Oleh : Meko Naga1
Bila pohon terakhir sudah ditebang,
bila udara terakhir sudah tercemar,
bila sungai terakhir sudah mengering,
bila ikan terakhir sudah mati,
maka, manusia akan sadar
bahwa ia tak bisa makan uang
bila udara terakhir sudah tercemar,
bila sungai terakhir sudah mengering,
bila ikan terakhir sudah mati,
maka, manusia akan sadar
bahwa ia tak bisa makan uang
(Fathoni Hananto2,
on facebook3 04 Juli jam 21:17)
Indonesia yang sebagian besar
penduduknya bermata pencaharian petani sampai saat ini belum mencapai
kedaulatan pangan. Indonesia yang kaya akan hasil alam tetapi faktanya tak
mampu menyuplai kebutuhan pangan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan pangan
dalam negeri, Indonesia harus mengimpor. Tidak tanggung-tanggung, Impor pangan
Indonesia mencapai 63% (www.centroone.com/news/2011/03/)
Program GO-Organik telah
dicanangkan Departemen Pertanian pada 2010, dengan harapan Indonesia dapat
menjadi salah satu Negara penghasil
produk pangan organic yang dapat mengisi pasar dunia. Tetapi keluarnya
Peraturan Menteri keuangan No.13/PMK.011/2011
yang memberlakukan bebas bea masuk untuk 57 komoditas pangan jelas-jelas menghambat
upaya Indonesia mencapai cita-cita tersebut.
Alih-alih produksi pangan
organic yang sehat mampu dihasilkan, kemampuan produksi pangan pangan dalam
negeri pun sekiranya lemah. Karena keran impor untuk komoditas seperti gandum,
kedelai, bahan baku pupuk, bahan baku pakan ternak, gula, beras dan lain-lain
nyata-nyata telah dibuka. Selain itu dampak yang kentara adalah kebijakan itu
telah memposisikan petani berada pada posisi yang semakin sulit.
Disisi lain angka ramalan (Aram)
II yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik)
memproyeksikan tahun 2011 surplus sebesar 5 juta ton beras(Kedaulatan
Rakyat,13 july 2011). Ditambah dengan surplus 2010 3,9 juta ton beras
seharusnya menjadikan acuan untuk meniadakan impor beras. Kenyataannya justru
terbalik, pada saat yang sama Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan
memutuskan perlunya impor beras.
Hipotesis yang kemudian muncul
adalah kapankah ketahanan pangan di Indonesia akan terwujud? Mungkinkah hal itu
terjadi? Mampukah pertanian organik menjadi jawaban atas ketahanan pangan
Indonesia? Ataukah pertanian organik hanyalah sebuah kampanye saja yang
terpampang diposter-poster dan hanya menjadi wacana yang indah saja? Mari kita
kupas jauh lebih dalam!
Sejarah Pertanian
Pertanian padi sebenarnya sudah
membudaya di kehidupan masyarakat khususnya di pulau Jawa. Para petani
memperoleh ilmunya secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Dahulu mereka
ketika bertani terutama budidaya padi bisa dikatakan sangat tradisional. Mereka
belum mengenal pupuk kimia. Pengakayaan unsure hara biasanya dilakukan dengan
memberikan bahan-bahan organik seperti : sampah daun, abu pembakaran, kapur
dolomit, sekam padi, jerami dll. Saat itu belum ada pestisida. Mereka
menggunakan ilmu titen mangsa4
dan memilih menggunakan jenis-jenis padi tertentu dalam menghadapi berbagai
kondisi lingkungan tersebut seperti adanya padi gogo yang toleran tanpa adanya
penggenangan air dan padi rawa yang beradaptasi dengan pasang surut air rawa.
Selain itu banyak juga beraneka
ragam jenis beras yang dihasilkan seperti beras biasa, beras merah, beras
hitam, beras ketan, dan beras ketan hitam. Kalau kita mengenal Rajalele dan
Cianjur Pandan Wangi itu termasuk beras aromatic yang mengeluarkan senyawa
aromatik saat ditanak sehingga dapat tercium wangi aroma nasinya. Jenis-jenis
tersebut dan sebenarnya masih banyak lagi yang berkembang di petani dan
dikomsumsi masyarakat pada waktu itu.
Munculnya program Pelita I yang
bertujuan untuk meningkatkan produksi beras, petani di suplai pupuk kimia
melalui KUD-KUD5 yang dibentuk pemerintah Orde baru6
waktu itu. Awal-awalnya muncul pupuk kimia masih dianggap asing bagi petani.
Lama-kelamaan ketika mereka merasakan adanya peningkatan produksi padi, petani
mulai meninggalkan tradisi lama dan menggantinya dengan pupuk kimia. Alhasil
hasil produksi pertanian padi meningkat.
Perkembangannya untuk mengatasi
hama terutama wereng, muncullah program penggunaan benih-benih VUTW(varietas
unggul tahan wereng). Selain benih VUTW juga mulai digalakkan jenis padi dari bibit
hibrida untuk memperoleh hasil tanaman yang maksimal. Konon padi hibrida dapat
berproduksi hingga 12 Ton per hektar dan menghasilkan nasi yang pulen(www.gerbangpertanian.com/2011/01/2). Petani mana yang tidak tergiur dengan hasil produksi tersebut?
Kebijakan pertanian era
reformasi lebih mengerikan lagi, sebagaimana paparan awal diatas bahwa
paradigmanya pembangunan pertanian era reformasi adalah meletakkan petani sebagai
subyek sementara pemerintah hanya berfunsi sebagai regulator maupun fasilitator
saja. Artinya masing-masing petani bersaing dengan petani lainnya dalam
memperloleh pangsa pasar pangan. maka peningkatan produksi pertanian berasal
dari usaha dan persaingan para petani..Dari hal tersebut produksi pertanian di
Indonesia diharapkan meningkat.
Serentetan Masalah
Semenjak dilakukan upaya
meningkatan produksi pertanian khususnya padi, masalah demi masalah muncul beriringan dan bergantian seolah tak
henti-henti. Problem muncul dari yang sifatnya sederhana hingga yang lebih
kompleks atau rumit7. Contoh sederhana yang penulis jumpai menurut
penuturan petani di Kulon Progo adalah “intensifikasi pertanian dengan
memasukkan unsur hara kimia seperti urea, TSP, Phonska dll peroduksi padi kami
memang telah mengalami peningkatan, tetapi nasi yang kami makan menjadi kurang
enak dan lebih cepat basi”.
Munculnya padi hibrida petani
harus merogoh saku lebih dalam baik untuk pembelian bibitnya ataupununtuk
perawatan padinya seperti pupuk maupun pestisida. Karena padi hibrida
membutuhkan perawatan yang lebih hati-hati. Selain itu ketika serangan hama
menyerang, pestisida pun seakan tidak mempan untuk mengatasi serangannya. Karena
hama sudah mulai kebal terhadap penggunaan pestisida kimia tanpa penerapan
sisten pengendalian hama yang terpadu (PHT). Hal ini penulis dapati di Kulon
Progo, banyak petani merugi akibat serangan hama wereng yang luar biasa di
padi-padi mereka. Hal ini dikarenakan mereka mendapat bantuan benih padi
hibrida Intani dengan harga yang murah. Sebagian petani yang tergiur dengan
bantuan tersebut akhirnya harus melihat hasil pertaniannya yang sangat
mengecewakan.
Diakui atau tidak penggunaan
pestisida kimia buatan baik langsung maupun tidak langsung mampu merusak sistem kekebalan tubuh kita. Bagai
mana tidak, pestisida kimia merupakan zat yang bersifat toksin atau racun. Racun yang mengendap dalam tubuh melalui makanan
yang tercemar mampu merusak system sirkulasi(pmbuluh darah, paru-paru dan
jantung), organ-organ yang berfungsi
sebagai penyaring(hati dan ginjal), serta organ-organ pengeluaran.(epetani.deptan.go.id).
Akhirnya saat ini bisa kita jumpai banyak penyakit kronis bermunculan tiada
habisnya menyerang kesehatan manusia.
Dari segi kesejahteraan,
penggunaan benih hibrida telah menjadikan monopoli pasar bagi produsen benih
tersebut. Petani harus membeli benih setiap akan menanam padi, karena benih
hibrida tidak dapat ditanam kembali oleh petani. Hal ini telah menciptakan ketergantungan
petani terhadap pasokan maupun pasar benih.
Tidak hanya itu, petani juga
ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida kimia. Ketika kebijakan yang
cenderung Neo-Liberalisme pencabutan subsidi pupuk sehingga harga pupuk kian
merangkak. Jaritan petani yang tercekik pun hanya terdengar dalam hati karena
mau tidak mau mereka sudah sangat ketergantungan terhadap keberadaan pupuk
kimia. Mereka mau mengadukan kesiapa? Apakah ke fasilitator pertanian?
Adanya fasilitator dari dinas
pertanian tidak memberikan solusi bagi petani. Yang terjadi adalah fasilitator
entah itu penyuluh maupun pendamping, mereka menjadi lebih seperti sales produk
kesehatan tanaman daripada seorang aktivis pertanian. Tak pelak lagi masuknya
berbagai produk pestisida maupun suplemen8 tanaman yang
beranekaragam adalah karena mereka. Akibatnya petani tradisional bukannya
semakin pandai dan mampu bangkit secara mandiri, tetapi mereka menjadi konsumen
yang ketergantungan dengan berbagai produk obat-obatan.
Pengalaman penulis ketika
mencoba sambungroso dengan petani di
Kulon Progo cukup membuat rasa iba dan mengelus dada atas nasib mereka. Saat
musim panen harga gabah kering bersih sekitar2.800-3.300/kg. bagi petani yang
segera membutuhkan pendapatan hasil panen, mereka terpaksa menjual dalam bentu
gabah kering kotor seharga 2.200-2.700/kg karena gabah tidak sempat dijemur.
Sehingga dapat penulis simpulkan rata-rata pendapatan bersih petani 500ribu per
musim tanam atau selama 4 bulan. Jadi dapat penulis simpulkan bahwa petani masih
jauh dari angka kesejahteraan. Begitu sangat rapuh kemandirian petani saat ini.
Lantas bagaimana bisa mewujudkan ketahanan pangan di negeri sendiri dengan
kondisi tersebut.
Apa itu organic?
Kedaulatan pangan tidak hanya
bagaimana mensuplai kebutuhan pangan dalam negeri sehingga pembahasannya pada
seputar surplus9 ataukah defisit10. Akan tetapi masyarakat berhak mendapatkan bahan konsumsi
yang memang layak untuk mereka konsumsi. Pertanian organik yang dicanangkan
melalui program GO ORGANIK 2010 menurut penulis merupakan mozaik atas upaya
mewujudkan ketahanan pangan Indonesia. Hal ini daidasari dari beberapa
alasan; Pertama, sistem partanian organik
yang berprinsip kepada mengembalikan bahan yang berasal dari sawah dikembalikan
kesawah dirasa lebih hemat.
Ada banyak sekali contoh bahwa sistem
pertanian organik mampu menghemat pengeluaran bagi petani. Misalkan jerami sisa
dari panen padi dapat dikembalikan kesawah sehingga menjadi pupuk alami dilahan
persawahan. Kalaupun kerami digunakan sebagai pakan ternak sapi, maka
kotorannya pun dapat dikembalikan ke sawah atau sebagai pupuk kandang. Ataupun
pembuatan pestisida nabati yang bahan-bahannya berasal dari tanaman sekitar
kita seperti, daun mimba, daun mindi, brotowali, gadung, kecubung, kunyit,
lengkuas, tembakau, mahkota dewa dan tumbuhan biopestisida lainnya yang dapat
diolah menjadi insektisida, fungisida, rodentisida dll, akhirnya petani tidak
perlu lagi membeli pestisida yang harganya mahal.
Kedua, Sistem pertanian organik mampu
meningkatkan pendapatan petani. Karena saat ini harga beras organi jauh lebih
mahal dibandingkan beras biasa. Hal itu didasari atas dua alasan: (1)
produktifitas beras organik per hektarnya lebih tendah dibandingkan beras
biasa, (2) konsekuensi lainnya adalah kualitas beras organik jauh lebih sehat
dan lebih bagus, karena nasinya menjadi tidak cepat basi.
Ketiga¸Sistem pertanian organik mampu
membuat hidup jauh lebih sehat. Baik untuk kesehatan manusia maupun kesehatan
lingkungan seperti sitat fisik dan kimia tanah dan air maupun biota-biota yang
ada didalamnya karena terbebas dari residu bahan kimia dari pestisida. lahan-lahan
pertanian akan semakin bertambah subur dan diharapkan tidak terjadi lagi
serangan hama secara besar-besaran karena musuh alami dan predator terjaga kelestariannya.
Penggunaan agen hayati sebagai pengendali hama mampu menciptakan keseimbangan
ekosistem dan mencegah laju kepunahan genetik.
Merenungkan
kembali penggalan puisi pembuka esai ini, petani hanyalah salah satu problem
dari sekian banyak problem manusia seperti masyarakat pinggiran hutan
masyarakat pedalaman, masyarakat nelayan dll. Esai ini hanyalah sedikit potret
kehidupan dari masyarakat petani terutama pertanian padi di ekoseitem sawah
yang masih membutuhkan benyak perhatian dari para aktivis. Mungkin kalian lebih
mengenal masyarakat hutan dengan problem yang kurang lebih sama, yakni berkutat
pada persoalan pangan, sandang, dan papan. Tinggal bagaimana hatiku, hatimu dan
hati kita semuanya memiliki niatan untuk beranjak menuju pembangunan yang holistik
berbasis kearifan ataukah tidak. Yakni niatan tuntuk menerapkan dan menjalankan
sistem aturan yang memang seharusnya diterapkan untuk mengatur manusia dan
kehidupan ini, yakni Islam.
Catatan kaki yang korengan:
1)
Aktivis Lembaga Pertanian Sehat Dompet
Dhuafa Republika alumni Fak Kehutanan UGM angkatan 2005
2)
Teman penulis mahasiswa Fak Kehutannan
angkatan 2004
3)
Jejaring social dunia maya
4)
Meneliti musim
5)
Koperasi Unit Desa = Koperasi
yang dibentuk semasa ordebaru untuk mengedrop11
pupuk
6)
Orde dimana berkuasanya rezim
Suharto
7)
Ruwet alias Cunthel
8)
Tambahan makanan
9)
Kelebihan stok12
10)
Kekurangan stok
11)
Arti sensungguhnya menjatuhkan
tapi bermaksud mensuplai
12)
persediaan
Bro, iku bukan quote ku lho, itu "indian proverbs" (peribahasa suku indian)
ReplyDeletehehehe
Fathoni Hananto