Suatu sore di mabes Koloni Utara, tepatnya dua hari sebelum
kami terpisah pulau, Suhdi ndilalah bertanya, “Mas, mas Meko itu
kelihatan hidupnya kayak nggak punya masalah, ya? Kerjanya di
pondok ustad Yoyok itu, kan? Kelihatannya tenang aja.”
He… pertanyaan jujur dari serdadu muda yang sedang dalam masa
pencarian. Saya tersenyum. Bagus. Pertanyaan yang bagus.
Sayangnya, saya tidak bisa memberikan jawaban yang panjang dan
mendalam.
kami terpisah pulau, Suhdi ndilalah bertanya, “Mas, mas Meko itu
kelihatan hidupnya kayak nggak punya masalah, ya? Kerjanya di
pondok ustad Yoyok itu, kan? Kelihatannya tenang aja.”
He… pertanyaan jujur dari serdadu muda yang sedang dalam masa
pencarian. Saya tersenyum. Bagus. Pertanyaan yang bagus.
Sayangnya, saya tidak bisa memberikan jawaban yang panjang dan
mendalam.
“Suhdi,” jawab saya, “begitulah kalau seseorang sudah memilih
jalan hidupnya. Mungkin Meko merasa telah mendapatkan teman-teman
yang satu visi dengannya. Jadi, dia tidak akan mengeluhkan
pilihannya.”
Suhdi lantas terdiam. Mungkin dia tidak terpuaskan dengan jawaban
barusan. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
jalan hidupnya. Mungkin Meko merasa telah mendapatkan teman-teman
yang satu visi dengannya. Jadi, dia tidak akan mengeluhkan
pilihannya.”
Suhdi lantas terdiam. Mungkin dia tidak terpuaskan dengan jawaban
barusan. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
Gara-gara pertanyaan barusan, saya jadi teringat saat Meko
memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai tenaga
pemberdaya petani di desa-desa. Padahal gajinya tergolong lumayan
untuk standar DIY. Alasan yang disampaikannya pada saya waktu itu
terkait idealisme pribadi. Pakem yang telah ia tentukan yang tidak
boleh terusik oleh atasannya sekalipun. Intinya, Meko rela
diterjunkan di desa terpencil, bergulat ide dengan kekolotan warga
tertinggal, menempati rumah kontrakan kecil berbulan-bulan lamanya,
bukan semata-mata mengejar upah yang layak, tapi lebih kepada
niatan untuk mengabdikan diri.
memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai tenaga
pemberdaya petani di desa-desa. Padahal gajinya tergolong lumayan
untuk standar DIY. Alasan yang disampaikannya pada saya waktu itu
terkait idealisme pribadi. Pakem yang telah ia tentukan yang tidak
boleh terusik oleh atasannya sekalipun. Intinya, Meko rela
diterjunkan di desa terpencil, bergulat ide dengan kekolotan warga
tertinggal, menempati rumah kontrakan kecil berbulan-bulan lamanya,
bukan semata-mata mengejar upah yang layak, tapi lebih kepada
niatan untuk mengabdikan diri.
Dulu saya santai menanggapi keputusannya itu. Toh, ijazah S1
Kehutanan UGM-nya masih layak ditawarkan kesana-kemari. Tapi, itu
kalau Meko mau jadi hamba Allah dengan tantangan hidup di bawah
standar yang telah ditetapkannya sendiri. Nyatanya, Meko tidak
seperti itu.
Kehutanan UGM-nya masih layak ditawarkan kesana-kemari. Tapi, itu
kalau Meko mau jadi hamba Allah dengan tantangan hidup di bawah
standar yang telah ditetapkannya sendiri. Nyatanya, Meko tidak
seperti itu.
Baiklah. Saya pikir cukup untuk mengisahkan pekerjaan Meko di fase
awal lepas status sebagai mahasiswa. Berikutnya saya akan
menuturkan cerita saat awal berkenalan dengannya yang menjuluki
dirinya sendiri sebagai Naga (terinspirasi dari film ’9 Naga’ yang
bintang utamanya, Fauzi Baadila, diaku-aku mirip dengannya).
sumber cerita : http://kopralisikepala.wordpress.com/
awal lepas status sebagai mahasiswa. Berikutnya saya akan
menuturkan cerita saat awal berkenalan dengannya yang menjuluki
dirinya sendiri sebagai Naga (terinspirasi dari film ’9 Naga’ yang
bintang utamanya, Fauzi Baadila, diaku-aku mirip dengannya).
Tahun 2010. Perkenalan baru dimulai ketika Posko HTI Peduli
Korban Erupsi Merapi, hampir satu bulan berdiri di dekat pusat
pengungsian, Estadio Maguwoharjo. Kebetulan saya dan Meko
sama-sama jadi petugas jaga disana. Memang tidak setiap hari, tapi
wajah Meko sering saya lihat penampakannya di posko. Entah kenapa,
pada suatu siang saya jadi berminat membuka obrolan dengannya.
Padahal, raut wajahnya sama sekali tidak menggambarkan keramahan.
Cool. Terlalu cool bagi saya. Duduk diam dari datang sampai pulang,
Meko hanya sibuk memperhatikan relawan-relawan lain yang seliweran.
Korban Erupsi Merapi, hampir satu bulan berdiri di dekat pusat
pengungsian, Estadio Maguwoharjo. Kebetulan saya dan Meko
sama-sama jadi petugas jaga disana. Memang tidak setiap hari, tapi
wajah Meko sering saya lihat penampakannya di posko. Entah kenapa,
pada suatu siang saya jadi berminat membuka obrolan dengannya.
Padahal, raut wajahnya sama sekali tidak menggambarkan keramahan.
Cool. Terlalu cool bagi saya. Duduk diam dari datang sampai pulang,
Meko hanya sibuk memperhatikan relawan-relawan lain yang seliweran.
Yang saya ingat, basa-basi pertama adalah komentar saya mengenai
foto-foto harimau Sumatera yang sedang ia tampilkan di laptopnya.
Dari itu, obrolan berkembang pada nama, kampus, sampai ke tempat
tinggal kakaknya yang dekat dengan lokasi KKN saya, beberapa bulan
sebelum erupsi Merapi. Setelah posko ditutup, pertemuan ke-dua
kami mengambil tempat di Pengasih, Kulon Progo.
Ya, di rumah kakaknya itu.
foto-foto harimau Sumatera yang sedang ia tampilkan di laptopnya.
Dari itu, obrolan berkembang pada nama, kampus, sampai ke tempat
tinggal kakaknya yang dekat dengan lokasi KKN saya, beberapa bulan
sebelum erupsi Merapi. Setelah posko ditutup, pertemuan ke-dua
kami mengambil tempat di Pengasih, Kulon Progo.
Ya, di rumah kakaknya itu.
Saya yang baru pulang dari kunjungan ke bekas lokasi KKN, Clapar,
mengunjunginya di rumah itu sesuai janji. Kami berdua bertukar
banyak cerita. Meko mengaku pernah lalui lokasi KKN saya. Dan saya
merasa senang ada orang lain yang turut mengenal lokasi yang indah
itu.
mengunjunginya di rumah itu sesuai janji. Kami berdua bertukar
banyak cerita. Meko mengaku pernah lalui lokasi KKN saya. Dan saya
merasa senang ada orang lain yang turut mengenal lokasi yang indah
itu.
Sejak itu, ketika saya hendak ke Clapar, mesti bertanya dulu pada
Meko bila memungkinkan untuk bertemu. Lagipula Meko hampir selalu
stay on di Kulon Progo sejak resmi ditempatkan Dompet Dhuafa di
Kecamatan Temon.
Meko bila memungkinkan untuk bertemu. Lagipula Meko hampir selalu
stay on di Kulon Progo sejak resmi ditempatkan Dompet Dhuafa di
Kecamatan Temon.
Begitulah. Pertemuan kami makin intens, baik di Kulon Progo maupun
di Jogja. Dari kenal biasa, jadi teman ngobrol yang hangat, sampai
bersahabat.
di Jogja. Dari kenal biasa, jadi teman ngobrol yang hangat, sampai
bersahabat.
Tapi, saya akan jujur bercerita. Dari sekian banyak kenalan, hanya
kepada Meko-lah saya butuh waktu cukup lama untuk memahami
karakternya. Bukan soal temperamen, karena itu cepat dipahami.
Melainkan kebiasaannya yang unik dan susah ditebak.
Bila seseorang dengan mudah ditebak, apakah sedang serius atau
bercanda, maka Meko sebaliknya. Dia amat lihai membuat orang
terlena dengan mimik dan intonasinya, sehingga candaan bisa
dianggap serius. Bahkan saya sendiri masih sering tertipu.
Satu contoh. Menjelang tengah malam, Meko mengirimkan pesan singkat
yang bertuliskan, “Eskalasi getaran Merapi meningkat”, lanjutannya
saya lupa. Yang jelas ada kata “erupsi” dan “waspada”.
Bayangkan, ketika pagi harinya sudah ada berita di TV terkait
Merapi, menjelang tengah malam saya di sms demikian. Kontan saja
saya yang masih facebook-an menyebarkan info yang sama.
Elah dalah, dua hari kemudian saya baru sadar kalau SMS yang
diterima terkait dengan kelahiran anak pertamanya Meko.
Ternyata, kata “eskalasi” dan “getaran” mewakili “kontraksi”.
Sedangkan “erupsi” dimaksudkan “keluarnya bayi dari rahim”.
Bajigur tenanan! Saya sampai menggemeretakkan gigi saking gemasnya.
kepada Meko-lah saya butuh waktu cukup lama untuk memahami
karakternya. Bukan soal temperamen, karena itu cepat dipahami.
Melainkan kebiasaannya yang unik dan susah ditebak.
Bila seseorang dengan mudah ditebak, apakah sedang serius atau
bercanda, maka Meko sebaliknya. Dia amat lihai membuat orang
terlena dengan mimik dan intonasinya, sehingga candaan bisa
dianggap serius. Bahkan saya sendiri masih sering tertipu.
Satu contoh. Menjelang tengah malam, Meko mengirimkan pesan singkat
yang bertuliskan, “Eskalasi getaran Merapi meningkat”, lanjutannya
saya lupa. Yang jelas ada kata “erupsi” dan “waspada”.
Bayangkan, ketika pagi harinya sudah ada berita di TV terkait
Merapi, menjelang tengah malam saya di sms demikian. Kontan saja
saya yang masih facebook-an menyebarkan info yang sama.
Elah dalah, dua hari kemudian saya baru sadar kalau SMS yang
diterima terkait dengan kelahiran anak pertamanya Meko.
Ternyata, kata “eskalasi” dan “getaran” mewakili “kontraksi”.
Sedangkan “erupsi” dimaksudkan “keluarnya bayi dari rahim”.
Bajigur tenanan! Saya sampai menggemeretakkan gigi saking gemasnya.
Itu belum kebiasaan lainnya yang hobi menjuluki orang-orang dengan
tokoh atau selebriti yang punya kemiripan atau tidak mirip sama
sekali. Misalnya Nizar yang dianggap mirip dengan Ence Bagus.
Pak Nopriadi dengan chef Vindex Tenker. Atau ustad Tindyo yang
dijuluki Mr. Omura.
tokoh atau selebriti yang punya kemiripan atau tidak mirip sama
sekali. Misalnya Nizar yang dianggap mirip dengan Ence Bagus.
Pak Nopriadi dengan chef Vindex Tenker. Atau ustad Tindyo yang
dijuluki Mr. Omura.
Yach, Meko masih jauh lebih unggul dibanding saya dalam hal
pengetahuan umum. Terlebih dia penggemar novel-novel karya
Pramoedya, Emha, dan lain-lain, yang menjadikan saya lebih nyaman
duduk diam sebagai pendengar setia ulasannya.
Saya baru bisa mengimbanginya ketika obrolan mengarah ke topik
sepakbola, Naruto versus One Piece, atau tebak-tebakan mengenai
isu sebenarnya dari setiap berita politik yang dikendalikan mass
media.
pengetahuan umum. Terlebih dia penggemar novel-novel karya
Pramoedya, Emha, dan lain-lain, yang menjadikan saya lebih nyaman
duduk diam sebagai pendengar setia ulasannya.
Saya baru bisa mengimbanginya ketika obrolan mengarah ke topik
sepakbola, Naruto versus One Piece, atau tebak-tebakan mengenai
isu sebenarnya dari setiap berita politik yang dikendalikan mass
media.
Sebelum saya akhiri, saya ingin meminta maaf kepada istri Meko,
mbak Wulan Jameela (Meko pernah ngaku mirip Ahmad Dhani), atas
tulisan fiksi yang menyinggung rokok merek Cigarillos.
Sungguh, yang saya tulis dalam “Namanya Chintya”, murni tanpa
sepengetahuan Meko. Dan satu lagi, kisah mengenai kebaikan
Muhammad Eko Nurcahyo, alias Meko Naga, alias Ki Ageng Manyun,
yang pernah memberikan 10 ekor domba untuk warga Clapar 2, plus
kemurahan hatinya yang mengenalkan konsep “jalan sunyi” pada saya,
akan dituangkan dalam lembar yang berbeda.
mbak Wulan Jameela (Meko pernah ngaku mirip Ahmad Dhani), atas
tulisan fiksi yang menyinggung rokok merek Cigarillos.
Sungguh, yang saya tulis dalam “Namanya Chintya”, murni tanpa
sepengetahuan Meko. Dan satu lagi, kisah mengenai kebaikan
Muhammad Eko Nurcahyo, alias Meko Naga, alias Ki Ageng Manyun,
yang pernah memberikan 10 ekor domba untuk warga Clapar 2, plus
kemurahan hatinya yang mengenalkan konsep “jalan sunyi” pada saya,
akan dituangkan dalam lembar yang berbeda.
Semoga Allah jadi penawar tertinggi dalam acara lelang amal ibadah
yang melibatkan Meko selama ini. Sosok yang tidak jumawa menggelari
diri sebagai aktivis revolusi dari sekedar tulisan dan kata-kata,
melainkan langsung dari perbuatan yang menjadi bumbu manis-asam-
pahit-pedas kehidupan.
Kutitipkan Koloni Utara padamu juga.
yang melibatkan Meko selama ini. Sosok yang tidak jumawa menggelari
diri sebagai aktivis revolusi dari sekedar tulisan dan kata-kata,
melainkan langsung dari perbuatan yang menjadi bumbu manis-asam-
pahit-pedas kehidupan.
Kutitipkan Koloni Utara padamu juga.
sumber cerita : http://kopralisikepala.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment