Thursday, 26 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 4)

Oleh : Dr. Andang Widi Harta
 
Perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam hingga sekarang secara ringkas dapat dibedakan dalam beberapa periode, yaitu :
-           Periode Salaf
-           Periode Ilmu Kalam
-           Periode Filosof dan Ilmuwan
-           Periode Ilmiyah Madiyah
-           Periode Kemunduran Islam
-           Periode Dominasi Peradaban Barat
Dalam hal ini, akan diuraikan secara singkat aspek-aspek yang menyangkut pemikiran dan pemahaman Islam serta aspek-aspek yang menyangkut perkembangan ilmu-ilmu empirik.

Monday, 23 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 3)

Oleh : Dr Andang Widi Harta

Satu hal yang seringkali tidak dibahas dalam pembahasan filsafat adalah pandangan dasar tentang hakekat dari semua realitas empirik yang dihadapi oleh manusia yaitu tentang manusia, alam semesta dan kehidupan.

Aqidah adalah pandangan yang menyeluruh tentang hakikat paling mendasar(fundamental)  dari seluruh realitas yang dihadapi manusia, yang berupa manusia, alam dan kehidupan. Pandangan ini meliputi :

-          Asal mula manusia, alam dan kehidupan.

-          Akhir dari kehidupan dunia, konsekuensi terhadap amal perbuatan manusia dalam kehidupan dunia.

Berdasarkan hal ini, terdapat hanya tiga macam akidah yaitu :

-          Akidah atheisme, yaitu aqidah yang menolak eksistensi Tuhan dan sekaligus menolak keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan.

-          Akidah Sekularisme, yaitu aqidah yang meyakini eksistensi Tuhan tetapi menolak keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan. Dalam hal ini keyakinan manusia terhadap eksistensi Tuhan hanya dimenifestasikan dalam bentuk ibadah-ibadah ritual.

-          Aqidah Islam, yaitu aqidah yang meyakini eksistensi tuhan dan sekaligus mengharuskan keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan pada seluruh aspek kehidupan manusia di dunia.

Aqidah ini harus dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan metode pembuktian pada falsafah ilmu pengetahuan empirik.

Sunday, 15 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 2)

Oleh : Dr. Andang Widi Harta 
Secara bahasa, filsafat berasal dari kata phylo (cinta) dan sophia (kebenaran). Filsafat selanjutnya diartikan secara umum sebagai usaha manusia untuk mengetahui kebenaran. Filsafat juga dapat diartikan sebagai sekumpulan pemikiran sistematis dan khas dalam rangka untuk menemukan kebenaran dan membangun ilmu pengetahuan. Pengetahuan tentang kebenaran ini selanjutnya dipakai untuk membangun ilmu pengetahuan lainnya yang selanjutnya akan dipakai sebagai pertimbangan dalam berbagai pebuatan manusia.
Dalam pembahasan filsafat,biasanya dibedakan tiga filsafat dasar, yaitu :
-          Filsafat kebenaran atau sering disebut filsafat ilmu pengetahuan empirik
-          Filsafat etika atau filsafat nilai
-          Filsafat estetika atau filsafat seni
Filsafat ilmu pengetahuan empirik membahas tentang ilmu pengetahuan yang bersifat empirik. Dalam filsafat ini asas obyektifitas pengamatan empirik menjadi kunci dalam penilaian benar atau salahnya teori ilmu pengetahuan.
Filsafat etika dan filsafat nilai membahas tentang nilai atau norma baik dan buruk yang akan dipergunakan sebagai batasan bagi boleh atau tidaknya manusia melakukan berbagai jenis perbuatan. Filsafat etika pada dasarnya juga membutuhkan asas obyektifitas dalam rangka menuju norma-norma yang universal dan adil bagi manusia, sekalipun asa obyektifitas dalam filsafat seringkali tidak dapat diterapkan semudah pada filsafat pengetahuan empirik.
Filsafat estetika atau filsafat seni membahas tetntang keindahan atau kejelekan. Berbeda dengan filsafat ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada asas obyektifitas, maka filsafat seni justru berlandaskan asas subyektifitas pengamat.
Pada kenyataannya filsafat ilmu pengetahuan empirik dan filsafat nilai sering terjadi interaksi. Hal ini karena berbagai aspek tertentu dalam ilmu pengetahuan empirik (penelitian obyek tertentu, tujuan-tujuan pemanfaatan ilmu serta penafsiran hakekat obyek ilmu pengetahuan) harus tunduk pada batasan nilai-nilai atau norma-norma yang harus ditetapkan dengan tujuan menghormati manusia. Disamping itu, filsafat ilmu pengetahuan empirik dan filsafat nilai memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan untuk menerapkan asas obyektifitas.

Saturday, 14 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM [bag. 1]

Oleh : Dr. Andang Widi Harta


Makhluk hidup di alam empirik dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
-          Makhluk hidup yang hanya menampakkan fenomena kehidupan biologis (tumbuhan)
-          Makhluk hidup yang menampakkan kehidupan biologis dan kemampuan gerak terkoordinasi serta insting (binatang)
-          Makhluk hidup yang menunjukkan kehidupan biologi, kemampuan gerak terkoordinasi, insting serta akal (manusia)

Adanya akal pada manusia ditandai dengan :
-          Kemampuan untuk membangun ilmu pengetahuan dan inovasi.
-          Kemampuan untuk membangun kesadaran akan nilai

Tanpa adanya kedua hal ini, manusia tidak berbeda dengan binatang. Dengan akalnya manusia mampu berfikir. Berfikir dalam membangun pemahaman atas realitas yang diindera dialami oleh manusia. Hasil pemikiran ini adalah pemahaman yang komperhensif terhadap semua realitas tersebut, yang sering dikatakan sebagai ilmu pengetahuan dalam arti yang universal.

Selanjutnya ilmu pengetahuan ini menjadi dasar pertimbangan manusia dalam melakukan berbagai perbuatan  mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.(yang melibatkan perancangan, perekayasaan dan perencanaan detail).

Saturday, 7 September 2013

Rasanya Gak Enak


Rasanya gak enak kalau ada dua kepemimpinan. Semuanya jadi serba gak jelas, kacau dan serba berantakan. Begitu pula kalau itu ternyata terjadi di dalam keluarga, miniatur dari sebuah negara.
 

Suami adalah kepala keluarga. Ibarat kholifah, maka ia adalah pemimpin keluarga,yang akan dimintai pertangung jawaban di akhirat kelak tetang apa-apayang dipimpinnya. Ia laksana perisai bagi umat di bawah naungan rumah tangganya. Istri dengan kelemah-lembutannya lebih cenderung sebagai asisten atau penasihat suami sekaligus pendidik bagi anak buah dari perbuatan keduanya.

Peran masing-masing gender it sudah terbagi dan tertata dengan jelas semenjak kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam, serta masyarakat madani yang terpancar dari kehidupan shohabat dan shohabiyah beserta para pengikutnya. Kanjeng Nabi adalah contoh yang tepat dan sebaik-baiknya sosok manusia yang pantas menjadi panutan. Dialah cahaya uswatun hasanah.