Oleh : Dr Andang Widi Harta
Satu hal yang seringkali tidak dibahas
dalam pembahasan filsafat adalah pandangan dasar tentang hakekat dari semua
realitas empirik yang dihadapi oleh manusia yaitu tentang manusia, alam semesta
dan kehidupan.
Aqidah adalah pandangan yang menyeluruh
tentang hakikat paling mendasar(fundamental)
dari seluruh realitas yang dihadapi manusia, yang berupa manusia, alam
dan kehidupan. Pandangan ini meliputi :
-
Asal mula manusia, alam dan kehidupan.
-
Akhir dari kehidupan dunia, konsekuensi terhadap
amal perbuatan manusia dalam kehidupan dunia.
Berdasarkan
hal ini, terdapat hanya tiga macam akidah yaitu :
-
Akidah atheisme, yaitu aqidah yang menolak
eksistensi Tuhan dan sekaligus menolak keterikatan manusia terhadap aturan
Tuhan.
-
Akidah Sekularisme, yaitu aqidah yang meyakini
eksistensi Tuhan tetapi menolak keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan.
Dalam hal ini keyakinan manusia terhadap eksistensi Tuhan hanya
dimenifestasikan dalam bentuk ibadah-ibadah ritual.
-
Aqidah Islam, yaitu aqidah yang meyakini
eksistensi tuhan dan sekaligus mengharuskan keterikatan manusia terhadap aturan
Tuhan pada seluruh aspek kehidupan manusia di dunia.
Aqidah
ini harus dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan metode pembuktian pada
falsafah ilmu pengetahuan empirik.
Dalam perkembangan peradaban manusia,
terdapat beberapa filsafat yang bersifat sistematik, yaitu dapat dikaji secara
sistematik, ciri-cirinya yaitu :
-
Pemikiran Islam awal.
-
Filsafat Yunani
-
Filsafat Barat Modern
-
Filsafat Timur
Kajian ciri-ciri filsafat atau pemikiran
ini didasarkan pada aspek-aspek fundamental filsafat yaitu aspek aqidah, apek
epistemologi, aspek ontologi aspek aksiologi serta metode pembuktian kebenaran
dalam aspek epistemologi.
Pemikiran Islam awal yang dimaksudkan
dalam tulisan ini adalah sekumpulan pemikiran sistematis terhadap realitas
(manusia alam kehidupan) berdasarkan aqidah Islam, sebelum terpengaruh
pandangan filsafat lainnya. Pemikiran Islam awal dapat diketahui berdasarkan
karya ulama-ulama Islam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan (fiqh, ushul
fiqh, sampai pandangan politik, pemerintahan dan berbagai aspek ilmu
pengetahuan), terutama pada masa-masa awal (sampai abad kedua hijriyah) atau
para ulama sesudahnya yangmengikuti metodologi para ulama awal tersebut.
Filsafat Yunani merupakan
pandangan-pandangan sistematis tentang manusia alam dan kehidupan yang dapat
diketahui berdasarkan tulisan-tulisan para filososf Yunani yang dapat diketahui
sekarang.
Filsafat barat modern merupakan pandangan-pandangan
sistematis tentang manusia, alam dan kehidupan yang dapat diketahui berdasarkan
karya ilmuwan barat setelah renaisance.
Filsafat timur terdiri dari
filsafat-filsafat bangsa-bangsa Timur seperti China, India dan sebagainya.
Dalam aspek aqidah, pemikiran Islam
didasarkan pada aqidah Islam (tauhid) sedangkan filsafat-filsafat lainnya pada
umumnya didasarkan pada aqidah sekular. Filsafat Yunani dan filsafat Timur
adalah sekular karena pada masa munculnya filsafat tersebut, belum ada wahyu
yang memuat sistem aturan kehidupan yang memungkinkan wahyu dapat dipergunakan
untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Disamping itu, filsafat Yunani
beraqidah sekular karena berlatar belakang mendobrak mitos Yunani. Filsafat
barat modern adalah sekular karena
menolak wahyu berdasarkan pengalaman historis pra renaisance (yaitu dominasi
gereja yang berimplikasi negatif).
Dalam aspek espitemologi, pemikiran Islam
awal mengenal dua macam jalur. Pengetahuan-pengetahuan empirik dibangun atas
dasar pembuktian empirik(berdasarkan pengamatan, pengalaman dan eksperimen)
yang bersifat uneversal. Pengetahuan-pengetahuan tentang nilai atau norma
didasarkan atas dalil-dalil syara yaitu al-Quran, Al Hadist, Ijma’ dan Qiyas.
Pemahaman terhadap teks dalil didasarkan
dengan mengacu pada qaidah-qaidah bahasa Arab (yan digunakan dalam al-Quran dan
Al-Hadist) sedangkan penelusuran atas keotentikan dalil didasarkan atas
metode-metode penyampaian berita secara empirik.
Dalam pemikiran Islam awal, dikenal batas
jangkauan akal sehingga pemahaman atas hal-hal yang tidak berhubungan dengan
fakta empirik tidak dibangun berdasarkan akal (berbasis pembuktian empirik)
tetapi atas dasar dalil syara’.
Dalam aspek epistemologi, filsafat Yunani
mengasumsikan akal dapat menjangkau apa saja tanpa batas. Masalah pengetahuan empirik dan semuanya
dibahas berdasarkan akal. Pembuktian akal yang dimaksud dalam filsafat Yunani
nukan berdasarkan pada pembuktian empirik (berdasarkan pengamatan, pengalaman
dan eksperimen) tetapi berdasarkan silogisme (logika deduktif) yaitu menarik
kesimpulan berdasarkan kesesuaian antara premis minor terhadap premis mayor.
Filsafat barat modern pada dasarnya
adalah lanjutan filsafat Yunani. Filsafat barat Modern juga mengasumsikan akal
dapat menjangkau apa saja tanpa batas. Masalah pengetahuan empirik dan nilai
semuanya dibahas berdasarkan akal. Akan tetapi pembuktian akal dalam filsafat
barat modern adalah pembuktian empirik (berdasarkan pengamatan, pengalaman atau
eksperimen). Silogisme serta logika induktif hanya dibuat untuk membuat
hipotesa. Epistemologi filsafat timur pada umumnya dilandaskan pada metode
pembenaran yang bersifat irasional dan pada umumnya memiliki subyektifitas
tinggi.
Aspek ontologi dalam pemikiran Islam
dibangun berdasarkan kesadaran akan adanya Pencipta (Tuhan). Bahwasanya segala
fenomena empirik merupakan ciptaan Allah (idrak silatul billah). Sementara itu
ontologi dari filsafat Yunani maupun filsafat barat modern adalah menegasikan
peran Tuhan dalam hampir semua aspek-aspek ilmu pengetahuan. Kekuasaan Tuhan
dipandang bersifat antagonis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan mengakibatkan peningkatan wilayah kemampuan
manusia dan hal ini berarti pengurangan wilayah kekuasaan Tuhan. Ilmu
peengetahuan dipandang menyebabkan mampu melakukan intervensi kekuasaan Tuhan.
Aspek ontologi filsafat Timur biasanya diwarnai dengan pendangan-pendangan
paganisme, yaitu unsur-unsur kekuatan Tuhan muncul dalam banyak fenomena alam.
Dalam aspek aksiologi Islam memandang
bahwa manusia dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan harus terikat dengan aturan
Allah SWT. Sementara itu, aspek aksiologi filsafat Yunani dan filsafat barat
modern bersifat antroposentris. Sifat antroposentris berarti menempatkan
manusia sebagai sentral titik pandang. Manusia dapat memanfaatkan alam dan ilmu
pengetahuan sesuai dengan kehendak manusia tanpa perlu ada batasan apapun.
Batasan yang digunakan hanya nilai-nilai yang juga dibangun atas kepentingan
manusia. Filsafat Timur memandang bahwa manusia dalam memanfaatkan alam dan
ilmupengetahuan harus meminta izin pada berbagai fenomena alam yang diyakini
memiliki unsut-unsur kekuatan Tuhan.
Sebagai tambahan, diuraikan pandangan
umum terhadap estetika. Pada pemikiran Islam dan semua filsafat, penilaian
keindahan bersifat subyektif. Akan tetapi Islam memberikan rambu-rambu, yaitu
tidak boleh melanggar hukum syari’at Islam. Sementara itu dalam filsafat Yunani
dan barat modern, penilaian ini sesuai selera manusia tanpa terikat apapun.
Adapun filsafat Timur, seno pada umumnya bermuatan ritual untuk mengagungkan
fenomena-fenomena alam yang dianggap memiliki unsur-unsur kekuatan Tuhan.
No comments:
Post a Comment