Saya bayangkan kalau Allah “Ikut berlebaran”,
bagaimana nasib saya dan kita semua. Kalau Tuhan tak berpuasa lagi, habislah
kita. Kalau ia tak menahan diri, mampuslah kehidupan kita. Kalau Allah tak
menahan diri sekarang ini untuk menghukum kekufuran kita, apa jadinya?
[Emha Ainun Najib_Seandainya Allah pun “berlebaran”]
Bulan ramadhan, bulan penuh barokah, penuh rahmat dan
ampunan. Pada bulan ini setan-setan dibelenggu selain itu amalan ibadah
mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda. Sungguh bulan ini adalah bulan
yang special dan istimewa dengan segala keutamaannya. Bulan waktu diturunkannya
al-Qur’an. Tidak ada bulan yang lebih utama selain bulan Ramadhan.
Biasanya kita akan melihat orang-orang kemudian memperbanyak
amal ibadahnya. Masjid-masjid menjadi lebih ramai kegiatannya untuk kegiatan
berbuka bersama maupun shalat tarawih berjama’ah. Ada yang tadarus al-Qur’an di
serambi, ada yang kemudian beri’tikaf dan lain sebagainya. Terlihat memang
bulan Ramadhan berbeda dengan sebelas bulan yang lain.
Disisi lain di bulan Ramadhan lah kita disyari’atkan puasa
yakni menahan diri dari makan dan minum
hal-hal yang membatalkan puasa dari waktu imsak hingga waktu
berkumandang adzan maghrib. Secara substansi puasa menyuruh kita untuk menahan
diri dari segala keinginan duniawi, menahan hawa nafsu kita. Serta mengajak
kita melatih daya juang untuk sesama manusia.
Menjelang hari raya Idul fitri, atau dalam budaya Indonesia
disebut “lebaran”. Kewajiban Zakat Fitrah bagi yang mampu melatih jiwa sosial
kita terhadap sesama. Zakat fitrah berupa mensisihkan bahan pangan pokok juga
dapat mensucikan harta dari kotoran-kotoran yang tak halal atas rizqi yang kita
peroleh.
Ketika lebaran tiba, semuanya menyambut dengan teriakan Takbir,
Takbir. Sambutan takbir menandakan semuakaum muslimin sedang merayakan
kemenangan. yakni kemengan mengalahkan hawa nafsu selama Ramadhan. Senandung
“malam takbiran” menggema di seantero jagad raya menandakan semuanya sedang
berbahagia. Kegiatan takbir keliling juga turut meramaikan malam itu juga,
Bahkan sampai ada yang mengadakan konvoi jalanan segala.
Saya tidak tahu apakah sambutan kabahagiaan adalah karena
kemenangan mengalahkan hawa nafsu selama Ramadhan ataukah kebahagiaaan bulan
Ramadhan telah usai seningga dapat melampiaskan apa-apa yang dilarang selama
ramadhan. Lantas apakah kebahagiaan saat lebaran tiba adalah kerena kita bias
melampiaskan nafsu kita sehingga lupa dengan ibadah khusyuk selama Ramadhan?
“Saya bayangkan kalau
Allah “Ikut berlebaran”, bagaimana nasib saya dan kita semua. Kalau Tuhan tak
berpuasa lagi, habislah kita. Kalau ia tak menahan diri, mampuslah kehidupan
kita. Kalau Allah tak menahan diri sekarang ini untuk menghukum kekufuran kita,
apa jadinya?” tulis seorang budayawan terkenal dalam tulisannya. Coba
dibayangkan sederhana saja, bagaimana kalau Allah tidak berada di dekat kita
dan menemani kita. Di tarik sebentar saja rizqi kesehatan kita, lantas kita mau
mengeluh kapada siapa?
Justru bulan ramadhan dengan segala keistimewaan fasilitas hanyalah media kita
untuk melatih diri berpuasa. Kenapa dikatakan melatih berpuasa? Karena puasa di
bulan Ramadhan menggembleng kita untuk mempersiapkan puasa yang sebenarnya.
Yakni di sebelas bulan lainnya dimana setan-setan tak lagi dibelenggu sehingga
kita dihadapkan dengan godhaan syetan dunia yang sebenarnya. Kita diuji apakah
kita akan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan ataukah kembali kufur.
Semoga disisa malam bulan Ramadhan ini kita bias mengambil
pelajaran sebaik-baiknya sehingga kita dapat termasuk orang yang memperoleh
malam laylatul Qodar. Amiin.

No comments:
Post a Comment