Friday, 27 June 2014

Kuda Hitam


Bumi itu bulat bung! dan bola itu bundar !”celoteh seorang kawan yang baru saja menang taruhan main. Taruhan ini bukan main gaple, remi, sekak maupun kejuaraan karambol tingkat rt, tetapi taruhan tebak-tebakan kesebelasan mana yang menang. Bursa taruhan selalu berpihak pada tim bertabur bintang “ganteng” yang selalu menjadi faforit. Tetapi hasil pertandingan belum tentu begitu. Kanapa ? Lagi-lagi “Karena bola itu bundar bung !,”segala kemungkinan masih bisa terjadi.


Mengejutkan ! Atletico Madrid yang sebelumnya sama sekali tidak difaforitkan nyelonong tanpa permisi masuk final Liga Kampiun Eropa. Marah, putih, biru taplak meja melekat di jersey kandang mereka seolah berubah menjadi hitam legam bak kuda hitam yang sedang tiwikrama. Seperti mengulang final tahun lalu yang mengangkat Borussia Dortmund sebagai kuda hitam sesungguhnya, laga final ibaratnya mempertemukan antara David dengan Goliath.

“Bumi itu bulat bung! dan bola itu bundar !”
Saya masih ingat sekali dengan kata-kata itu. Saat semasa sekolah dulu saya tidak lah suci amat, saya sama teman-teman masih suka ber-judi. Tak tanggung-tanggung nasib kami jadi taruhannya. Kami sering taruhan kethakan atau jitak kepala kalau tim kesebelasan yang dijagokannya kalah.


Waktu itu saya masih sangat njawani sekali. Kalau ada dua kesebelasan bertanding, saya pasti memilih tim underdog. Bukan karena tahu analisa sepak bola, tapi karena kasihan sama tim kecil. Melihat tim lemah bertanding hati kecil saya tersentuh. Sama-sama merasakan rasanya jadi wong cilik, maka saya akan mendukung habis-habisan tim cilik itu tadi. Jadilah kepala saya sering menjadi sandsak jari tengah teman-teman saya itu.

Pernah sesekali kawan saya milih menjagokan tim underdog, kesempatan buat saya untuk membalas kethakan-nya. Eh, bukanya menang malah kalah. Ckckck, nasib lah kepala saya kena jitak lagi. Menggerutulah saya pada teman saya tadi “kok iso kowe menang meneh, padal jagomu kan kalahan !”(kok bisa kamu menang lagi, padahal jagomu kan sering kalah !” eh, dijawab dengan entengnya seperti pepatah diatas “Bumi itu bulat bung! dan bola itu bundar !”. Asyem tenan dalam bathin saya...

weleh, iki ditakoni tenanan, malah jawabe guyon!“(wah, ini di tanya serius, malah jawab kepo) gerutu saya. Ternyata jawabanya memang tidak lah“seriyus” amat. Tidak spaneng. Ternyata semua itu hanyalah kiasan. Coba dibayangkan kalau bumi dan bola bentuknya kotak atau kubus. Kira-kira apa yang terjadi? Mungkin bola menjadi susah untuk menggelinding. Mungkin juga pertandingan sepak bola akan selalu berakhir 0-0, karena kapan mau masuk ke areal gawang kalau bola  menjadi rebutan 22 orang pemain.

Kalau bumi bentuknya kubus, maka pastinya globe dan peta dunia takkan pernah ada. Bayangkan coba, dahulu para nenek moyang memetakan sebuah pulau, samudra bahkan menemukan benua baru melalui pelayaran. Kalau bumi berbentuk kubus lantas bagaimana nenek moyang melakukan pelayaran. Mungkin bisa dibayangkan betapa kaget wajahnya Cristopher Colombus ketika menemui samudra buntu di ujung dunia. Mungkin harus berurusan birokrasi samudra, untuk bisa berpindah dari sisi satu dengan sisi yang lain selama belum ditemukannya perawat terbang. Dan juga rasa-rasanya saat bumi berotasi, berputar pada porosnya tapi bentuknya kothak kok jadinya malah wagu, tidak pantas begitu.

Dengan bumi berbentuk bulat maka manusia bisa mengitari dunia. Dengan bola berbentuk bundar maka dia akan menggelinding dimana semua sisinya adalah satu. Walau terkadang berada diposisi atas atau berada di bawah, tetapi sejatinya adalah sama saja tidak ada yang diatas dan dibawah. Dan dari situlah segala kemungkinan masih memiliki peluang untuk terjadi. Kun fayakun.

Semuanya berkemungkinan dapat terjadi. Kun fayakun. Yang dibawah dapat melejit naik dan Yang di atas dapat terpeleset lengser turun tahta. Kun fayakun. Bahkan persoalan capres-cawapres tahun ini jauh dari ekspektasi sebelumnya. Keberuntungan kuda hitam memberikan kejutan dalam bursa taruhan. Walaupun diusung oleh partai klasik PDI-Perjuangan, nama Jokowi melejit pesat popularitasnya dalam dua tahun belakangan. Ini, ini bisa jadi kuda hitamnya! Tapi Prabowo menyentak, memberikan kejutan dari perolehan suara Gerindra yang pesat dibandingkan tahun 2009. Lha ini, mungkin ini kuda hitamnya! Lho kok semuanya kuda hitam ?

Atau mungkin keduanya bukan kuda hitam? mereka itu partai lama dan orang lama juga. PDI-P partai lama. Prabowo orang lama.
“bukan, mereka kuda hitam semuanya!”
“lho, kok kuda hitam semuanya?” balik tanya saya yang masih bingung.
“iya, mereka itu baru kuda nya saja, tapi investor-investor yang jadi majikannya belum tahu.”
“Mengejutkan !”jawab ku.

[mekonaga]

No comments:

Post a Comment