Jakarta, 5 Maret 1985
Salam,
Surat 26 Februari 1985 saya terima kemarin, juga surat terbuka Achdiat K. Mihardja untuk teman-teman (sarjana) Australia yang dilampirkan. Terimakasih.
Lampiran itu memang mengagetkan, apalagi menyangkut-nyangkut diri saya, dan tetap dalam kesatuan semangat kaum manikebuis pada taraf sekarang: membela diri dan membela diri tanpa ada serangan sambil merintihkan kesakitannya masa lalu, yang sebenarnya lecet pun mereka tidak menderita sedikit pun. Total jendral dari semua yang dialami oleh kaum manikebuis dalam periode terganggu kesenangannya, belum lagi mengimbangi penganiayaan, penindasan, penghinaan, perampasan dan perampokan yang dialami oleh satu orang Pram. Setelah mereka berhasil ikut mendirikan rezim militer, dengan meminjam kata-kata dalam surat terbuka tsb.:
“All forgotten and forgiven” dan revisiannya: “We’ve forgiven but not forgotten.” Saya hanya bisa mengelus dada. Kemunafikan dan keangkuhan dalam paduan yang tepat, seimbang dengan kekecilan nyalinya dalam masa ketakutan. Dan Bung sendiri tahu, perkembangan sosial- budaya-politik–di sini Indonesia–bukan semata-mata ulah perorangan, lebih banyak satu prosedur nasional dalam mendapatkan identitas nasional dan mengisi kemerdekaan. Tak seorang pun di antara para manikebuis pernah menyatakan simpati–jangan bayangkan protes–pada lawannya yang dibunuhi, kias atau pun harfiah. Sampai sekarang. Misalnya terhadap seniman nasional Trubus. Japo[?] Lampong. Apalagi seniman daerah yang tak masuk hitungan mereka. Di mana mereka sekarang. Di mana itu pengarang lagu Genjer-genjer? Soekarno mengatakan: Yo sanak, yo kadang, yen mati m[?a]lu kelangan. Yang terjadi adalah– masih menggunakan suasana Jawa: tego larane, tego patine.
Masalah pokok pada waktu itu sederhana saja: perbenturan antara dua pendapat; revolusi sudah atau belum selesai. Yang lain-lain adalah masalah ikutan daripadanya. Saya sendiri berpendapat, memang belum selesai. Buktinya belum pernah muncul sejarah revolusi Indonesia. Karena memang belum ada distansi dengannya. Belum merupakan kebulatan yang selesai. Maka para sejarawan takut. Malah kata revolusi nasional cenderung dinamai dan dibatasi sebagai perang kemerdekaan.
Pertentangan manikebu dan pihak kami dulu tidak lain cuma soal polemik. Memang keras, tapi tak sampai membunuh, kan? Kan itu memang satu jalan untuk mendapatkan kebenaran umum, yang bisa diterima oleh umum? Bahwa pada waktu itu terjadi teror yang dilakukan oleh orang-orang Lekra sebagaimana dituduhkan sekarang, betul- betul saya belum bisa diyakinkan. Beb Vuyk dalam koran Belanda menuduh: teror telah dilakukan orang-orang Lekra terhadap beberapa orang, antaranya Bernard IJzerdraad. Waktu ia datang ke Indonesia dan menemuinya sendiri, IJzerdraad menjawab tidak pernah diteror. Dan Beb Vuyk tidak pernah mengkoreksi tulisannya. Beb Vuyk sendiri meninggalkan Indonesia setelah kegagalan pemberontakan PRRI-Permesta, kemudian minta kewarganegaraan Belanda.
Mungkin ia merasa begitu pentingnya bagi Indonesia sehingga dalam usianya yang sudah lanjut merasa berkepentingan untuk mendirikan kebohongan terutama untuk menyudutkan saya. pada hal dalam polemik-polemik tsb. saya hanya menggunakan hak saya sebagai warganegara merdeka untuk menyatakan pendapat. Dan saya sadari hak saya. Seperti sering kali saya katakan: kewarganegaraan saya peroleh dengan pergulatan bukan hadiah gratis.
Dan apa sesungguhnya kudeta gagal G-30S/PKI itu? Saya sendiri tidak tahu. Sekitar tanggal 24 bulan lalu saya menerima fotokopi dari seorang wartawan politik Eropa dari Journal of Contemporary Asia, tanpa nomor dan tanpa tahun, berjudul: “Who’s Plot–New Light on the 1965 Events,” karangan W.F. Wertheim. Itulah untuk pertama kali saya baca uraian dari orang yang tak berpihak. Juga itu informasi pertama setelah 20 tahun belakangan ini. Rupa-rupanya karena ketidaktahuan saya itu saya harus dirampas dari segala-galanya selama 14 tahun 2 bulan + hampir 6 tahun tahanan kota (tanpa pernyataan legal), tanpa pernah melihat dewan hakim yang mendengarkan pembelaan saya. Memang sangat mahal harga kewarganegaraan yang harus saya bayar. Maka juga kewarganegaraan saya saya pergunakan semaksimal mungkin. Itu pun masih ada saja orang yang tidak rela. Juga surat pada Bung ini saya tulis dengan menjunjung tinggi harga kewarganegaraan saya.
Sekarang akan saya tanggapi tulisan A.K.M. Ia tidak ada di Indonesia waktu meletus peristiwa 1965 itu. Tetapi saya sendiri mengalami. Saya akan ceritakan sejauh saya alami sendiri, untuk tidak membuat terlalu banyak kesalahan.
Pada 1 Oktober 1965 pagihari saya dengar dari radio adanya gerakan Untung. Kemudian berita tentang susunan nama Dewan Revolusi. Sebelum itu pengumuman naik pangkat para prajurit yang ikut dalam gerakan Untung dan penurunan pangkat bagi mereka yang jadi perwira di atas letkol. Sudah pada waktu itu saya terheran-heran, kok belum-belum sudah mengurusi pangkat? Ini gerakan apa, oleh siapa?
Saya lebih banyak di rumah daripada tidak. Kerja rutine ke luar rumah adalah dalam rangka menyiapkan Lentera dan mengajar pada Res Publika. Dan sangat kadang-kadang ke pabrik pensil di mana saya “diangkat” jadi “penasihat.”
Jadi di rumah itu saja saya “ketahui” beberapa hal yang terjadi dari suara-suara luar yang datang. Mula-mula datang Abdullah S.P., itu penantang Hamka, waktu itu baru saja bekerja di sebuah surat kabar Islam yang baru diterbitkan, dan yang sekarang saya lupa namanya. Ia mengatakan merasa tidak aman dan hendak mengungsi ke tempatku. Saya keberatan, karena memang tidak tahu situasi yang sesungguhnya. Seorang pegawai tatausaha Universitas Res Publika datang ke rumah menyerahkan honor, dan mengatakan Universitas ditutup karena keadaan tidak aman.
Ia menyerahkan honor lipat dari biasanya. Beberapa hari kemudian datang pegawai dari pabrik pensil, juga menyerahkan honor, juga lipat dari biasanya, karena pabrik terpaksa ditutup, keadaan gawat. Kemudian datang seorang teman yang memberitakan, rumah Aidit dibakar, demikian juga beberapa rumah lain. Ia juga memberitakan tentang cara massa bergerak. Mereka menyerang rumahtangga orang, kemudian datang para petugas berseragam yang tidak melindungi malah menangkap yang diserang. “Saya yakin Bung akan diperlakukan begitu juga,” katanya. Soalnya apa dengan saya? tanyaku. “Kesalahan bung, karena bung tokoh.” Itu saja? Tempatku di sini, kataku akhirnya.
Wednesday, 4 December 2013
Tuesday, 1 October 2013
PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 5) TAMAT
Oleh : Dr. Andang Widi Harta
Dewasa ini, tanda-tanda kemunduran
peradaban barat mulai nampak dengan ketidakmampuan peradaban barat untuk
menyelesaikan berbagai masalah peradaban fundamental. Secara garis besar problema
peradaban dapat dikelompokkan menjadi :
-
Kemiskinan sistematis global
-
Ketidaadilan sistematis global
-
Insustainabilitas sumber daya alam
-
Degradasi nilai manusia
Sistem kapitalis yang lahir dari
peradaban barat merupakan sumber dari problema ini. Hal ini telah membangun
kesadaran baru untuk mencari sistem pengganti untuk mengatur peradaban dunia,
guna menggantikan sistem kapitalisme yang telah terbukti gagal menyelesaikan
problema-problema tadi.
Sementara itu kaum muslimin yang sekarang
terdominasi pemikiran peradaban barat modern juga semakin menyadari berbagai
kerusakan yang ditimbulkan oleh peradaban barat tersebut. Kerusakan-kerusakan
peradaban tersebut banyak yang menimpa kaum muslimin terdorong untuk kembali
kepada ajaran Islam.
Sementara itu, telah muncul pua dakwah
Islam universal yang menyerukan kaum muslimin untuk kembali kepada Islam secara
kaffah serta telah mampu untuk menjabarkan solusi Islam bagi pemecahan berbagai
problema peradaban.
Konsep filsafat ilmu pengetahuan untuk
mengisi kebangkitan Islam pada dasanya adalah tepat sama dengan pemikiran Islam
awal. Pemikiran Islam awal ini selanjutnya diperkaya dengan metode pembuktian
empirik sistematis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan empirik. Aspek-aspek
yang mengharuskan penyelesaian dengan penetapan hukum syari’at Islam
diselesaikan dengan metode penggalian hukum Islam dengan konsep ijtihad tasyri’.
Thursday, 26 September 2013
PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 4)
Oleh : Dr. Andang Widi Harta
Perkembangan
ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam hingga sekarang secara ringkas dapat
dibedakan dalam beberapa periode, yaitu :
-
Periode Salaf
-
Periode Ilmu Kalam
-
Periode Filosof dan Ilmuwan
-
Periode Ilmiyah Madiyah
-
Periode Kemunduran Islam
-
Periode Dominasi Peradaban Barat
Dalam
hal ini, akan diuraikan secara singkat aspek-aspek yang menyangkut pemikiran
dan pemahaman Islam serta aspek-aspek yang menyangkut perkembangan ilmu-ilmu
empirik.
Monday, 23 September 2013
PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 3)
Oleh : Dr Andang Widi Harta
Satu hal yang seringkali tidak dibahas
dalam pembahasan filsafat adalah pandangan dasar tentang hakekat dari semua
realitas empirik yang dihadapi oleh manusia yaitu tentang manusia, alam semesta
dan kehidupan.
Aqidah adalah pandangan yang menyeluruh
tentang hakikat paling mendasar(fundamental)
dari seluruh realitas yang dihadapi manusia, yang berupa manusia, alam
dan kehidupan. Pandangan ini meliputi :
-
Asal mula manusia, alam dan kehidupan.
-
Akhir dari kehidupan dunia, konsekuensi terhadap
amal perbuatan manusia dalam kehidupan dunia.
Berdasarkan
hal ini, terdapat hanya tiga macam akidah yaitu :
-
Akidah atheisme, yaitu aqidah yang menolak
eksistensi Tuhan dan sekaligus menolak keterikatan manusia terhadap aturan
Tuhan.
-
Akidah Sekularisme, yaitu aqidah yang meyakini
eksistensi Tuhan tetapi menolak keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan.
Dalam hal ini keyakinan manusia terhadap eksistensi Tuhan hanya
dimenifestasikan dalam bentuk ibadah-ibadah ritual.
-
Aqidah Islam, yaitu aqidah yang meyakini
eksistensi tuhan dan sekaligus mengharuskan keterikatan manusia terhadap aturan
Tuhan pada seluruh aspek kehidupan manusia di dunia.
Aqidah
ini harus dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan metode pembuktian pada
falsafah ilmu pengetahuan empirik.
Sunday, 15 September 2013
PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 2)
Oleh : Dr. Andang Widi Harta
Secara bahasa, filsafat berasal dari kata
phylo (cinta) dan sophia (kebenaran). Filsafat selanjutnya diartikan secara
umum sebagai usaha manusia untuk mengetahui kebenaran. Filsafat juga dapat
diartikan sebagai sekumpulan pemikiran sistematis dan khas dalam rangka untuk
menemukan kebenaran dan membangun ilmu pengetahuan. Pengetahuan tentang
kebenaran ini selanjutnya dipakai untuk membangun ilmu pengetahuan lainnya yang
selanjutnya akan dipakai sebagai pertimbangan dalam berbagai pebuatan manusia.
Dalam pembahasan filsafat,biasanya
dibedakan tiga filsafat dasar, yaitu :
-
Filsafat kebenaran atau sering disebut filsafat
ilmu pengetahuan empirik
-
Filsafat etika atau filsafat nilai
-
Filsafat estetika atau filsafat seni
Filsafat
ilmu pengetahuan empirik membahas tentang ilmu pengetahuan yang bersifat
empirik. Dalam filsafat ini asas obyektifitas pengamatan empirik menjadi kunci
dalam penilaian benar atau salahnya teori ilmu pengetahuan.
Filsafat
etika dan filsafat nilai membahas tentang nilai atau norma baik dan buruk yang
akan dipergunakan sebagai batasan bagi boleh atau tidaknya manusia melakukan
berbagai jenis perbuatan. Filsafat etika pada dasarnya juga membutuhkan asas
obyektifitas dalam rangka menuju norma-norma yang universal dan adil bagi
manusia, sekalipun asa obyektifitas dalam filsafat seringkali tidak dapat
diterapkan semudah pada filsafat pengetahuan empirik.
Filsafat
estetika atau filsafat seni membahas tetntang keindahan atau kejelekan. Berbeda
dengan filsafat ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada asas obyektifitas, maka
filsafat seni justru berlandaskan asas subyektifitas pengamat.
Pada
kenyataannya filsafat ilmu pengetahuan empirik dan filsafat nilai sering
terjadi interaksi. Hal ini karena berbagai aspek tertentu dalam ilmu
pengetahuan empirik (penelitian obyek tertentu, tujuan-tujuan pemanfaatan ilmu
serta penafsiran hakekat obyek ilmu pengetahuan) harus tunduk pada batasan
nilai-nilai atau norma-norma yang harus ditetapkan dengan tujuan menghormati
manusia. Disamping itu, filsafat ilmu pengetahuan empirik dan filsafat nilai
memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan untuk menerapkan asas obyektifitas.
Saturday, 14 September 2013
PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM [bag. 1]
Oleh : Dr. Andang Widi Harta
Makhluk hidup di alam empirik dibedakan
menjadi tiga macam, yaitu :
-
Makhluk hidup yang hanya menampakkan fenomena
kehidupan biologis (tumbuhan)
-
Makhluk hidup yang menampakkan kehidupan
biologis dan kemampuan gerak terkoordinasi serta insting (binatang)
-
Makhluk hidup yang menunjukkan kehidupan
biologi, kemampuan gerak terkoordinasi, insting serta akal (manusia)
Adanya akal pada manusia ditandai dengan :
-
Kemampuan untuk membangun ilmu pengetahuan dan
inovasi.
-
Kemampuan untuk membangun kesadaran akan nilai
Tanpa adanya kedua hal ini, manusia tidak
berbeda dengan binatang. Dengan akalnya manusia mampu berfikir. Berfikir dalam
membangun pemahaman atas realitas yang diindera dialami oleh manusia. Hasil
pemikiran ini adalah pemahaman yang komperhensif terhadap semua realitas
tersebut, yang sering dikatakan sebagai ilmu pengetahuan dalam arti yang
universal.
Selanjutnya ilmu pengetahuan ini menjadi
dasar pertimbangan manusia dalam melakukan berbagai perbuatan mulai dari yang paling sederhana hingga yang
paling kompleks.(yang melibatkan perancangan, perekayasaan dan perencanaan detail).
Saturday, 7 September 2013
Rasanya Gak Enak
Rasanya gak enak kalau ada dua
kepemimpinan. Semuanya jadi serba gak jelas, kacau dan serba berantakan. Begitu
pula kalau itu ternyata terjadi di dalam keluarga, miniatur dari sebuah negara.
Suami adalah kepala keluarga.
Ibarat kholifah, maka ia adalah pemimpin keluarga,yang akan dimintai pertangung
jawaban di akhirat kelak tetang apa-apayang dipimpinnya. Ia laksana perisai bagi
umat di bawah naungan rumah tangganya. Istri dengan kelemah-lembutannya lebih
cenderung sebagai asisten atau penasihat suami sekaligus pendidik bagi anak
buah dari perbuatan keduanya.
Peran masing-masing gender it
sudah terbagi dan tertata dengan jelas semenjak kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad
sholallahu ‘alaihi wa sallam, serta
masyarakat madani yang terpancar dari kehidupan shohabat dan shohabiyah beserta
para pengikutnya. Kanjeng Nabi adalah contoh yang tepat dan sebaik-baiknya sosok
manusia yang pantas menjadi panutan. Dialah cahaya uswatun hasanah.
Sunday, 12 May 2013
Selamat jalan Ramadhan, Selamat datang Puasa
Saya bayangkan kalau Allah “Ikut berlebaran”,
bagaimana nasib saya dan kita semua. Kalau Tuhan tak berpuasa lagi, habislah
kita. Kalau ia tak menahan diri, mampuslah kehidupan kita. Kalau Allah tak
menahan diri sekarang ini untuk menghukum kekufuran kita, apa jadinya?
[Emha Ainun Najib_Seandainya Allah pun “berlebaran”]
Bulan ramadhan, bulan penuh barokah, penuh rahmat dan
ampunan. Pada bulan ini setan-setan dibelenggu selain itu amalan ibadah
mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda. Sungguh bulan ini adalah bulan
yang special dan istimewa dengan segala keutamaannya. Bulan waktu diturunkannya
al-Qur’an. Tidak ada bulan yang lebih utama selain bulan Ramadhan.
Biasanya kita akan melihat orang-orang kemudian memperbanyak
amal ibadahnya. Masjid-masjid menjadi lebih ramai kegiatannya untuk kegiatan
berbuka bersama maupun shalat tarawih berjama’ah. Ada yang tadarus al-Qur’an di
serambi, ada yang kemudian beri’tikaf dan lain sebagainya. Terlihat memang
bulan Ramadhan berbeda dengan sebelas bulan yang lain.
Tuesday, 7 May 2013
PANCASILA
Pancasila itu sakti. Pancasila itu sakral. Pancasila itu suci. Pancasila itu harga mati. Pancasila itu asas; asas dari segala asas.
Karena sakral, Pancasila tak boleh direndahkan. Ada kesan, di negeri ini orang boleh saja melecehkan Islam, mencampakkan Al-Quran, termasuk menghina Rasulullah sang teladan. Sebagian menganggap hal itu sebagai bagian dari ekspresi kebebasan yang dijamin demokrasi. Namun, tidak dengan Pancasila. Merendahkan dan menghina Pancasila adalah kejahatan tak terperi dan pastinya anti-demokrasi.
Karena suci, Pancasila tak boleh diusik dan dikritisi. Ada kesan di negeri demokrasi ini Islam boleh saja diusik; al-Quran dan as-Sunnah boleh dikritisi. Namun, tidak dengan Pancasila. Sebab, bagi sebagian orang Pancasila itu lebih tinggi dari al-Quran maupun as-Sunnah. Pancasila digali dari nilai-nilai luhur nenek moyang bangsa Indonesia. Adapun al-Quran dan as-Sunnah hanyalah bersumber dari perkataan Tuhannya umat Islam semata. Karena itu, semua aturan dan perundang-undangan yang ada di negeri ini boleh tidak merujuk bahkan bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah, tetapi haram berseberangan dan berlawanan dengan Pancasila.
Karena harga mati, Pancasila tak boleh ditawar-tawar. Menawar Pancasila adalah tindakan amoral, bahkan kriminal. Lain halnya dengan syariah Islam. Di negeri demokrasi ini, hukum Islam hanyalah pilihan; boleh diambil atau dicampakkan.
Sebaliknya sebagai asas, Pancasila tak boleh sekadar jadi pilihan. Asas negara boleh saja tidak berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, tetapi haram jika tidak berdasarkan Pancasila. Maka dari itu, menurut Pancasilais sejati, jika negara saja harus berasaskan Pancasila, maka apalagi Parpol dan Ormas yang merupakan organisasi lebih kecil, tentu lebih wajib berasaskan Pancasila.
****
Tuesday, 23 April 2013
Pertanian Organik menjawab Kedaulatan Pangan..?
Oleh : Meko Naga1
Bila pohon terakhir sudah ditebang,
bila udara terakhir sudah tercemar,
bila sungai terakhir sudah mengering,
bila ikan terakhir sudah mati,
maka, manusia akan sadar
bahwa ia tak bisa makan uang
bila udara terakhir sudah tercemar,
bila sungai terakhir sudah mengering,
bila ikan terakhir sudah mati,
maka, manusia akan sadar
bahwa ia tak bisa makan uang
(Fathoni Hananto2,
on facebook3 04 Juli jam 21:17)
Indonesia yang sebagian besar
penduduknya bermata pencaharian petani sampai saat ini belum mencapai
kedaulatan pangan. Indonesia yang kaya akan hasil alam tetapi faktanya tak
mampu menyuplai kebutuhan pangan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan pangan
dalam negeri, Indonesia harus mengimpor. Tidak tanggung-tanggung, Impor pangan
Indonesia mencapai 63% (www.centroone.com/news/2011/03/)
Program GO-Organik telah
dicanangkan Departemen Pertanian pada 2010, dengan harapan Indonesia dapat
menjadi salah satu Negara penghasil
produk pangan organic yang dapat mengisi pasar dunia. Tetapi keluarnya
Peraturan Menteri keuangan No.13/PMK.011/2011
yang memberlakukan bebas bea masuk untuk 57 komoditas pangan jelas-jelas menghambat
upaya Indonesia mencapai cita-cita tersebut.
Alih-alih produksi pangan
organic yang sehat mampu dihasilkan, kemampuan produksi pangan pangan dalam
negeri pun sekiranya lemah. Karena keran impor untuk komoditas seperti gandum,
kedelai, bahan baku pupuk, bahan baku pakan ternak, gula, beras dan lain-lain
nyata-nyata telah dibuka. Selain itu dampak yang kentara adalah kebijakan itu
telah memposisikan petani berada pada posisi yang semakin sulit.
Disisi lain angka ramalan (Aram)
II yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik)
memproyeksikan tahun 2011 surplus sebesar 5 juta ton beras(Kedaulatan
Rakyat,13 july 2011). Ditambah dengan surplus 2010 3,9 juta ton beras
seharusnya menjadikan acuan untuk meniadakan impor beras. Kenyataannya justru
terbalik, pada saat yang sama Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan
memutuskan perlunya impor beras.
Hipotesis yang kemudian muncul
adalah kapankah ketahanan pangan di Indonesia akan terwujud? Mungkinkah hal itu
terjadi? Mampukah pertanian organik menjadi jawaban atas ketahanan pangan
Indonesia? Ataukah pertanian organik hanyalah sebuah kampanye saja yang
terpampang diposter-poster dan hanya menjadi wacana yang indah saja? Mari kita
kupas jauh lebih dalam!
Sunday, 14 April 2013
Refleksi Diri
”Dalam mengevaluasi diri, membutuhkan orang lain yang
menilai diri kita.”
”Kamu tidak akan menemukan siapa dirimu hanya dengan
dirimu sendiri.”
”Sama seperti cermin, kau membutuhkannya saat kau akan
menilai dirimu sendiri.”
Kata-kata tersebut selalu ku coba tuk ku pikirkan. Entah
berapa lama aku memikirkannya ataukah aku hanya berkhayal saja. Hingga aku
terringat Saat aku prektek lapangan di kampus hutan jati, kami seangkatan sekitar
80 orang bertempat disebuah asrama milik kampus. Disitu
terdapat mess kamar, kantor, aula dapur dll. Kehidupan selama 25 hari ditengah
hutan terjamin. Makan 3 kali sehari teteapi dijadwal, seperti ditempat para
tahanan. Dalam sekamar kami ber8 ditempatkan.
Setiap kamar terdapat 3 buah ranjang bertingkat sehingga
ada 6 kasur. Padahal kami sekamar ada 8 orang, artinya setiap malam harus ada 2
anak yang harus di tumbalkan mandapat giliran tidur dibawah walau kenyataannya
selama hampir sebulan tementemen lebih milih tidur dibawah karena ketakutan
tidur diatas kasur terlebih di ranjang paling atas. Nyatanya aku enjoy saja
tidur di ranjang paling atas walaupun malam pertamaku susah sekali
tidur(kepikiran mama terus).
Kejadiannya Ada seorang teman yang menanyakan kepada ku,
meko kenapa sih kami sesing banget berkaca. Kebetulan di kamar ada lemari
dengan 8 kolom dan di tengahnya terdapat sebuah cermin besar dan entah kenapa
setiap bangun tidur habis mandi, datang ke kamar trus kalau pas nganggur
langsung saja aku berdiri tegak dihadapan cermin dan aku memperlihatkan
kemolekan tubuhku dan kegantengan wajahku yang mirip fauzi baadillah ini.
Saturday, 13 April 2013
My Immoral
Aku
tak peduli dikatakan bermoral atau tidak.
Aku
lebih memilih disebut tak bermoral dari pada tak berakhlak.
Dan
aku bukan pejuang moral dan tak pantas mempertanyakannya kepadaku.
Karena
aku memang tak bermoral.
Uhh,
hari ini suhu udara terasa panas sekali, setiap sudut ruang seperti perapian saja,
Tidak ada tempat yang teduh, semuanya panas. Seolah dunia ini tak lagi ada
tempat yang digunakan “tuan panas” untuk menyalurkan hasratnya memancarkan
jutaan kalori energy yang siap unuk di ttransformasi. Ratusan peluh seukuran
jagung menjadi primadona, sehingga setiap hari kami mandi menjadi 3 kali
sehari. 2 kali dilakukan saat padi dan sore hari, dan saat siang mandi dengan
keringat berparfumkan aroma bau badan.
Ditengah suasana panas yang
menyengat tersebut suasana tetap teduh karena semua murid duduk rapi nan
tenang. Tidak ada satu pun murid yang berbuat kegaduhan. Semuanya terfokus pada
materi yang disampaikan sang guru.
“Moral1 adalah hal
mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral adalah tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang
tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak
memiliki nilai positif di mata manusia lainnya.” Kata sang guru berapi-api.
Hingga
terlihat dari barisan sebuah acungan jari mungil pertanda bahwa komunikasi
pengajaran berjalan dengan baik karena mendapat respon dari muridnya. Dengan
suara yang kecil si murid bertanya kepada gurunya
“ Pak
guru, apa yang dimaksud nilai-nilai positif itu?” tanya si murid.
Thursday, 11 April 2013
Pekerja, ataukah Aktivis..........?
Apabila
anda mendengar kata “pekerja”, maka apa yang ada dalam benak anda? Apakah
karyawan, kuli, ataukah buruh? Kesemuanya menjelaskan sebuah profesi yang
sangat terikat ruang dan waktu, juga menguras pikiran dan tenaga dengan hasil
atau upah yang pas-pasan. Kalau yang ditanyakan kemudian adalah “aktivis”
lantas apa yang kemudian bisa anda
pikirkan? Provokator…..? Sesuatu pekerjaan yang dapat dikatakan sebagai profesi
tetapi juga bisa disebut sebagai bukan profesi karena pekerjaan ini tidak dapat
dinilai dengan materi saja. Membicarakan dua kata diatas sepertinya sederhana.
Tetapi ketika mempertanyaan konotasi dari dua kata tersebut apa jawabannya?
Positifkah atau malah negatif? Membicarakan positif maupun negatif memang kita
tidak dapat menilainya dengan sederhana. Mari kita mencoba simulasi dengan
mengambil contoh.
Friday, 5 April 2013
Hilangnya Hakikat Politik
Menanggapi artikel pendapat yang dimuat dalam
Koran Tempo, Selasa 27 November 2012 mengenai Hilangnya Hakikat Politik karya
Agus Sudibyo. Bahwa politik yang hakiki seperti yang ditekankan oleh para
filusuf republican seperti Aristoteles sangat kontras dengan kehidupan kita.
Krisis hakikat politik tidak hanya terjadi pada tataran tindakan politikus yang
berpikir transaksional, tetapi juga pada tataran kesadaran atau persepsi
masyarakat yang sedang mengalami kegersangan hidup(the desert of live) tentang
bagaimana seharusnya politik dijalankan. Ada dua poin penting yang kemudian
harus kita cermati. Pertama sistem perekrutan para politikus di negeri kita.
Yang kedua, bagaimana pendidikan politik kepada masyarakat sekarang ini.
Wednesday, 3 April 2013
Brain Storming "wacana"
Pendahuluan
Dunia
saat ini sedang mengalami globalisasi. Kondisi dimana informasi berlalulalang
melintasi berbagai negara hingga benua. Informasi yang disebar melalui berbagai
jaringan informasi, yang kemudian memenuhi pikiran manusia dan mambuat manusia lupa akan jati dirinya karena
informasi-informasi tersebit telah menyesaki memori di dalam mereka.
Tanpa ada screening, saat ini informasi tersebit
telah menjadi parasit dalam wujud kehidupan hedonism
nan gelamour, yang masing-masing
berupaya bahu-membahu berikhtiyar
untuk memuaskan kebutuhan nafsunya.
Disisi lain kaum muslim
saat ini dihujani cacimaki dan tipudaya oleh kaum kafir penjajah namun mereka
sama sekali tidak menyadari sehingga umat islam saat ini ibarat raksasa yang
tengah tidur. Jumlah mereka besar di dunia namun tidak memiliki kekuatan
apa-apa.
Friday, 1 March 2013
Halaman Persembahan
Hanyalah pesan yang ingin
kusampaikan. Hidup ini adalah pasti. Bahwasanya saat ini kita tak dapat
memungkiri bahwa aku, kamu dan kalian masih hidup. Dan hidup adalah pilihan.
Setiap langkah yang aku, kamu dan kalian jalani adalah buah dari keputusan. Dan
perlu diingat, bahwa mati adalah kepastian bukan pilihan. Setiap tarikan nafas
sauatu saat akan terlepas. .Setiap detak jantung pun pasti akan tak lagi
terdengar. Dan setiap derap langkah pun nantinya akan terhanti, entah karena tersandung,
menginjak kerikil tajam maupun karena otot yang melemah dan membusuk karena tak
lagi mendapat suplai makanan dari tubuh. Benar, hidup ini tidaklah abadi,
tinggal sejauh mana kita mampu menjalankannya apakah dengan menorehkan tinta
emas ataukah meninggalkan coretan hitam yang tak bermakna sama sekali.
Sayap Apatis
Dunia
saat ini telah memasuki era baru, era globalisasi. Sebagai hasil rekayasa teknologi
informasi, era ini membawa manusia kepada budaya global, budaya pop dan
melahirkan manusia-manusia kosmopolitan. Manusia masa kini seperti spesies baru
yang tidak mengenal batas-batas budaya. Jika pada periode tahun 60-80an industri
bioskop menjadi media penularan virus budaya barat melalui tontonan film-film
“panas” —yang menjadi hospes budaya freesex and drugs--, maka tahun 90an menjadi
era kedigjayaan dunia pertelevisian yang telah merubah pola perilaku masyarakat
menjadi lebih individualistik dan egois.
Seleksi Habitat Banteng di Taman Nasional Baluran
INTISARI
SELEKSI
HABITAT OLEH BANTENG (Bos javanicus)
DI
TAMAN NASIONAL BALURAN
Oleh:
Mohamad Eko Nurcahyono1)
Banteng
(Bos javanicus) di Taman Nasional
Baluran merupakan satwa yang dinyatakan terancam punah. Ada berbagai tipe
vegetasi di Taman Nasional Baluran merupakan habitat yang mempengaruhi kelangsungan
populasi banteng. Namun saat ini kondisi kawasan Taman Nasional Baluran mengalami
perubahan sehingga dikhawatirkan menurunkan kualitas habitat banteng. Informasi
yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan dan interaksi benteng terhadap
habitatnya adalah seleksi habitat, karena informasi tersebut mengkaji
kecenderungan tipe vegetasi yang dipilih banteng serta sumberdaya habitat yang
digunakan banteng.
Untuk
mengetahui tipe vegetasi yang dipilih banteng, dilakukan dengan analisis chi square antara keseluruhan plot
dengan plot yang terdapat tanda-tanda kehadiran banteng (presence). Sementara untuk mengetahui sumberdaya yang dibutuhkan
banteng digunakan analisis regresi logistik dari variabel sumberdaya habitat yang
merupakan faktor vegetasi, faktor fisik serta faktor manusia. Variabel tersebut
mewakili aspek pakan, air, pelindung dan ruang yang dibutuhkan banteng.
Pengambilan sampel kehadiran dilakukan dengan metode line trensect di seluruh kawasan secara tidak langsung. Sementara
sampel variabel sumberdaya habitat diambil dengan membuat petak ukur di dalam line transect dengan jarak minimal 200
meter.
Berdasarkan
hasil analisis chi square diperoleh
bahwa banteng di Taman Nasional Baluran memilih hutan jati, hutan pantai dan
hutan musim daripada savana. Dan dari hasil analisis regresi logistik diperoleh
variabel jarak sumber air, kepadatan tiang, kepadatan semai, penutupan
horizontal tajuk serta penutupan vertikal tumbuhan bawah tinggi yang menjadi
alasan banteng memilih kawasan hutan sebagai habitatnya.
Kata
Kunci: Seleksi Habitat. Banteng, Taman Nasional Baluran
Wednesday, 20 February 2013
Rekonstruksi kebijakan Pengelolaan Hutan
Melihat poin-poin diatas, maka rekonstruksi kebipengelolaan hutan
yang diambil apabila Khilafah tegak adalah;
1. Menasionalisasi hutan yang pengelolaannya
dikuasai swasta sebagaimana pengelolaan sekarang ini hutan dibagi-bagi konsensi
izin dalam bentuk HPH, HTI ataupun IUPHHK(Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu) di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
2. Merevitalisasi BUMN Kehutanan seperti
Perum Perhutani supaya sapat berperan aktif membangun sistem penataan hutan
lestari di luar pulau jawa.
3. Mengusir investor asing yang bercokol
serta menolak semua program bantuan pengelolaan yang ujung-ujungnya
menjerumuskan dengan hutang, ataupun hibah-hibah penelitian yang
tetek-bengeknya adalah memetakan kekayaan sumberdaya alam Indonesia.
4. Hanya menjalin kemitraan perdaganan,
pengolahan hasil hutan, pendidikan dan penelitan dengan negeri kafir mu’ahadah.
5. Membangun Industri berat yang mendukung
pembangunan sector kehutanan dari hulu sampai hilir.
6. Penegakan hukum Islam tanpa pandang bulu.
HUTAN SYARIAH....?
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya itu.” [QS. Al-A’raf (7) : 96]
1. Hutan termasuk dalam kepemilikan umum, bukan kepemilikan
individu atau negara.
Secara prinsip syariah telah memecahkan masalah kepemilikan hutan
dengan tepat, yaitu hutan (al-ghaabaat) termasuk dalam kepemilikan umum
(al-milkiyah al-Ć¢ammah). Ketentuan ini didasarkan pada hadits Nabi SAW :
"Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal : dalam air, padang
rumput [gembalaan], dan api." (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah).
Hadits ini menunjukkan bahwa tiga benda tersebut adalah milik
umum, karena sama-sama mempunyai sifat tertentu sebagai illat (alasan
penetapan hukum), yakni menjadi hajat hidup orang banyak (min marafiq al-jama’ah).
Termasuk milik umum adalah hutan (al-ghaabaat), karena diqiyaskan dengan
tiga benda di atas berdasarkan sifat yang sama dengan tiga benda tersebut,
yaitu menjadi hajat hidup orang banyak.
Kategori hutan meliputi semuanya bentuk penutupan vegetasi alami
dari ; hutan hujan tropis, hutan temprate, hutan pegunungan, hutan dataran
rendah, hutan pantai, hutan mangrove, hingga padang semak belukar.
SEBAB KEGAGALAN PENGELOLAAN HUTAN
“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut (disebabkan)
karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian
dari(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan ang benar”. [Qs Ar Ruum (30):41]
Kegagalan pengelolaan hutan selama ini ada 3:
1. kesalahan pembuat kebijakan,
2. penyelewengan pelaksanaan regulasi, dan
3. penyimpangan dalam tataran teknis di
lapangan.
Kesalahan pembuatan kebijakan
itu ada 2 sebab, pertama akibat
ketidaktahuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat guna. Kedua, akibat kesalahan filosofi/ideologis dalam pembuatan kabijakan.Kalau sebab
pertama dikatakan sebagai penyebab kegagalan Indonesia dalam mengelola hutan
hal itu dengan mudah dibantah. Saat ini ada ribuan sarjana kehutanan dari
berbagai universitas di Indonesia maupun mancanegara, bahkan bayak diantaranya
menduduki posisi di pemerintahan dan perusahaan.
Seharusnya dengan banyaknya tenaga ahli di bidang kehutanan,
Indonesia dapat membuat kebijakan hutan yang lestari dan mensejahterakan
rakyatnya.Tetapi hal itu tidak terjadi. Undang-undang atau kebijakan yang
muncul justru menguntungkan pengusaha, perusahaan dan pihak asing. Artinya yang menjadi sumber utama kegagalan
pengelolaan hutan selama ini adalah kesalahan
filosofi/ideologis dalam pembuatan kebijakan yakni ideologi kapitalisme liberal.
Karakter kapitalisme yang individualis telah mewujud dalam sikap
menomorsatukan kepemilikan individu(private property) sebagai
premis ekonomi dalam Kapitalisme Wajarlah jika dalam pengelolaan hutan, hutan
dipandang sebagai milik individu, yakni milik pengusaha melalui pemberian HPH dan HTI yang diberikan oleh penguasa.Juga
dengan UU Penanaman Modal Asing (PMA) tahun
2007 yang berdampak banyak
perusahaan milik asing semakin menguasai sumber daya alam Indonesia.
Di tataran lapangan sering terjadi
penyelewengan pelaksanaan regulasi --misalnya perusahaan HPH menebang melebihi
volume yang dilaporkan-- dan penyimpangan dalam tataran teknis di lapangan,
misalnya penyimpangan aturan TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia), karena cara
pandangkapitalisme yang mengutamakan
kepemilikan individu, yang utilitarian (mementingkan kemanfaatan)
telah melahirkan sikap eksploitatif atas sumber daya alam seraya mengabaikan
aspek moralitas.
Sunday, 17 February 2013
POTRET HUTAN INDONESIA SEPERTI BERKACA DI CERMIN RETAK
Indonesia
memiliki luas hutan mencapai 60 % dari luas daratannya,sebenarnya merupakan kekayaan alam yang sangat
penting dan strategis. Namun kekayaan itu tidak banyak gunanya bagi rakyat,
karena pengelolaannya gagal. Berdasar perkembangan Tata Guna Lahan
Kesepakatan(TGHK) tahun1999 luasnya 120 juta hektar. Tetapi tahun 2004 berdasar data Badan
Planologi Departemen Kehutanan (BAPLAN DEPHUT), Menhutbun/Menhut telah menetapkan
luas penunjukan kawasan hutan dan perairan hanya 110 juta hektar saja.Menurut laporan WALHI, pada tahun 1993, rata-rata hasil
hutan Indonesia tiap tahunnya 2,5 miliar dolar AS. Pada tahun 2005 diperkirakan
hasilnya mencapai sekitar 7-8 miliar dolar AS.
Namun, semua orang juga
tahu kini Indonesia menjadi negara bangkrut. Indonesia mengalami deforestasi
(kehilangan hutan) yang luar biasa.Sejak tahun 1985-1997 sekitar 21.65 juta
hektar hutan hilang atau 1.8 juta hektar hilang setiap tahunnya. Tiga tahun
setelah itu hilangnnya hutan justru meningkat menjadi 3.5 juta hektar per tahun
dari tahun 1998-2000.
Dari hasil hutan sejumlah
itu, yang masuk ke dalam kas negara ternyata hanya 17 %, sedangkan yang 83 %
masuk ke kantong pengusaha yang memperoleh izin Hak Pengelolaan Hutan
(HPH ) maupun perusahaan Hutan
Tanaman Industri (HTI).
Pemberian HPH kepada
pengusaha itu dimulai sejak 1967 melalui UU Pokok Kehutanan No 5 Tahun 1967,
yang kemudian direvisi dengan UU Kehutanan no 41 Tahun 1999. Sebab UU No 5/1967
itu hanya menekankan produksi. Maka lahirlah UU No 41/1999 yang agak mendingan karena
sudah memperhitungkan konservasi dan partisipasi masyarakat. Sehingga semenjak tahun
2000 hingga tahun 2005 laju hilangnya hutan di 7 pulau besar Indonesia menjadi
1.09 juta hektar pertahun. Kalau ditotal selama 5 tahun tersebut 5.45 juta
hektar hutan hilang.PT Inhutani, BUMN di bawah pengelolaan teknis Dephutbun pernah
meneliti bahwa eksploitasi hutan melalui pola HPH ternyata telah menimbulkan kerusakan
hutan lebih dari 50 juta hektar.
Kini areal kerusakan
hutan mencapai luas 56,98 juta ha.Walhasil, hutan yang semestinya menjadi
sumber kekayaan rakyat Indonesia, ternyata hasilnya hampir-hampir tidak
dirasakan mayoritas rakyat karena mengalami kegagalan dalam pengelolaannya.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut
membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit
berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan
Dia sebarkan bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan
dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [Qs al-Baqarah (2):
164]
Subscribe to:
Comments (Atom)





