan puasa dari waktu imsak hingga waktu berkumandang adzan maghrib. Secara substansi puasa menyuruh kita untuk menahan diri dari segala keinginan duniawi, menahan hawa nafsu kita. Serta mengajak kita melatih daya juang untuk sesama manusia.
Menjelang hari raya Idul fitri, atau dalam budaya Indonesia disebut “lebaran”. Kewajiban Zakat Fitrah bagi yang mampu melatih jiwa sosial kita terhadap sesama. Zakat fitrah berupa mensisihkan bahan pangan pokok juga dapat mensucikan harta dari kotoran-kotoran yang tak halal atas rizqi yang kita peroleh.
Ketika lebaran tiba, semuanya menyambut dengan teriakan Takbir, Takbir. Sambutan takbir menandakan semuakaum muslimin sedang merayakan kemenangan. yakni kemengan mengalahkan hawa nafsu selama Ramadhan. Senandung “malam takbiran” menggema di seantero jagad raya menandakan semuanya sedang berbahagia. Kegiatan takbir keliling juga turut meramaikan malam itu juga, Bahkan sampai ada yang mengadakan konvoi jalanan segala.
Saya tidak tahu apakah sambutan kabahagiaan adalah karena kemenangan mengalahkan hawa nafsu selama Ramadhan ataukah kebahagiaaan bulan Ramadhan telah usai seningga dapat melampiaskan apa-apa yang dilarang selama ramadhan. Lantas apakah kebahagiaan saat lebaran tiba adalah kerena kita bias melampiaskan nafsu kita sehingga lupa dengan ibadah khusyuk selama Ramadhan?
 “Saya bayangkan kalau Allah “Ikut berlebaran”, bagaimana nasib saya dan kita semua. Kalau Tuhan tak berpuasa lagi, habislah kita. Kalau ia tak menahan diri, mampuslah kehidupan kita. Kalau Allah tak menahan diri sekarang ini untuk menghukum kekufuran kita, apa jadinya?” tulis seorang budayawan terkenal dalam tulisannya. Coba dibayangkan sederhana saja, bagaimana kalau Allah tidak berada di dekat kita dan menemani kita. Di tarik sebentar saja rizqi kesehatan kita, lantas kita mau mengeluh kapada siapa?
Justru bulan ramadhan dengan segala keistimewaan fasilitas hanyalah media kita untuk melatih diri berpuasa. Kenapa dikatakan melatih berpuasa? Karena puasa di bulan Ramadhan menggembleng kita untuk mempersiapkan puasa yang sebenarnya. Yakni di sebelas bulan lainnya dimana setan-setan tak lagi dibelenggu sehingga kita dihadapkan dengan godhaan syetan dunia yang sebenarnya. Kita diuji apakah kita akan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan ataukah kembali kufur.

Semoga disisa malam bulan Ramadhan ini kita bias mengambil pelajaran sebaik-baiknya sehingga kita dapat termasuk orang yang memperoleh malam laylatul Qodar. Amiin.

No comments:

Post a Comment