Saturday, 27 December 2014

Black Horse

          Earth is round bung! and the ball is circular! "chirped a friend who had just won a bet to play. This bet is not playing gaple, rummy, chess and carrom championship household level, but the stakes guessing game where the winning teams. Odds are always in favor of the star-studded team "handsome" which is always a favorite. But the outcome of the game is not necessarily so. why? Again, "Because the ball is round bung!," All possibilities can still happen.

          Shocking! Atletico Madrid who previously did not favored wandering without permis-sion entered the European Champions League final. Red, white, blue tablecloth jersey inherent in their cages turn black as jet black horse like being "tiwikrama". As a final repeat of last year which raised Borussia Dortmund as a real dark horse, supposing the final fight between David with Goliath reconcile.

          "The earth is round bung! and the ball is circular! "
          
          I still remember all the words. When during my first school was not very holy, I have friends still like air-gambling. Unmitigated our destiny is at stake. We often bet "kethakan" or "jitak" head when teams who championed his team lost.

          At that time I was still very "njawani". If there are two teams playing, I definitely chose the underdogs. Not knowing the analysis of football, but because of pity for small teams. Seeing the weak teams competed my little heart was touched. Equally feel great so little people, then I would support an all-out young team that was. Be the head I often become "sandsak" middle finger of my friends were.

Thursday, 13 November 2014

River not landfills

By M. Eko Nurcahyono

Yogyakarta city is located right between the peak of Mount Merapi in the north by the Indian Ocean in the south. This is the cause of DIY traversed much of the river that flows from the north and empties into the southern ashore. Call it the river Gendol, Kuning, Boyong, Opaque, Gajah Wong, Tambak Bayans, Winongo, Code, Progo and others. With it's mostly used as paddy irrigation water supply. Dams constructed so that the flow rate can be controlled and channeled to the rice fields.

Naturally these rivers drain the water from the top of Merapi to the Indian Ocean with a suspension of sand and dust Merapi volcanic deposits are still piling into upstream
Suspension of dust and sand are transported it that will restore the fertile soil in the lower reaches, especially along the banks of rivers and alluvial soil of rice fields in the valleys of Bantul and Kulon Progo and rehabilitate sand beaches along the south of the island of Java. This means that the existence of these rivers become very important for the sustainability and balance of land and water ecosystems. and not only provide water availability for the community Yogyakarta and surrounding areas.

But we realize it or not, today's society treats the river to go around. Humans still not wise to treat river properly. Now the river converted into landfills or household waste. Disposing of waste by throwing it into the river has started entrenched. Now the river water is no longer clean and healthy, it can even harm humans and the ecosystem as a whole.

When in fact, if cleanliness is maintained river, the river also has the potential to be a beautiful tourist destination object. If managed and developed tourism potential, the river can be interesting attractions, as well as a means of supporting education.

Take for example the Thuyul river located in the  Sumber Kidul
hamlet, Brebah subdistrict, Sleman regency. Thuyul river which is a subsidiary of times Opaque very useful for education and tourism. How not, there found two different rock types are separated by water flow. Igneous rock texture shaped pillow lava in the west of the river and sedimentary rocks with a layered texture on the east river. Very rarely found in Jogja river that separates two different rock types. But unfortunately, a lot of garbage strewn right under the bridge even cause an unpleasant smell. Most plastic waste that is likely intentionally discharged from the bridge.

The problem then, similar waste problem is not only found in the river only. River as an alternative to landfills seems to have been so badly implicated in our society. Appeal board which aims to maintain the cleanliness of the river seems to no longer be ignored. Things like this certainly can not be allowed because it would threaten inland water ecosystems as well as lowering the quality of river water quality standards.

If this is left unchecked, the physical properties of water such as odor, color and flavor will change. Water will rancid to foul when dissolved organic waste decomposes. When the dissolved organic material increases, there will be a change of color due to an increase in plankton or other microorganisms. So that the taste of the water will also be affected by the high levels of dissolved pollutants that contaminate the waters. Of course the content of pollutants also have an impact on the physical properties of water such as dissolved oxygen in the water (BOD), water temperature,
degree of acidity (ph) of water, and metals that are harmful to human health.

Obviously we need to be wise to not throw garbage in the river. Rivers is not the landfills. Throw garbage in the river is tantamount to poison themselves, their families and our own brothers. In addition, the necessary systemic and holistic treatment from the government to resolve the problem. Environmental education must be fostered both formally and informally. The role of families and communities in providing exemplary and control really should pioneered. In the process control, if still found violations should be prosecuted and sanctioned. Sanctions should be imposed also is socially sanctioned form of community service and environment. So that people truly understand and are aware of the preservation of nature around us.

Sungai bukan tempat pembuangan sampah

Oleh M. Eko Nurcahyono
Kota Yogyakarta berada tepat diantara puncak gunung Merapi di sebelah utara dengan samudera Hindia di sebelahselatan. Hal ini yang menjadi penyebab DIY dilalui banyak aliran sungai yang mengalir dari utara lalu bermuara kepantai selatan. Sebut saja kali (sungai) Gendol, Kuning, Boyong, Opak, Gajah Wong, Tambak bayan, Winongo, Code, Progo dan lain-lainnya. Dengan itu sebagian besar dimanfaatkan sebagai suplai air irigasi persawahan. Bendungan-bendungan dibangun supaya debit aliran dapat dikendalikan dan dialirkan ke areal persawahan.
Secara alami sungai-sungai tersebut mengalirkan air dari puncak merapi sampai samudera hindia dengan membawa suspensi pasir dan debu vulkanik Merapi yang masih menumpuk menjadi deposit di hulu sungai. Suspesi debu dan pasir yang terangkut itu yang nantinya akan merestorasi tanahsubur di bagian hilir terutama di sepanjang bantaran sungai dan tanah alluvial persawahan dilembah-lembah bantul dan kulon progo serta merehabilitasi pasir pantai di sepanjang selatan pulau Jawa. Artinya keberadaan sungai-sungai tersebut menjadi sangat penting bagi keberlangsungan dan  keseimbangan ekosistem daratan maupun perairan. serta tidak hanya memberikan ketersediaan air bagimasyarakat Jogja dan sekitarnya.
Tetapi disadari atau tidak, saat ini masyarakat memperlakukan sungai dengan seenaknya. Manusia masih belum bijak untuk memperlakukan sungai dengan semestinya. Kini sungai beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah maupun limbah rumah tangga. Membuang sampah dengan melemparkannya kesungai telah mulai membudaya. Kini air sungai pun tak lagi bersih dan sehat, bahkan dapat membahayakan umat manusia maupun ekosistem secara keseluruhan.

Friday, 27 June 2014

Kuda Hitam


Bumi itu bulat bung! dan bola itu bundar !”celoteh seorang kawan yang baru saja menang taruhan main. Taruhan ini bukan main gaple, remi, sekak maupun kejuaraan karambol tingkat rt, tetapi taruhan tebak-tebakan kesebelasan mana yang menang. Bursa taruhan selalu berpihak pada tim bertabur bintang “ganteng” yang selalu menjadi faforit. Tetapi hasil pertandingan belum tentu begitu. Kanapa ? Lagi-lagi “Karena bola itu bundar bung !,”segala kemungkinan masih bisa terjadi.


Mengejutkan ! Atletico Madrid yang sebelumnya sama sekali tidak difaforitkan nyelonong tanpa permisi masuk final Liga Kampiun Eropa. Marah, putih, biru taplak meja melekat di jersey kandang mereka seolah berubah menjadi hitam legam bak kuda hitam yang sedang tiwikrama. Seperti mengulang final tahun lalu yang mengangkat Borussia Dortmund sebagai kuda hitam sesungguhnya, laga final ibaratnya mempertemukan antara David dengan Goliath.

“Bumi itu bulat bung! dan bola itu bundar !”
Saya masih ingat sekali dengan kata-kata itu. Saat semasa sekolah dulu saya tidak lah suci amat, saya sama teman-teman masih suka ber-judi. Tak tanggung-tanggung nasib kami jadi taruhannya. Kami sering taruhan kethakan atau jitak kepala kalau tim kesebelasan yang dijagokannya kalah.

Saturday, 22 February 2014

Sastra tak hanya menggerogoti kesombonganku. (resensi buku Negeri Para Bedebah)


Inilah ajaipnya ilmu ekonomi, inflasi adalah fungsi dari ekspektasi.

Berapa tingkat inflasi tahun depan ? 8 persen ? 10 persen ?

Semua hasil dari perkiraan, antisipasi.

Berapa inflasi bulan depan ? 0.5 persen ? 1 persen ?

Semua keluar dari kalkulasi perkiraan, ekspektasi.

Ajaib bukan ?

 

Kita selama ini mempercayakan nasib perekonomian dunia,

Nasib periuk nasi banyak orang,

Dengan orang-orang yang dikelas diajarkan tetntang ekspektasi.

Bukankah itu tidak beda dengan para penyihir,

dukun, juru ramal, atau profasi dunia ghaib lain ?

[Tere Liye_Hal. 61-62]

 Buku yang satu ini tidaklah sembarang novel, sembarang cerita, atau sembarang laku di pasaran. Ia mengangkat isu, mengangkat fakta yang boleh jadi fiktif dengan merek dagang yang di palsukan. Tetapi bisa jadi fakta pelik yang sengaja diungkap dengan bumbu-bumbu sastra yang disamarkan. Ya begitulah sastra, karena boleh dikatakan sejak dari dahulu sastra akan berbicara jika media jurnalistik semuanya pada bungkam. Dan sastra akan menjadi alat informasi, alat edukasi, alat advokasi, alat provokasi bahkan propaganda sekalipun di saat situasi dan kondisi yang menentukan tepat.

 

“Kok bisa begitu?” tanya bang Badut kepadaku.

Ya kalau tidak benar demikian, mana mungkin ada puisi-puisi Taufik Ismail yang terkenal tajam di masa orba. Mungkinkah juga seorang  sastrawan Pramoedya Ananta Toer mendapat writes block, tidak diakui kredibilitasnya sebagai seorang jurnalis, reportase sejarah yang ia buat dalam bentuk jurnal dianggap palsu menjadikan semua karyanya di boikot, ditarik dari peredaran, sampai dibakar pemerintah orba, hingga dia diasingkan sampai pulau Buru segala. Kejam ? bahkan setelah pulang dari pengasingan ia berhati-hati dengan menyamarkannya menjadi tulisan sastra dan itu juga masih mengalami pembredelan.

 

Khusus karya Tere Liye yang satu ini sangat berbeda tidak seperti kebanyakan karya dia yang mengangkat kasih sayang, percintaan bahkan petualangan yang disajikan dalam bentuk roman. Tapi novel yang satu ini mengupas bobroknya sistem moneter dunia, mekanisme rapuhnya financial berbasis fiat money, fractional reserve requirement dan interest tiga pilar ekonomi yang disebut-sebut sebagai three pillar of evil dalam satanic finance, dampak sistemik yang ditimbulkan di kemudian hari dan tak hanya itu, novel ini menelanjangi siapa saja para bedebah yang menjadi aktor yang bekerja dibalik Negeri Para Bedebah itu semuanya. Tere Liye cukup beruntung, koretannya tidak dicekal karena ia tidak hidup pada masa orde baru.

 

Belum lupa dalam ingatan kita saat kita disajikan sebuah puzzle berita yang terus-terusan seolah tak ada ujungnya. Dari skandal dana talangan terhadap sebuah perbankan swasta yang sampai sekarang entah bagaimana kasusnya. Entah siapa saja pejabat yang terlibat atau bahkan dilibatkan dalam kasus tersebut, media lokal maupun nasional seolah lupa dengan kelanjutan dari kasus tersebut. Masih ingat juga headline-headline yang dimuat mudah sekali dibelokkan dari satu kasus ke kasus yang lain. Bahkan rakyat sudah kenyang dan muak dengan upaya pembelokan isu itu semua. Jadi dengan membaca Negeri Para Bedebah, pembaca diberikan petunjuk dari puzzle yang acak itu tadi. Seolah-olah Negeri Para Bedebah lah yang menjadi kunci jawaban atas teka teki politik. Tak ayal lagi, pembaca lantas diajak menerka-nerka siapa dan apa saja yang penulis maksudkan dalam novel Negeri Para Bedebah itu.

 

Persetan dengan sosok Thomas sebagai lakon utamanya, novel ini justru menunjukkan kebusukan semua pihak dari kedua belah korporasi yang berseteru sampai aparat-aparat korup dan rakus yang haus akan harta dan kekuasaan. Mereka mudah sekali menyuap dan disumpal dengan uang dengan bahasa yang halus yakni kesepakatan. Begitulah potret jadi konglongmerat. Tak hanya itu, para konglongmerasi itu pun berselingkuh dengan para pembuat kebijakan. Disitu ditampilkan bagaimana melobby pimpinan partai dalam sebuah konvesi bahkan kepada seorang menteri negara sekalipun. 

 

Dengan alul maju dan mundur serta pengungkapan kalimat yang unik dan menarik khas Tere Liye, maka buku ini dikategorikan sebagai buku layak baca bahkan sangat disarankan untuk punya sendiri, walaupun buku yang saya baca adalah pinjaman dari seorang teman.

 

[@mekoNaga]

 

Sastra tidak hanya menggrogoti kesombonganku,

atau selalu mengajakku dalam suasana keikhlasan

tentang pemberian Tuhan padaku,

namun ia juga kerab mengantarku dalam keresahan atas kenyamanan hidup,

dengan caranya sendiri !!!

_momon_

 

Judul                                        : Negeri Para Bedebah
Penulis                                     : Tere Liye
Desain & ilustrasi sampul       : eMTe
Penerbit                                   : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit                                       : September 2012 (Cetakan Kedua)
Tebal                                       : 440 hlm.
ISBN                                       : 978-979-22-8552-9
 

 
 

Friday, 31 January 2014

Seri Gagal Move On, Episod “Manyunnya Sang Naga”

Suatu sore di mabes Koloni Utara, tepatnya dua hari sebelum
kami terpisah pulau, Suhdi ndilalah bertanya, “Mas, mas Meko itu
kelihatan hidupnya kayak nggak punya masalah, ya? Kerjanya di
pondok ustad Yoyok itu, kan? Kelihatannya tenang aja.”
He… pertanyaan jujur dari serdadu muda yang sedang dalam masa
pencarian. Saya tersenyum. Bagus. Pertanyaan yang bagus.
Sayangnya, saya tidak bisa memberikan jawaban yang panjang dan
mendalam.
 
“Suhdi,” jawab saya, “begitulah kalau seseorang sudah memilih
jalan hidupnya. Mungkin Meko merasa telah mendapatkan teman-teman
yang satu visi dengannya. Jadi, dia tidak akan mengeluhkan
pilihannya.”
Suhdi lantas terdiam. Mungkin dia tidak terpuaskan dengan jawaban
barusan. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
 
Gara-gara pertanyaan barusan, saya jadi teringat saat Meko
memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai tenaga
pemberdaya petani di desa-desa. Padahal gajinya tergolong lumayan
untuk standar DIY. Alasan yang disampaikannya pada saya waktu itu
terkait idealisme pribadi. Pakem yang telah ia tentukan yang tidak
boleh terusik oleh atasannya sekalipun. Intinya, Meko rela
diterjunkan di desa terpencil, bergulat ide dengan kekolotan warga
tertinggal, menempati rumah kontrakan kecil berbulan-bulan lamanya,
bukan semata-mata mengejar upah yang layak, tapi lebih kepada
niatan untuk mengabdikan diri.
Dulu saya santai menanggapi keputusannya itu. Toh, ijazah S1
Kehutanan UGM-nya masih layak ditawarkan kesana-kemari. Tapi, itu
kalau Meko mau jadi hamba Allah dengan tantangan hidup di bawah
standar yang telah ditetapkannya sendiri. Nyatanya, Meko tidak
seperti itu.
Baiklah. Saya pikir cukup untuk mengisahkan pekerjaan Meko di fase
awal lepas status sebagai mahasiswa. Berikutnya saya akan
menuturkan cerita saat awal berkenalan dengannya yang menjuluki
dirinya sendiri sebagai Naga (terinspirasi dari film ’9 Naga’ yang
bintang utamanya, Fauzi Baadila, diaku-aku mirip dengannya).