Friday, 31 January 2014

Seri Gagal Move On, Episod “Manyunnya Sang Naga”

Suatu sore di mabes Koloni Utara, tepatnya dua hari sebelum
kami terpisah pulau, Suhdi ndilalah bertanya, “Mas, mas Meko itu
kelihatan hidupnya kayak nggak punya masalah, ya? Kerjanya di
pondok ustad Yoyok itu, kan? Kelihatannya tenang aja.”
He… pertanyaan jujur dari serdadu muda yang sedang dalam masa
pencarian. Saya tersenyum. Bagus. Pertanyaan yang bagus.
Sayangnya, saya tidak bisa memberikan jawaban yang panjang dan
mendalam.
 
“Suhdi,” jawab saya, “begitulah kalau seseorang sudah memilih
jalan hidupnya. Mungkin Meko merasa telah mendapatkan teman-teman
yang satu visi dengannya. Jadi, dia tidak akan mengeluhkan
pilihannya.”
Suhdi lantas terdiam. Mungkin dia tidak terpuaskan dengan jawaban
barusan. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
 
Gara-gara pertanyaan barusan, saya jadi teringat saat Meko
memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai tenaga
pemberdaya petani di desa-desa. Padahal gajinya tergolong lumayan
untuk standar DIY. Alasan yang disampaikannya pada saya waktu itu
terkait idealisme pribadi. Pakem yang telah ia tentukan yang tidak
boleh terusik oleh atasannya sekalipun. Intinya, Meko rela
diterjunkan di desa terpencil, bergulat ide dengan kekolotan warga
tertinggal, menempati rumah kontrakan kecil berbulan-bulan lamanya,
bukan semata-mata mengejar upah yang layak, tapi lebih kepada
niatan untuk mengabdikan diri.
Dulu saya santai menanggapi keputusannya itu. Toh, ijazah S1
Kehutanan UGM-nya masih layak ditawarkan kesana-kemari. Tapi, itu
kalau Meko mau jadi hamba Allah dengan tantangan hidup di bawah
standar yang telah ditetapkannya sendiri. Nyatanya, Meko tidak
seperti itu.
Baiklah. Saya pikir cukup untuk mengisahkan pekerjaan Meko di fase
awal lepas status sebagai mahasiswa. Berikutnya saya akan
menuturkan cerita saat awal berkenalan dengannya yang menjuluki
dirinya sendiri sebagai Naga (terinspirasi dari film ’9 Naga’ yang
bintang utamanya, Fauzi Baadila, diaku-aku mirip dengannya).