Monday, 23 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 3)

Oleh : Dr Andang Widi Harta

Satu hal yang seringkali tidak dibahas dalam pembahasan filsafat adalah pandangan dasar tentang hakekat dari semua realitas empirik yang dihadapi oleh manusia yaitu tentang manusia, alam semesta dan kehidupan.

Aqidah adalah pandangan yang menyeluruh tentang hakikat paling mendasar(fundamental)  dari seluruh realitas yang dihadapi manusia, yang berupa manusia, alam dan kehidupan. Pandangan ini meliputi :

-          Asal mula manusia, alam dan kehidupan.

-          Akhir dari kehidupan dunia, konsekuensi terhadap amal perbuatan manusia dalam kehidupan dunia.

Berdasarkan hal ini, terdapat hanya tiga macam akidah yaitu :

-          Akidah atheisme, yaitu aqidah yang menolak eksistensi Tuhan dan sekaligus menolak keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan.

-          Akidah Sekularisme, yaitu aqidah yang meyakini eksistensi Tuhan tetapi menolak keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan. Dalam hal ini keyakinan manusia terhadap eksistensi Tuhan hanya dimenifestasikan dalam bentuk ibadah-ibadah ritual.

-          Aqidah Islam, yaitu aqidah yang meyakini eksistensi tuhan dan sekaligus mengharuskan keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan pada seluruh aspek kehidupan manusia di dunia.

Aqidah ini harus dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan metode pembuktian pada falsafah ilmu pengetahuan empirik.

Dalam perkembangan peradaban manusia, terdapat beberapa filsafat yang bersifat sistematik, yaitu dapat dikaji secara sistematik, ciri-cirinya yaitu :

-          Pemikiran Islam awal.

-          Filsafat Yunani

-          Filsafat Barat Modern

-          Filsafat Timur

Kajian ciri-ciri filsafat atau pemikiran ini didasarkan pada aspek-aspek fundamental filsafat yaitu aspek aqidah, apek epistemologi, aspek ontologi aspek aksiologi serta metode pembuktian kebenaran dalam aspek epistemologi.

Pemikiran Islam awal yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sekumpulan pemikiran sistematis terhadap realitas (manusia alam kehidupan) berdasarkan aqidah Islam, sebelum terpengaruh pandangan filsafat lainnya. Pemikiran Islam awal dapat diketahui berdasarkan karya ulama-ulama Islam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan (fiqh, ushul fiqh, sampai pandangan politik, pemerintahan dan berbagai aspek ilmu pengetahuan), terutama pada masa-masa awal (sampai abad kedua hijriyah) atau para ulama sesudahnya yangmengikuti metodologi para ulama awal tersebut.

Filsafat Yunani merupakan pandangan-pandangan sistematis tentang manusia alam dan kehidupan yang dapat diketahui berdasarkan tulisan-tulisan para filososf Yunani yang dapat diketahui sekarang.

Filsafat barat modern merupakan pandangan-pandangan sistematis tentang manusia, alam dan kehidupan yang dapat diketahui berdasarkan karya ilmuwan barat setelah renaisance.

Filsafat timur terdiri dari filsafat-filsafat bangsa-bangsa Timur seperti China, India dan sebagainya.

Dalam aspek aqidah, pemikiran Islam didasarkan pada aqidah Islam (tauhid) sedangkan filsafat-filsafat lainnya pada umumnya didasarkan pada aqidah sekular. Filsafat Yunani dan filsafat Timur adalah sekular karena pada masa munculnya filsafat tersebut, belum ada wahyu yang memuat sistem aturan kehidupan yang memungkinkan wahyu dapat dipergunakan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Disamping itu, filsafat Yunani beraqidah sekular karena berlatar belakang mendobrak mitos Yunani. Filsafat barat modern  adalah sekular karena menolak wahyu berdasarkan pengalaman historis pra renaisance (yaitu dominasi gereja yang berimplikasi negatif).

Dalam aspek espitemologi, pemikiran Islam awal mengenal dua macam jalur. Pengetahuan-pengetahuan empirik dibangun atas dasar pembuktian empirik(berdasarkan pengamatan, pengalaman dan eksperimen) yang bersifat uneversal. Pengetahuan-pengetahuan tentang nilai atau norma didasarkan atas dalil-dalil syara yaitu al-Quran, Al Hadist, Ijma’ dan Qiyas.

Pemahaman terhadap teks dalil didasarkan dengan mengacu pada qaidah-qaidah bahasa Arab (yan digunakan dalam al-Quran dan Al-Hadist) sedangkan penelusuran atas keotentikan dalil didasarkan atas metode-metode penyampaian berita secara empirik.

Dalam pemikiran Islam awal, dikenal batas jangkauan akal sehingga pemahaman atas hal-hal yang tidak berhubungan dengan fakta empirik tidak dibangun berdasarkan akal (berbasis pembuktian empirik) tetapi atas dasar dalil syara’.

Dalam aspek epistemologi, filsafat Yunani mengasumsikan akal dapat menjangkau apa saja tanpa batas.  Masalah pengetahuan empirik dan semuanya dibahas berdasarkan akal. Pembuktian akal yang dimaksud dalam filsafat Yunani nukan berdasarkan pada pembuktian empirik (berdasarkan pengamatan, pengalaman dan eksperimen) tetapi berdasarkan silogisme (logika deduktif) yaitu menarik kesimpulan berdasarkan kesesuaian antara premis minor terhadap premis mayor.

Filsafat barat modern pada dasarnya adalah lanjutan filsafat Yunani. Filsafat barat Modern juga mengasumsikan akal dapat menjangkau apa saja tanpa batas. Masalah pengetahuan empirik dan nilai semuanya dibahas berdasarkan akal. Akan tetapi pembuktian akal dalam filsafat barat modern adalah pembuktian empirik (berdasarkan pengamatan, pengalaman atau eksperimen). Silogisme serta logika induktif hanya dibuat untuk membuat hipotesa. Epistemologi filsafat timur pada umumnya dilandaskan pada metode pembenaran yang bersifat irasional dan pada umumnya memiliki subyektifitas tinggi.

Aspek ontologi dalam pemikiran Islam dibangun berdasarkan kesadaran akan adanya Pencipta (Tuhan). Bahwasanya segala fenomena empirik merupakan ciptaan Allah (idrak silatul billah). Sementara itu ontologi dari filsafat Yunani maupun filsafat barat modern adalah menegasikan peran Tuhan dalam hampir semua aspek-aspek ilmu pengetahuan. Kekuasaan Tuhan dipandang bersifat antagonis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan mengakibatkan peningkatan wilayah kemampuan manusia dan hal ini berarti pengurangan wilayah kekuasaan Tuhan. Ilmu peengetahuan dipandang menyebabkan mampu melakukan intervensi kekuasaan Tuhan. Aspek ontologi filsafat Timur biasanya diwarnai dengan pendangan-pendangan paganisme, yaitu unsur-unsur kekuatan Tuhan muncul dalam banyak fenomena alam.

Dalam aspek aksiologi Islam memandang bahwa manusia dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan harus terikat dengan aturan Allah SWT. Sementara itu, aspek aksiologi filsafat Yunani dan filsafat barat modern bersifat antroposentris. Sifat antroposentris berarti menempatkan manusia sebagai sentral titik pandang. Manusia dapat memanfaatkan alam dan ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak manusia tanpa perlu ada batasan apapun. Batasan yang digunakan hanya nilai-nilai yang juga dibangun atas kepentingan manusia. Filsafat Timur memandang bahwa manusia dalam memanfaatkan alam dan ilmupengetahuan harus meminta izin pada berbagai fenomena alam yang diyakini memiliki unsut-unsur kekuatan Tuhan.

Sebagai tambahan, diuraikan pandangan umum terhadap estetika. Pada pemikiran Islam dan semua filsafat, penilaian keindahan bersifat subyektif. Akan tetapi Islam memberikan rambu-rambu, yaitu tidak boleh melanggar hukum syari’at Islam. Sementara itu dalam filsafat Yunani dan barat modern, penilaian ini sesuai selera manusia tanpa terikat apapun. Adapun filsafat Timur, seno pada umumnya bermuatan ritual untuk mengagungkan fenomena-fenomena alam yang dianggap memiliki unsur-unsur kekuatan Tuhan.

No comments:

Post a Comment