Tuesday, 23 April 2013

Pertanian Organik menjawab Kedaulatan Pangan..?


Oleh : Meko Naga1

Bila pohon terakhir sudah ditebang,
bila udara terakhir sudah tercemar,
bila sungai terakhir sudah mengering,
bila ikan terakhir sudah mati,
maka, manusia akan sadar
bahwa ia tak bisa makan uang
(Fathoni Hananto2, on facebook3 04 Juli jam 21:17)
Indonesia yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian petani sampai saat ini belum mencapai kedaulatan pangan. Indonesia yang kaya akan hasil alam tetapi faktanya tak mampu menyuplai kebutuhan pangan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, Indonesia harus mengimpor. Tidak tanggung-tanggung, Impor pangan Indonesia mencapai 63% (www.centroone.com/news/2011/03/)
Program GO-Organik telah dicanangkan Departemen Pertanian pada 2010, dengan harapan Indonesia dapat menjadi salah satu Negara  penghasil produk pangan organic yang dapat mengisi pasar dunia. Tetapi keluarnya Peraturan  Menteri keuangan No.13/PMK.011/2011 yang memberlakukan bebas bea masuk untuk 57 komoditas pangan jelas-jelas menghambat upaya Indonesia mencapai cita-cita tersebut.
Alih-alih produksi pangan organic yang sehat mampu dihasilkan, kemampuan produksi pangan pangan dalam negeri pun sekiranya lemah. Karena keran impor untuk komoditas seperti gandum, kedelai, bahan baku pupuk, bahan baku pakan ternak, gula, beras dan lain-lain nyata-nyata telah dibuka. Selain itu dampak yang kentara adalah kebijakan itu telah memposisikan petani berada pada posisi yang semakin sulit.
Disisi lain angka ramalan (Aram) II yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik)  memproyeksikan tahun 2011 surplus sebesar 5 juta ton beras(Kedaulatan Rakyat,13 july 2011). Ditambah dengan surplus 2010 3,9 juta ton beras seharusnya menjadikan acuan untuk meniadakan impor beras. Kenyataannya justru terbalik, pada saat yang sama Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan memutuskan perlunya impor beras.
Hipotesis yang kemudian muncul adalah kapankah ketahanan pangan di Indonesia akan terwujud? Mungkinkah hal itu terjadi? Mampukah pertanian organik menjadi jawaban atas ketahanan pangan Indonesia? Ataukah pertanian organik hanyalah sebuah kampanye saja yang terpampang diposter-poster dan hanya menjadi wacana yang indah saja? Mari kita kupas jauh lebih dalam!


Sejarah Pertanian
Pertanian padi sebenarnya sudah membudaya di kehidupan masyarakat khususnya di pulau Jawa. Para petani memperoleh ilmunya secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Dahulu mereka ketika bertani terutama budidaya padi bisa dikatakan sangat tradisional. Mereka belum mengenal pupuk kimia. Pengakayaan unsure hara biasanya dilakukan dengan memberikan bahan-bahan organik seperti : sampah daun, abu pembakaran, kapur dolomit, sekam padi, jerami dll. Saat itu belum ada pestisida. Mereka menggunakan ilmu titen mangsa4 dan memilih menggunakan jenis-jenis padi tertentu dalam menghadapi berbagai kondisi lingkungan tersebut seperti adanya padi gogo yang toleran tanpa adanya penggenangan air dan padi rawa yang beradaptasi dengan pasang surut air rawa.
Selain itu banyak juga beraneka ragam jenis beras yang dihasilkan seperti beras biasa, beras merah, beras hitam, beras ketan, dan beras ketan hitam. Kalau kita mengenal Rajalele dan Cianjur Pandan Wangi itu termasuk beras aromatic yang mengeluarkan senyawa aromatik saat ditanak sehingga dapat tercium wangi aroma nasinya. Jenis-jenis tersebut dan sebenarnya masih banyak lagi yang berkembang di petani dan dikomsumsi masyarakat pada waktu itu.
Munculnya program Pelita I yang bertujuan untuk meningkatkan produksi beras, petani di suplai pupuk kimia melalui KUD-KUD5 yang dibentuk pemerintah Orde baru6 waktu itu. Awal-awalnya muncul pupuk kimia masih dianggap asing bagi petani. Lama-kelamaan ketika mereka merasakan adanya peningkatan produksi padi, petani mulai meninggalkan tradisi lama dan menggantinya dengan pupuk kimia. Alhasil hasil produksi pertanian padi meningkat.
Perkembangannya untuk mengatasi hama terutama wereng, muncullah program penggunaan benih-benih VUTW(varietas unggul tahan wereng). Selain benih VUTW juga mulai digalakkan jenis padi dari bibit hibrida untuk memperoleh hasil tanaman yang maksimal. Konon padi hibrida dapat berproduksi hingga 12 Ton per hektar dan menghasilkan nasi yang pulen(www.gerbangpertanian.com/2011/01/2). Petani mana yang tidak tergiur dengan  hasil produksi tersebut?
Kebijakan pertanian era reformasi lebih mengerikan lagi, sebagaimana paparan awal diatas bahwa paradigmanya pembangunan pertanian era reformasi adalah meletakkan petani sebagai subyek sementara pemerintah hanya berfunsi sebagai regulator maupun fasilitator saja. Artinya masing-masing petani bersaing dengan petani lainnya dalam memperloleh pangsa pasar pangan. maka peningkatan produksi pertanian berasal dari usaha dan persaingan para petani..Dari hal tersebut produksi pertanian di Indonesia diharapkan meningkat.
Serentetan Masalah
Semenjak dilakukan upaya meningkatan produksi pertanian khususnya padi, masalah demi masalah muncul  beriringan dan bergantian seolah tak henti-henti. Problem muncul dari yang sifatnya sederhana hingga yang lebih kompleks atau rumit7. Contoh sederhana yang penulis jumpai menurut penuturan petani di Kulon Progo adalah “intensifikasi pertanian dengan memasukkan unsur hara kimia seperti urea, TSP, Phonska dll peroduksi padi kami memang telah mengalami peningkatan, tetapi nasi yang kami makan menjadi kurang enak dan lebih cepat basi”.
Munculnya padi hibrida petani harus merogoh saku lebih dalam baik untuk pembelian bibitnya ataupununtuk perawatan padinya seperti pupuk maupun pestisida. Karena padi hibrida membutuhkan perawatan yang lebih hati-hati. Selain itu ketika serangan hama menyerang, pestisida pun seakan tidak mempan untuk mengatasi serangannya. Karena hama sudah mulai kebal terhadap penggunaan pestisida kimia tanpa penerapan sisten pengendalian hama yang terpadu (PHT). Hal ini penulis dapati di Kulon Progo, banyak petani merugi akibat serangan hama wereng yang luar biasa di padi-padi mereka. Hal ini dikarenakan mereka mendapat bantuan benih padi hibrida Intani dengan harga yang murah. Sebagian petani yang tergiur dengan bantuan tersebut akhirnya harus melihat hasil pertaniannya yang sangat mengecewakan.
Diakui atau tidak penggunaan pestisida kimia buatan baik langsung maupun tidak langsung mampu  merusak sistem kekebalan tubuh kita. Bagai mana tidak, pestisida kimia merupakan zat yang bersifat toksin atau racun. Racun yang mengendap dalam tubuh melalui makanan yang tercemar mampu merusak system sirkulasi(pmbuluh darah, paru-paru dan jantung), organ-organ yang  berfungsi sebagai penyaring(hati dan ginjal), serta organ-organ pengeluaran.(epetani.deptan.go.id). Akhirnya saat ini bisa kita jumpai banyak penyakit kronis bermunculan tiada habisnya menyerang kesehatan manusia.
Dari segi kesejahteraan, penggunaan benih hibrida telah menjadikan monopoli pasar bagi produsen benih tersebut. Petani harus membeli benih setiap akan menanam padi, karena benih hibrida tidak dapat ditanam kembali oleh petani. Hal ini telah menciptakan ketergantungan petani terhadap pasokan maupun pasar benih.
Tidak hanya itu, petani juga ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida kimia. Ketika kebijakan yang cenderung Neo-Liberalisme pencabutan subsidi pupuk sehingga harga pupuk kian merangkak. Jaritan petani yang tercekik pun hanya terdengar dalam hati karena mau tidak mau mereka sudah sangat ketergantungan terhadap keberadaan pupuk kimia. Mereka mau mengadukan kesiapa? Apakah ke fasilitator pertanian?
Adanya fasilitator dari dinas pertanian tidak memberikan solusi bagi petani. Yang terjadi adalah fasilitator entah itu penyuluh maupun pendamping, mereka menjadi lebih seperti sales produk kesehatan tanaman daripada seorang aktivis pertanian. Tak pelak lagi masuknya berbagai produk pestisida maupun suplemen8 tanaman yang beranekaragam adalah karena mereka. Akibatnya petani tradisional bukannya semakin pandai dan mampu bangkit secara mandiri, tetapi mereka menjadi konsumen yang ketergantungan dengan berbagai produk obat-obatan.
Pengalaman penulis ketika mencoba sambungroso dengan petani di Kulon Progo cukup membuat rasa iba dan mengelus dada atas nasib mereka. Saat musim panen harga gabah kering bersih sekitar2.800-3.300/kg. bagi petani yang segera membutuhkan pendapatan hasil panen, mereka terpaksa menjual dalam bentu gabah kering kotor seharga 2.200-2.700/kg karena gabah tidak sempat dijemur. Sehingga dapat penulis simpulkan rata-rata pendapatan bersih petani 500ribu per musim tanam atau selama 4 bulan. Jadi dapat penulis simpulkan bahwa petani masih jauh dari angka kesejahteraan. Begitu sangat rapuh kemandirian petani saat ini. Lantas bagaimana bisa mewujudkan ketahanan pangan di negeri sendiri dengan kondisi tersebut.
Apa itu organic?
Kedaulatan pangan tidak hanya bagaimana mensuplai kebutuhan pangan dalam negeri sehingga pembahasannya pada seputar surplus9 ataukah defisit10. Akan tetapi  masyarakat berhak mendapatkan bahan konsumsi yang memang layak untuk mereka konsumsi. Pertanian organik yang dicanangkan melalui program GO ORGANIK 2010 menurut penulis merupakan mozaik atas upaya mewujudkan ketahanan pangan Indonesia. Hal ini daidasari dari beberapa alasan; Pertama, sistem partanian organik yang berprinsip kepada mengembalikan bahan yang berasal dari sawah dikembalikan kesawah dirasa lebih hemat.
Ada banyak sekali contoh bahwa sistem pertanian organik mampu menghemat pengeluaran bagi petani. Misalkan jerami sisa dari panen padi dapat dikembalikan kesawah sehingga menjadi pupuk alami dilahan persawahan. Kalaupun kerami digunakan sebagai pakan ternak sapi, maka kotorannya pun dapat dikembalikan ke sawah atau sebagai pupuk kandang. Ataupun pembuatan pestisida nabati yang bahan-bahannya berasal dari tanaman sekitar kita seperti, daun mimba, daun mindi, brotowali, gadung, kecubung, kunyit, lengkuas, tembakau, mahkota dewa dan tumbuhan biopestisida lainnya yang dapat diolah menjadi insektisida, fungisida, rodentisida dll, akhirnya petani tidak perlu lagi membeli pestisida yang harganya mahal.
Kedua, Sistem pertanian organik mampu meningkatkan pendapatan petani. Karena saat ini harga beras organi jauh lebih mahal dibandingkan beras biasa. Hal itu didasari atas dua alasan: (1) produktifitas beras organik per hektarnya lebih tendah dibandingkan beras biasa, (2) konsekuensi lainnya adalah kualitas beras organik jauh lebih sehat dan lebih bagus, karena nasinya menjadi tidak cepat basi.
Ketiga¸Sistem pertanian organik mampu membuat hidup jauh lebih sehat. Baik untuk kesehatan manusia maupun kesehatan lingkungan seperti sitat fisik dan kimia tanah dan air maupun biota-biota yang ada didalamnya karena terbebas dari residu bahan kimia dari pestisida. lahan-lahan pertanian akan semakin bertambah subur dan diharapkan tidak terjadi lagi serangan hama secara besar-besaran karena musuh alami dan predator terjaga kelestariannya. Penggunaan agen hayati sebagai pengendali hama mampu menciptakan keseimbangan ekosistem dan mencegah laju kepunahan genetik.
Merenungkan kembali penggalan puisi pembuka esai ini, petani hanyalah salah satu problem dari sekian banyak problem manusia seperti masyarakat pinggiran hutan masyarakat pedalaman, masyarakat nelayan dll. Esai ini hanyalah sedikit potret kehidupan dari masyarakat petani terutama pertanian padi di ekoseitem sawah yang masih membutuhkan benyak perhatian dari para aktivis. Mungkin kalian lebih mengenal masyarakat hutan dengan problem yang kurang lebih sama, yakni berkutat pada persoalan pangan, sandang, dan papan. Tinggal bagaimana hatiku, hatimu dan hati kita semuanya memiliki niatan untuk beranjak menuju pembangunan yang holistik berbasis kearifan ataukah tidak. Yakni niatan tuntuk menerapkan dan menjalankan sistem aturan yang memang seharusnya diterapkan untuk mengatur manusia dan kehidupan ini, yakni Islam.

 Catatan kaki yang korengan:
1)      Aktivis Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa Republika alumni Fak Kehutanan UGM angkatan 2005
2)       Teman penulis mahasiswa Fak Kehutannan angkatan 2004
3)      Jejaring social dunia maya
4)      Meneliti musim
5)      Koperasi Unit Desa = Koperasi yang dibentuk semasa ordebaru untuk mengedrop11 pupuk
6)      Orde dimana berkuasanya rezim Suharto
7)      Ruwet alias Cunthel
8)      Tambahan makanan
9)      Kelebihan stok12
10)   Kekurangan stok
11)   Arti sensungguhnya menjatuhkan tapi bermaksud mensuplai
12)   persediaan

1 comment:

  1. Bro, iku bukan quote ku lho, itu "indian proverbs" (peribahasa suku indian)
    hehehe
    Fathoni Hananto

    ReplyDelete