Oleh : Dr. Andang Widi Harta
Perkembangan
ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam hingga sekarang secara ringkas dapat
dibedakan dalam beberapa periode, yaitu :
-
Periode Salaf
-
Periode Ilmu Kalam
-
Periode Filosof dan Ilmuwan
-
Periode Ilmiyah Madiyah
-
Periode Kemunduran Islam
-
Periode Dominasi Peradaban Barat
Dalam
hal ini, akan diuraikan secara singkat aspek-aspek yang menyangkut pemikiran
dan pemahaman Islam serta aspek-aspek yang menyangkut perkembangan ilmu-ilmu
empirik.
a.
Periode Salaf
Periode
salaf adalah periode Rasulullah SAW, sahabat, thabi’in dan thabi’it thabi’in.
Secara kurun waktu, periode ini berlangsung hingga abad kedua Hijriyyah. Dua
hal penting yang perlu dicatat dalam periode ini adalah :
-
Belum masuknya pengaruh filsafat Yunani dalam
khasanah pemikiran Islam
-
Bahasa Arab masih terjaga sebagaimana bahasa
Arab al-Qur’an dan al-Hadist
Sistematika
pemikiran pada periode ini secara umum mengikuti sistematika pemikiran Islam
awal sebagaimana diuraikan Tabel 1. Kaum muslimin pada periode ini sangat produktif dalam melakukan futuhat
sehingga pengaruh peradaban Islam berkembang dengan cepat.
Hanya
saja perkembangan ilmu pengetahuan empirik belum terlihat karena tantangan
untuk mengembangkannya belum terlalu kuat. Satu hal yang perlu dicatat adalah
bahwa sistematika pemikiran Islam awal pada dasarnya telah memiliki potensi
besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan empirik.
b.
Periode Ilmu Kalam
Periode
ini ditandai dengan masuknya pengaruh pemikiran Yunani. Tingginya aktivitas
futuhat pada periode sebelumnya telah membawa kaum muslimin untuk makin luas
berinteraksi dengan peradaban lain, terutama dengan peradaban Romawi yang
secara intelektual mengemban pemikiran filsafat Yunani. Peradaban Romawi pada
masa itu adalah peradaban yang dapat dikatan kaya dalam khasanah ilmu
pengetahuan.
Kaum
muslimin, dengan tutuan untuk melakukan futuhat merasa tertantang untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan empirik. Untuk itu, kaum muslimin mulai
menterjemahkan karya-karya para filosof Yunani ke dalam bahasa Arab. Pada masa
ini, mulailah pengaruh filsafat Yunani masuk dalam khasanah pemikiran Islam.
Pengaruh
filsafat Yunani tampak hanya dalam dua hal, yaitu :
-
Pandangan bahwa akal bersifat tak terbatas.
-
Penggunaan silogisme sebagai pembuktian
pembenaran.
Pengaruh
ini pun hanya tampak dalam penafsiran ajaran-ajaran Islam yang terkait dengan
detail-detail aqidah. Adapun pemahaman kaum muslimin terhadap keseluruhan
aqidah secara global itu sendiri tidak banyak terpengaruh filsafat Yunani. Demikian
jiga pemahaman kaum muslimin dalam aspek-aspek hukum syari’at Islam.
Dengan
masuknya pengaruh dua pandangan filsafat Yunani tadi, kaum muslimin mulai
menggunakan akal untuk memasuki hal-hal yang tak terjangkau akal seperti
perkara tentang Dzat dan Sifat Allah secara detail serta hal-hal ghaib lainnya.
Kaum muslimin terlibat dalam pembahasan-pembahasan tadi. Hal ini memakan waktu
kurang lebih dua abad. Masa ini disebut sebagai masa ilmu kalam yang diwarnai
dengan retorika-retorika dan perdebatan sekitar masalah detail aqidah.
Perdebatan
dalam ilmu kalam akhirnya melenakan kaum muslimin dari pembahasan kepada
aspek-aspek yang lebih produktif. Semangat futuhat mulai menurun.
Hal
penting yang perlu dicatat adalah bahwa pemikiran filsafat Yunani yang berbasis
silogisme pada dasarnya tidak memberikan perhatian besar kepada hal-hal yang
bersifat empirik yang bisa melahirkan temuan-temuan di bidang teknologi.
Sifat
asal filsafat Yunani yang non empirik serta melemahnya semangat futuhat akibat
filsafat Yunani yang mengarahkan kaum muslimin kepada kondidi pemikiran yang
tidak produktif serta menghalangi kaum muslimin untuk mengembangkan teknologi
yang sebenarnya secara potensial telah didorong oleh sistematika pemikiran
Islam awal. Pada dasarnya, kondisi inilah yang merupakan cikal bakal kemunduran
Islam awal.
c.
Periode Filosof dan Ilmuwan
Selanjutnya kaum mulai jenuh dengan
perdebatan ilmu kalam. Sementara itu intelektualitas kaum muslimin mulai
mengalami kemandegan. Karya Imam Ghazali yaitu Tahafutut Falasifah menjadi
karya monumental yang menunjukkan kejenuhan kaum muslimin terhadap perdebatan
ilmu kalam. Pengaruh karya Imam Ghazali dan ulama-ulama lain yang “sealiran”
tidak dapat dipungkiri mampu “menghidupkan kembali agama” sehingga semangat
futuhat kaum muslimin kembali meningkat.
Pada masa berikutnya, muncul tiga arus
pemikiran, yaitu :
-
Arus pemikiran puritanisme
-
Arus pemikiran Tasawuf
-
Arus pemikiran Filosof
Arus pemikiran puritanisme diemban oleh
ulama-ulama yang menginginkan kembali kepada pemahaman Islam awal. Akan tetapi
arus pemikiran ini lebih didominasi dengan seruan-seruan kembali kepada
pemikiran Islam awal secara doktriner sehingga kurang fleksibel dan kurang
produktif dalam rangka menghasilkan pemecahan berbagai permasalahan yang
semakin berkembang dalam dunia Islam. sementara itu, pemikiran yang terkait
dengan hukum syari’at Islam tetap tidak terpengaruh oleh filsafat Yunani. Hanya
saja kemunduran dan pemikiran tentang syari’at Islam mulai nampak dengan
semakin kuatnya seruan untuk menutup pintu ijtihad.
Arus pemikiran tasawuf menekankan
menekankan kepada elaborasi dan pengamalan aspek-aspek ruhiyah dalam Islam. Dalam perkembangan berikutnya pada arus ini,
pengaruh filsafat Yunani tidak cukup besar.
Arus pemikiran filosof diemban oleh kaum
intelektual yang tetapmempelajari filsafat Yunani bahkan secara lebih detail.
Dari kalangan mereka ini, terkuak kelemahan fundamental filsafat Yunani yaitu
menjadikan silogisme sebagai dasar bagi pembuktian pembenaran. Kalangan ini
kemudian mengembangkan metode pembuktian empirik, sesuatu yang pada dasarnya
memang “diharapkan untuk dikembangkan” dalam sistematika pemikiran Islam awal.
Dari kalangan inilah lahirna banyak ilmuwan Islam. sekalipun demikian, banyak
pengaruh-pengaruh filsafat Yunani yang masih tersisa dan sebagian masih
mendominasi pemikiran para filosof Islam. Sejak itu, bermunculan temuan-temuan
ilmiyah yang dilakukan oleh kaum muslimin pada berbagai bidang ilmu.
Periode ini ditandai dengan penguatan
kembali intensitas futuhat sehingga interaksi peradaban kaum muslimin dangan
peradaban leinnya (terutama barat) berlansung intensif. Sebagian besar pengaruh
Islam ke barat berlangsung pada periode ini. Hal ini mengarahkan barat (Eropa)
menuju pada pencerahan yang kemudian menghasilkan renaisance. Peradaban barat
kemudian mengambil metode pembuktian empirik tetapi tetap mengambil aspek-aspek
lainnya dari warisan khasanah filsafat Yunani. Sejak itu lahirlah filsafat
barat modern.
Renaissance telah membawa peradaban barat
dengan filsafat barat modernnya untuk mendominasi peradaban hingga sekarang.
d.
Periode Ilmiyah Madiyah dan Kemunduran
Sementara barat mengalami kemajuan
setelah renaisance, peradaban Islam justru mengalami kejumudan. Perkembangan
keilmuan kaum muslimin tidak lagi diwarnai dengan penemuan teori-teori baru
melainkan lebih mengarah kepada perkembangan yang bersifat materi (pembangunan
gedung mewah dsb.). Semangat futuhat kaum muslimin kembali melemah.
Seruan penutupan pintu ijtihad telah
menghasilkan kemandegan dalam pemikiran tentang hukum syari’at Islam. yang dimiliki
kaum muslimin pada masa itu dipandang tidak mampu untuk menyelesaikan
permasalahan yang terus berkembang. Kaum muslimin mulai mengadopsi beberapa
permikiran filsafat hukum dari peradaban barat modern.
Akhirnya gelombang penjajahan barat
melanda kaum muslimin. Satu persatu wilayah kaum muslim jatuh kedalam
penjajahan barat. Puncak dari penjajahan barat adalah jatuhnya Daulah Khilafah.
e.
Periode dominasi peradaban barat
Dengan jatuhnya wilayah kaum muslim ke
tangan penjajah barat, maka penjajah barat mulai secara intensif menanamkan
pengaruhnya ke dunia Islam. Tentu termasuk dalam hal ini adalah menanamkan
pemikiran peradaban barat ke dalam khasanah pemikiran Islam. beberapa tahun
kemudian negeri-negeri kaum muslimin sudah menjadi sangat lemah. Sebagian besar
kaum muslimin didominasi pemikiran-pemikiran yang berasal dari peradaban barat
modern pada hampir semua bidang kehidupan.
No comments:
Post a Comment