Oleh : Dr. Andang Widi Harta
Secara bahasa, filsafat berasal dari kata
phylo (cinta) dan sophia (kebenaran). Filsafat selanjutnya diartikan secara
umum sebagai usaha manusia untuk mengetahui kebenaran. Filsafat juga dapat
diartikan sebagai sekumpulan pemikiran sistematis dan khas dalam rangka untuk
menemukan kebenaran dan membangun ilmu pengetahuan. Pengetahuan tentang
kebenaran ini selanjutnya dipakai untuk membangun ilmu pengetahuan lainnya yang
selanjutnya akan dipakai sebagai pertimbangan dalam berbagai pebuatan manusia.
Dalam pembahasan filsafat,biasanya
dibedakan tiga filsafat dasar, yaitu :
-
Filsafat kebenaran atau sering disebut filsafat
ilmu pengetahuan empirik
-
Filsafat etika atau filsafat nilai
-
Filsafat estetika atau filsafat seni
Filsafat
ilmu pengetahuan empirik membahas tentang ilmu pengetahuan yang bersifat
empirik. Dalam filsafat ini asas obyektifitas pengamatan empirik menjadi kunci
dalam penilaian benar atau salahnya teori ilmu pengetahuan.
Filsafat
etika dan filsafat nilai membahas tentang nilai atau norma baik dan buruk yang
akan dipergunakan sebagai batasan bagi boleh atau tidaknya manusia melakukan
berbagai jenis perbuatan. Filsafat etika pada dasarnya juga membutuhkan asas
obyektifitas dalam rangka menuju norma-norma yang universal dan adil bagi
manusia, sekalipun asa obyektifitas dalam filsafat seringkali tidak dapat
diterapkan semudah pada filsafat pengetahuan empirik.
Filsafat
estetika atau filsafat seni membahas tetntang keindahan atau kejelekan. Berbeda
dengan filsafat ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada asas obyektifitas, maka
filsafat seni justru berlandaskan asas subyektifitas pengamat.
Pada
kenyataannya filsafat ilmu pengetahuan empirik dan filsafat nilai sering
terjadi interaksi. Hal ini karena berbagai aspek tertentu dalam ilmu
pengetahuan empirik (penelitian obyek tertentu, tujuan-tujuan pemanfaatan ilmu
serta penafsiran hakekat obyek ilmu pengetahuan) harus tunduk pada batasan
nilai-nilai atau norma-norma yang harus ditetapkan dengan tujuan menghormati
manusia. Disamping itu, filsafat ilmu pengetahuan empirik dan filsafat nilai
memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan untuk menerapkan asas obyektifitas.
Sementara
itu filsafat seni lebih longgar karena tidak membutuhkan penerapan asas
obyektifitas. Akan tetapi berbagai aspek tertentu dalam filsafat seni
seringkali harus dibatasi oleh norma-norma.
Pembahasan
dalam tulisan ini lebih menekankan pada filsafat ilmu pengetahuan empirik dan
filsafat nilai. Pada kedua filsafat ini, terdapat tiga macam aspek fundamental,
yaitu :
-
Aspek epistemologi
-
Aspek ontologi
-
Aspek aksiologi
Filsafat
epistemologi adalah falsafah yang membahas tentang bagaimana suatu ilmu
pengetahuan dibangun, yaitu diberikan dengan :
-
Pandangan tetntang obyek ilmu pengetahuan dan
kherekteristiknya.
-
Cabang-cabang ilmu pengetahuan serta obyek dan
bidang pengetahuan spesifik dari masing-masing cabang ilmu pengetahuan.
-
Sifat-sifat manusia sebagai subyek ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan kemampuan manusia dalam mengetahui dan
membuktikan kebenaran.
-
Metode-metode untuk menyusun pendangan tentang
kebenaran dalam ilmu pengetahuan yang disusun.
-
Metode-metode untuk menyusun bukti-bukti bagi
suatu kebenaran.
-
Metode-metode untuk membuktikan kebenaran.
-
Metode-metode untuk mengecek validitas suatu
pembuktian kebenaran.
-
Metode-metode untuk mengambil suatu kesimpulan bedasarkan
pembuktian, sehingga dapat disusun suatu teori, hukum ataupun persamaan
matematika.
-
Metode-metode logika baik induktif untuk
menyimpulkan teori atau hukum general berdasarkan fenomena-fenomena yang lebih
spesifik yang telah dibuktikan.
-
Metode-metode logika deduktif untuk menyimpulkan
hukum terhadap fenomena yang lebih spesifik berdasarkan teori atau hukum umum
yang sebelumnya telah dianggap benar.
Dengan
demikian filsafat epistemologi berkaitan dengan penyusunan dan pembangunan ilmu
pengetahuan secara langsung.
Filsafat
ontologi adalah filsafat yang berkaitan dengan pandangan yang disimpulkan
berdasarkan yang kesimpulan-kesimpulan dari pembentukan ilmu pengetahuan secara
epistemologis. Pandangan ontologis bersifat lebih dalam dan seringkali
metafisis, yaitu dibalik dari apa yang dapat dibuktikan langsung secara
epistemologis. Pandangan ini merupakan pandangan tentang hakekat dari obyek
ilmu pengetahuan universal yaitu manusia, alam dan kehidupan.
Sifat
aksiologi adalh falsafah yang membahas tentang hubungan antara manusia sebagai
“yang akan (ingin) mengetahui”atau sebagai subyek ilmu pengetahuan dengan obyek
ilmu pengetahuan yaitu “yang akan diketahui” berupa manusia, alam dan
kehidupan. Filsafat aksiologis membahas tentang :
-
Kedudukan menusia sebagai subyek ilmu
pengetahuan yaitu manusia, alam dan kehidupan.
-
Tujuan pembentukan ilmu pengetahuan
-
Nilai-nilai dalam penggunaan ilmu pengetahuan
untuk mengatur dan menyelesaikan problema peradaban.
No comments:
Post a Comment