Wednesday, 4 December 2013

Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer kepada Keith Foulcher

Jakarta, 5 Maret 1985

Salam,
Surat 26 Februari 1985 saya terima kemarin, juga surat terbuka Achdiat K. Mihardja untuk teman-teman (sarjana) Australia yang dilampirkan. Terimakasih.
Lampiran itu memang mengagetkan, apalagi menyangkut-nyangkut diri saya, dan tetap dalam kesatuan semangat kaum manikebuis pada taraf sekarang: membela diri dan membela diri tanpa ada serangan sambil merintihkan kesakitannya masa lalu, yang sebenarnya lecet pun mereka tidak menderita sedikit pun. Total jendral dari semua yang dialami oleh kaum manikebuis dalam periode terganggu kesenangannya, belum lagi mengimbangi penganiayaan, penindasan, penghinaan, perampasan dan perampokan yang dialami oleh satu orang Pram. Setelah mereka berhasil ikut mendirikan rezim militer, dengan meminjam kata-kata dalam surat terbuka tsb.:

“All forgotten and forgiven” dan revisiannya: “We’ve forgiven but not forgotten.” Saya hanya bisa mengelus dada. Kemunafikan dan keangkuhan dalam paduan yang tepat, seimbang dengan kekecilan nyalinya dalam masa ketakutan. Dan Bung sendiri tahu, perkembangan sosial- budaya-politik–di sini Indonesia–bukan semata-mata ulah perorangan, lebih banyak satu prosedur nasional dalam mendapatkan identitas nasional dan mengisi kemerdekaan. Tak seorang pun di antara para manikebuis pernah menyatakan simpati–jangan bayangkan protes–pada lawannya yang dibunuhi, kias atau pun harfiah. Sampai sekarang. Misalnya terhadap seniman nasional Trubus. Japo[?] Lampong. Apalagi seniman daerah yang tak masuk hitungan mereka. Di mana mereka sekarang. Di mana itu pengarang lagu Genjer-genjer? Soekarno mengatakan: Yo sanak, yo kadang, yen mati m[?a]lu kelangan. Yang terjadi adalah– masih menggunakan suasana Jawa: tego larane, tego patine.

Masalah pokok pada waktu itu sederhana saja: perbenturan antara dua pendapat; revolusi sudah atau belum selesai. Yang lain-lain adalah masalah ikutan daripadanya. Saya sendiri berpendapat, memang belum selesai. Buktinya belum pernah muncul sejarah revolusi Indonesia. Karena memang belum ada distansi dengannya. Belum merupakan kebulatan yang selesai. Maka para sejarawan takut. Malah kata revolusi nasional cenderung dinamai dan dibatasi sebagai perang kemerdekaan.

Pertentangan manikebu dan pihak kami dulu tidak lain cuma soal polemik. Memang keras, tapi tak sampai membunuh, kan? Kan itu memang satu jalan untuk mendapatkan kebenaran umum, yang bisa diterima oleh umum? Bahwa pada waktu itu terjadi teror yang dilakukan oleh orang-orang Lekra sebagaimana dituduhkan sekarang, betul- betul saya belum bisa diyakinkan. Beb Vuyk dalam koran Belanda menuduh: teror telah dilakukan orang-orang Lekra terhadap beberapa orang, antaranya Bernard IJzerdraad. Waktu ia datang ke Indonesia dan menemuinya sendiri, IJzerdraad menjawab tidak pernah diteror. Dan Beb Vuyk tidak pernah mengkoreksi tulisannya. Beb Vuyk sendiri meninggalkan Indonesia setelah kegagalan pemberontakan PRRI-Permesta, kemudian minta kewarganegaraan Belanda.

Mungkin ia merasa begitu pentingnya bagi Indonesia sehingga dalam usianya yang sudah lanjut merasa berkepentingan untuk mendirikan kebohongan terutama untuk menyudutkan saya. pada hal dalam polemik-polemik tsb. saya hanya menggunakan hak saya sebagai warganegara merdeka untuk menyatakan pendapat. Dan saya sadari hak saya. Seperti sering kali saya katakan: kewarganegaraan saya peroleh dengan pergulatan bukan hadiah gratis.

Dan apa sesungguhnya kudeta gagal G-30S/PKI itu? Saya sendiri tidak tahu. Sekitar tanggal 24 bulan lalu saya menerima fotokopi dari seorang wartawan politik Eropa dari Journal of Contemporary Asia, tanpa nomor dan tanpa tahun, berjudul: “Who’s Plot–New Light on the 1965 Events,” karangan W.F. Wertheim. Itulah untuk pertama kali saya baca uraian dari orang yang tak berpihak. Juga itu informasi pertama setelah 20 tahun belakangan ini. Rupa-rupanya karena ketidaktahuan saya itu saya harus dirampas dari segala-galanya selama 14 tahun 2 bulan + hampir 6 tahun tahanan kota (tanpa pernyataan legal), tanpa pernah melihat dewan hakim yang mendengarkan pembelaan saya. Memang sangat mahal harga kewarganegaraan yang harus saya bayar. Maka juga kewarganegaraan saya saya pergunakan semaksimal mungkin. Itu pun masih ada saja orang yang tidak rela. Juga surat pada Bung ini saya tulis dengan menjunjung tinggi harga kewarganegaraan saya.

Sekarang akan saya tanggapi tulisan A.K.M. Ia tidak ada di Indonesia waktu meletus peristiwa 1965 itu. Tetapi saya sendiri mengalami. Saya akan ceritakan sejauh saya alami sendiri, untuk tidak membuat terlalu banyak kesalahan.
Pada 1 Oktober 1965 pagihari saya dengar dari radio adanya gerakan Untung. Kemudian berita tentang susunan nama Dewan Revolusi. Sebelum itu pengumuman naik pangkat para prajurit yang ikut dalam gerakan Untung dan penurunan pangkat bagi mereka yang jadi perwira di atas letkol. Sudah pada waktu itu saya terheran-heran, kok belum-belum sudah mengurusi pangkat? Ini gerakan apa, oleh siapa?
Saya lebih banyak di rumah daripada tidak. Kerja rutine ke luar rumah adalah dalam rangka menyiapkan Lentera dan mengajar pada Res Publika. Dan sangat kadang-kadang ke pabrik pensil di mana saya “diangkat” jadi “penasihat.”
Jadi di rumah itu saja saya “ketahui” beberapa hal yang terjadi dari suara-suara luar yang datang. Mula-mula datang Abdullah S.P., itu penantang Hamka, waktu itu baru saja bekerja di sebuah surat kabar Islam yang baru diterbitkan, dan yang sekarang saya lupa namanya. Ia mengatakan merasa tidak aman dan hendak mengungsi ke tempatku. Saya keberatan, karena memang tidak tahu situasi yang sesungguhnya. Seorang pegawai tatausaha Universitas Res Publika datang ke rumah menyerahkan honor, dan mengatakan Universitas ditutup karena keadaan tidak aman.

Ia menyerahkan honor lipat dari biasanya. Beberapa hari kemudian datang pegawai dari pabrik pensil, juga menyerahkan honor, juga lipat dari biasanya, karena pabrik terpaksa ditutup, keadaan gawat. Kemudian datang seorang teman yang memberitakan, rumah Aidit dibakar, demikian juga beberapa rumah lain. Ia juga memberitakan tentang cara massa bergerak. Mereka menyerang rumahtangga orang, kemudian datang para petugas berseragam yang tidak melindungi malah menangkap yang diserang. “Saya yakin Bung akan diperlakukan begitu juga,” katanya. Soalnya apa dengan saya? tanyaku. “Kesalahan bung, karena bung tokoh.” Itu saja? Tempatku di sini, kataku akhirnya.

Tuesday, 1 October 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 5) TAMAT

Oleh : Dr. Andang Widi Harta

Dewasa ini, tanda-tanda kemunduran peradaban barat mulai nampak dengan ketidakmampuan peradaban barat untuk menyelesaikan berbagai masalah peradaban fundamental. Secara garis besar problema peradaban dapat dikelompokkan menjadi :

-          Kemiskinan sistematis global

-          Ketidaadilan sistematis global

-          Insustainabilitas sumber daya alam

-          Degradasi nilai manusia

Sistem kapitalis yang lahir dari peradaban barat merupakan sumber dari problema ini. Hal ini telah membangun kesadaran baru untuk mencari sistem pengganti untuk mengatur peradaban dunia, guna menggantikan sistem kapitalisme yang telah terbukti gagal menyelesaikan problema-problema tadi.

Sementara itu kaum muslimin yang sekarang terdominasi pemikiran peradaban barat modern juga semakin menyadari berbagai kerusakan yang ditimbulkan oleh peradaban barat tersebut. Kerusakan-kerusakan peradaban tersebut banyak yang menimpa kaum muslimin terdorong untuk kembali kepada ajaran Islam.

Sementara itu, telah muncul pua dakwah Islam universal yang menyerukan kaum muslimin untuk kembali kepada Islam secara kaffah serta telah mampu untuk menjabarkan solusi Islam bagi pemecahan berbagai problema peradaban.

Konsep filsafat ilmu pengetahuan untuk mengisi kebangkitan Islam pada dasanya adalah tepat sama dengan pemikiran Islam awal. Pemikiran Islam awal ini selanjutnya diperkaya dengan metode pembuktian empirik sistematis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan empirik. Aspek-aspek yang mengharuskan penyelesaian dengan penetapan hukum syari’at Islam diselesaikan dengan metode penggalian hukum Islam dengan konsep ijtihad tasyri’.

Thursday, 26 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 4)

Oleh : Dr. Andang Widi Harta
 
Perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam hingga sekarang secara ringkas dapat dibedakan dalam beberapa periode, yaitu :
-           Periode Salaf
-           Periode Ilmu Kalam
-           Periode Filosof dan Ilmuwan
-           Periode Ilmiyah Madiyah
-           Periode Kemunduran Islam
-           Periode Dominasi Peradaban Barat
Dalam hal ini, akan diuraikan secara singkat aspek-aspek yang menyangkut pemikiran dan pemahaman Islam serta aspek-aspek yang menyangkut perkembangan ilmu-ilmu empirik.

Monday, 23 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 3)

Oleh : Dr Andang Widi Harta

Satu hal yang seringkali tidak dibahas dalam pembahasan filsafat adalah pandangan dasar tentang hakekat dari semua realitas empirik yang dihadapi oleh manusia yaitu tentang manusia, alam semesta dan kehidupan.

Aqidah adalah pandangan yang menyeluruh tentang hakikat paling mendasar(fundamental)  dari seluruh realitas yang dihadapi manusia, yang berupa manusia, alam dan kehidupan. Pandangan ini meliputi :

-          Asal mula manusia, alam dan kehidupan.

-          Akhir dari kehidupan dunia, konsekuensi terhadap amal perbuatan manusia dalam kehidupan dunia.

Berdasarkan hal ini, terdapat hanya tiga macam akidah yaitu :

-          Akidah atheisme, yaitu aqidah yang menolak eksistensi Tuhan dan sekaligus menolak keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan.

-          Akidah Sekularisme, yaitu aqidah yang meyakini eksistensi Tuhan tetapi menolak keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan. Dalam hal ini keyakinan manusia terhadap eksistensi Tuhan hanya dimenifestasikan dalam bentuk ibadah-ibadah ritual.

-          Aqidah Islam, yaitu aqidah yang meyakini eksistensi tuhan dan sekaligus mengharuskan keterikatan manusia terhadap aturan Tuhan pada seluruh aspek kehidupan manusia di dunia.

Aqidah ini harus dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan metode pembuktian pada falsafah ilmu pengetahuan empirik.

Sunday, 15 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM (bag. 2)

Oleh : Dr. Andang Widi Harta 
Secara bahasa, filsafat berasal dari kata phylo (cinta) dan sophia (kebenaran). Filsafat selanjutnya diartikan secara umum sebagai usaha manusia untuk mengetahui kebenaran. Filsafat juga dapat diartikan sebagai sekumpulan pemikiran sistematis dan khas dalam rangka untuk menemukan kebenaran dan membangun ilmu pengetahuan. Pengetahuan tentang kebenaran ini selanjutnya dipakai untuk membangun ilmu pengetahuan lainnya yang selanjutnya akan dipakai sebagai pertimbangan dalam berbagai pebuatan manusia.
Dalam pembahasan filsafat,biasanya dibedakan tiga filsafat dasar, yaitu :
-          Filsafat kebenaran atau sering disebut filsafat ilmu pengetahuan empirik
-          Filsafat etika atau filsafat nilai
-          Filsafat estetika atau filsafat seni
Filsafat ilmu pengetahuan empirik membahas tentang ilmu pengetahuan yang bersifat empirik. Dalam filsafat ini asas obyektifitas pengamatan empirik menjadi kunci dalam penilaian benar atau salahnya teori ilmu pengetahuan.
Filsafat etika dan filsafat nilai membahas tentang nilai atau norma baik dan buruk yang akan dipergunakan sebagai batasan bagi boleh atau tidaknya manusia melakukan berbagai jenis perbuatan. Filsafat etika pada dasarnya juga membutuhkan asas obyektifitas dalam rangka menuju norma-norma yang universal dan adil bagi manusia, sekalipun asa obyektifitas dalam filsafat seringkali tidak dapat diterapkan semudah pada filsafat pengetahuan empirik.
Filsafat estetika atau filsafat seni membahas tetntang keindahan atau kejelekan. Berbeda dengan filsafat ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada asas obyektifitas, maka filsafat seni justru berlandaskan asas subyektifitas pengamat.
Pada kenyataannya filsafat ilmu pengetahuan empirik dan filsafat nilai sering terjadi interaksi. Hal ini karena berbagai aspek tertentu dalam ilmu pengetahuan empirik (penelitian obyek tertentu, tujuan-tujuan pemanfaatan ilmu serta penafsiran hakekat obyek ilmu pengetahuan) harus tunduk pada batasan nilai-nilai atau norma-norma yang harus ditetapkan dengan tujuan menghormati manusia. Disamping itu, filsafat ilmu pengetahuan empirik dan filsafat nilai memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan untuk menerapkan asas obyektifitas.

Saturday, 14 September 2013

PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN BARAT BAGI KEMUNDURAN PEMIKIRAN ISLAM [bag. 1]

Oleh : Dr. Andang Widi Harta


Makhluk hidup di alam empirik dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
-          Makhluk hidup yang hanya menampakkan fenomena kehidupan biologis (tumbuhan)
-          Makhluk hidup yang menampakkan kehidupan biologis dan kemampuan gerak terkoordinasi serta insting (binatang)
-          Makhluk hidup yang menunjukkan kehidupan biologi, kemampuan gerak terkoordinasi, insting serta akal (manusia)

Adanya akal pada manusia ditandai dengan :
-          Kemampuan untuk membangun ilmu pengetahuan dan inovasi.
-          Kemampuan untuk membangun kesadaran akan nilai

Tanpa adanya kedua hal ini, manusia tidak berbeda dengan binatang. Dengan akalnya manusia mampu berfikir. Berfikir dalam membangun pemahaman atas realitas yang diindera dialami oleh manusia. Hasil pemikiran ini adalah pemahaman yang komperhensif terhadap semua realitas tersebut, yang sering dikatakan sebagai ilmu pengetahuan dalam arti yang universal.

Selanjutnya ilmu pengetahuan ini menjadi dasar pertimbangan manusia dalam melakukan berbagai perbuatan  mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.(yang melibatkan perancangan, perekayasaan dan perencanaan detail).

Saturday, 7 September 2013

Rasanya Gak Enak


Rasanya gak enak kalau ada dua kepemimpinan. Semuanya jadi serba gak jelas, kacau dan serba berantakan. Begitu pula kalau itu ternyata terjadi di dalam keluarga, miniatur dari sebuah negara.
 

Suami adalah kepala keluarga. Ibarat kholifah, maka ia adalah pemimpin keluarga,yang akan dimintai pertangung jawaban di akhirat kelak tetang apa-apayang dipimpinnya. Ia laksana perisai bagi umat di bawah naungan rumah tangganya. Istri dengan kelemah-lembutannya lebih cenderung sebagai asisten atau penasihat suami sekaligus pendidik bagi anak buah dari perbuatan keduanya.

Peran masing-masing gender it sudah terbagi dan tertata dengan jelas semenjak kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam, serta masyarakat madani yang terpancar dari kehidupan shohabat dan shohabiyah beserta para pengikutnya. Kanjeng Nabi adalah contoh yang tepat dan sebaik-baiknya sosok manusia yang pantas menjadi panutan. Dialah cahaya uswatun hasanah.

Sunday, 12 May 2013

Selamat jalan Ramadhan, Selamat datang Puasa


Saya bayangkan kalau Allah “Ikut berlebaran”, bagaimana nasib saya dan kita semua. Kalau Tuhan tak berpuasa lagi, habislah kita. Kalau ia tak menahan diri, mampuslah kehidupan kita. Kalau Allah tak menahan diri sekarang ini untuk menghukum kekufuran kita, apa jadinya?

[Emha Ainun Najib_Seandainya Allah pun “berlebaran”]


Bulan ramadhan, bulan penuh barokah, penuh rahmat dan ampunan. Pada bulan ini setan-setan dibelenggu selain itu amalan ibadah mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda. Sungguh bulan ini adalah bulan yang special dan istimewa dengan segala keutamaannya. Bulan waktu diturunkannya al-Qur’an. Tidak ada bulan yang lebih utama selain bulan Ramadhan.
Biasanya kita akan melihat orang-orang kemudian memperbanyak amal ibadahnya. Masjid-masjid menjadi lebih ramai kegiatannya untuk kegiatan berbuka bersama maupun shalat tarawih berjama’ah. Ada yang tadarus al-Qur’an di serambi, ada yang kemudian beri’tikaf dan lain sebagainya. Terlihat memang bulan Ramadhan berbeda dengan sebelas bulan yang lain.

Tuesday, 7 May 2013

PANCASILA


Pancasila itu sakti. Pancasila itu sakral. Pancasila itu suci. Pancasila itu harga mati. Pancasila itu asas; asas dari segala asas.
Karena sakral, Pancasila tak boleh direndahkan. Ada kesan, di negeri ini orang boleh saja melecehkan Islam, mencampakkan Al-Quran, termasuk menghina Rasulullah sang teladan. Sebagian menganggap hal itu sebagai bagian dari ekspresi kebebasan yang dijamin demokrasi. Namun, tidak dengan Pancasila. Merendahkan dan menghina Pancasila adalah kejahatan tak terperi dan pastinya anti-demokrasi.
Karena suci, Pancasila tak boleh diusik dan dikritisi. Ada kesan di negeri demokrasi ini Islam boleh saja diusik; al-Quran dan as-Sunnah boleh dikritisi. Namun, tidak dengan Pancasila. Sebab, bagi sebagian orang Pancasila itu lebih tinggi dari al-Quran maupun as-Sunnah. Pancasila digali dari nilai-nilai luhur nenek moyang bangsa Indonesia. Adapun al-Quran dan as-Sunnah hanyalah bersumber dari perkataan Tuhannya umat Islam semata. Karena itu, semua aturan dan perundang-undangan yang ada di negeri ini boleh tidak merujuk bahkan bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah, tetapi haram berseberangan dan berlawanan dengan Pancasila.
Karena harga mati, Pancasila tak boleh ditawar-tawar. Menawar Pancasila adalah tindakan amoral, bahkan kriminal.  Lain halnya dengan syariah Islam. Di negeri demokrasi ini, hukum Islam hanyalah pilihan; boleh diambil atau dicampakkan.
Sebaliknya sebagai asas, Pancasila tak boleh sekadar jadi pilihan. Asas negara boleh saja tidak berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, tetapi haram jika tidak berdasarkan Pancasila. Maka dari itu, menurut Pancasilais sejati, jika negara saja harus berasaskan Pancasila, maka apalagi Parpol dan Ormas yang merupakan organisasi lebih kecil, tentu lebih wajib berasaskan Pancasila.
****

Tuesday, 23 April 2013

Pertanian Organik menjawab Kedaulatan Pangan..?


Oleh : Meko Naga1

Bila pohon terakhir sudah ditebang,
bila udara terakhir sudah tercemar,
bila sungai terakhir sudah mengering,
bila ikan terakhir sudah mati,
maka, manusia akan sadar
bahwa ia tak bisa makan uang
(Fathoni Hananto2, on facebook3 04 Juli jam 21:17)
Indonesia yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian petani sampai saat ini belum mencapai kedaulatan pangan. Indonesia yang kaya akan hasil alam tetapi faktanya tak mampu menyuplai kebutuhan pangan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, Indonesia harus mengimpor. Tidak tanggung-tanggung, Impor pangan Indonesia mencapai 63% (www.centroone.com/news/2011/03/)
Program GO-Organik telah dicanangkan Departemen Pertanian pada 2010, dengan harapan Indonesia dapat menjadi salah satu Negara  penghasil produk pangan organic yang dapat mengisi pasar dunia. Tetapi keluarnya Peraturan  Menteri keuangan No.13/PMK.011/2011 yang memberlakukan bebas bea masuk untuk 57 komoditas pangan jelas-jelas menghambat upaya Indonesia mencapai cita-cita tersebut.
Alih-alih produksi pangan organic yang sehat mampu dihasilkan, kemampuan produksi pangan pangan dalam negeri pun sekiranya lemah. Karena keran impor untuk komoditas seperti gandum, kedelai, bahan baku pupuk, bahan baku pakan ternak, gula, beras dan lain-lain nyata-nyata telah dibuka. Selain itu dampak yang kentara adalah kebijakan itu telah memposisikan petani berada pada posisi yang semakin sulit.
Disisi lain angka ramalan (Aram) II yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik)  memproyeksikan tahun 2011 surplus sebesar 5 juta ton beras(Kedaulatan Rakyat,13 july 2011). Ditambah dengan surplus 2010 3,9 juta ton beras seharusnya menjadikan acuan untuk meniadakan impor beras. Kenyataannya justru terbalik, pada saat yang sama Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan memutuskan perlunya impor beras.
Hipotesis yang kemudian muncul adalah kapankah ketahanan pangan di Indonesia akan terwujud? Mungkinkah hal itu terjadi? Mampukah pertanian organik menjadi jawaban atas ketahanan pangan Indonesia? Ataukah pertanian organik hanyalah sebuah kampanye saja yang terpampang diposter-poster dan hanya menjadi wacana yang indah saja? Mari kita kupas jauh lebih dalam!

Sunday, 14 April 2013

Refleksi Diri


”Dalam mengevaluasi diri, membutuhkan orang lain yang menilai diri kita.”
”Kamu tidak akan menemukan siapa dirimu hanya dengan dirimu sendiri.”
”Sama seperti cermin, kau membutuhkannya saat kau akan menilai dirimu sendiri.”

Kata-kata tersebut selalu ku coba tuk ku pikirkan. Entah berapa lama aku memikirkannya ataukah aku hanya berkhayal saja. Hingga aku terringat Saat aku prektek lapangan di kampus hutan jati, kami seangkatan sekitar 80 orang bertempat disebuah asrama milik kampus. Disitu terdapat mess kamar, kantor, aula dapur dll. Kehidupan selama 25 hari ditengah hutan terjamin. Makan 3 kali sehari teteapi dijadwal, seperti ditempat para tahanan. Dalam sekamar kami ber8 ditempatkan.

Setiap kamar terdapat 3 buah ranjang bertingkat sehingga ada 6 kasur. Padahal kami sekamar ada 8 orang, artinya setiap malam harus ada 2 anak yang harus di tumbalkan mandapat giliran tidur dibawah walau kenyataannya selama hampir sebulan tementemen lebih milih tidur dibawah karena ketakutan tidur diatas kasur terlebih di ranjang paling atas. Nyatanya aku enjoy saja tidur di ranjang paling atas walaupun malam pertamaku susah sekali tidur(kepikiran mama terus).

Kejadiannya Ada seorang teman yang menanyakan kepada ku, meko kenapa sih kami sesing banget berkaca. Kebetulan di kamar ada lemari dengan 8 kolom dan di tengahnya terdapat sebuah cermin besar dan entah kenapa setiap bangun tidur habis mandi, datang ke kamar trus kalau pas nganggur langsung saja aku berdiri tegak dihadapan cermin dan aku memperlihatkan kemolekan tubuhku dan kegantengan wajahku yang mirip fauzi baadillah ini.

Saturday, 13 April 2013

My Immoral


Aku tak peduli dikatakan bermoral atau tidak.
Aku lebih memilih disebut tak bermoral dari pada tak berakhlak.
Dan aku bukan pejuang moral dan tak pantas mempertanyakannya kepadaku.
Karena aku memang tak bermoral.

Uhh, hari ini suhu udara terasa panas sekali, setiap sudut ruang seperti perapian saja, Tidak ada tempat yang teduh, semuanya panas. Seolah dunia ini tak lagi ada tempat yang digunakan “tuan panas” untuk menyalurkan hasratnya memancarkan jutaan kalori energy yang siap unuk di ttransformasi. Ratusan peluh seukuran jagung menjadi primadona, sehingga setiap hari kami mandi menjadi 3 kali sehari. 2 kali dilakukan saat padi dan sore hari, dan saat siang mandi dengan keringat berparfumkan aroma bau badan.
Ditengah suasana panas yang menyengat tersebut suasana tetap teduh karena semua murid duduk rapi nan tenang. Tidak ada satu pun murid yang berbuat kegaduhan. Semuanya terfokus pada materi yang disampaikan sang guru.
“Moral1 adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral adalah tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya.” Kata sang guru berapi-api.
Hingga terlihat dari barisan sebuah acungan jari mungil pertanda bahwa komunikasi pengajaran berjalan dengan baik karena mendapat respon dari muridnya. Dengan suara yang kecil si murid bertanya kepada gurunya
“ Pak guru, apa yang dimaksud nilai-nilai positif itu?” tanya si murid.

Thursday, 11 April 2013

Pekerja, ataukah Aktivis..........?


Apabila anda mendengar kata “pekerja”, maka apa yang ada dalam benak anda? Apakah karyawan, kuli, ataukah buruh? Kesemuanya menjelaskan sebuah profesi yang sangat terikat ruang dan waktu, juga menguras pikiran dan tenaga dengan hasil atau upah yang pas-pasan. Kalau yang ditanyakan kemudian adalah “aktivis” lantas  apa yang kemudian bisa anda pikirkan? Provokator…..? Sesuatu pekerjaan yang dapat dikatakan sebagai profesi tetapi juga bisa disebut sebagai bukan profesi karena pekerjaan ini tidak dapat dinilai dengan materi saja. Membicarakan dua kata diatas sepertinya sederhana. Tetapi ketika mempertanyaan konotasi dari dua kata tersebut apa jawabannya? Positifkah atau malah negatif? Membicarakan positif maupun negatif memang kita tidak dapat menilainya dengan sederhana. Mari kita mencoba simulasi dengan mengambil contoh.

Friday, 5 April 2013

Hilangnya Hakikat Politik


Menanggapi artikel pendapat yang dimuat dalam Koran Tempo, Selasa 27 November 2012 mengenai Hilangnya Hakikat Politik karya Agus Sudibyo. Bahwa politik yang hakiki seperti yang ditekankan oleh para filusuf republican seperti Aristoteles sangat kontras dengan kehidupan kita. Krisis hakikat politik tidak hanya terjadi pada tataran tindakan politikus yang berpikir transaksional, tetapi juga pada tataran kesadaran atau persepsi masyarakat yang sedang mengalami kegersangan hidup(the desert of live) tentang bagaimana seharusnya politik dijalankan. Ada dua poin penting yang kemudian harus kita cermati. Pertama sistem perekrutan para politikus di negeri kita. Yang kedua, bagaimana pendidikan politik kepada masyarakat sekarang ini.

Wednesday, 3 April 2013

Brain Storming "wacana"


Pendahuluan
            Dunia saat ini sedang mengalami globalisasi. Kondisi dimana informasi berlalulalang melintasi berbagai negara hingga benua. Informasi yang disebar melalui berbagai jaringan informasi, yang kemudian memenuhi pikiran manusia dan mambuat  manusia lupa akan jati dirinya karena informasi-informasi tersebit telah menyesaki memori di dalam mereka.
Tanpa ada screening, saat ini informasi tersebit telah menjadi parasit dalam wujud kehidupan hedonism nan gelamour, yang masing-masing berupaya bahu-membahu berikhtiyar untuk memuaskan kebutuhan nafsunya.
Disisi lain kaum muslim saat ini dihujani cacimaki dan tipudaya oleh kaum kafir penjajah namun mereka sama sekali tidak menyadari sehingga umat islam saat ini ibarat raksasa yang tengah tidur. Jumlah mereka besar di dunia namun tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Friday, 1 March 2013

Halaman Persembahan


Hanyalah pesan yang ingin kusampaikan. Hidup ini adalah pasti. Bahwasanya saat ini kita tak dapat memungkiri bahwa aku, kamu dan kalian masih hidup. Dan hidup adalah pilihan. Setiap langkah yang aku, kamu dan kalian jalani adalah buah dari keputusan. Dan perlu diingat, bahwa mati adalah kepastian bukan pilihan. Setiap tarikan nafas sauatu saat akan terlepas. .Setiap detak jantung pun pasti akan tak lagi terdengar. Dan setiap derap langkah pun nantinya akan terhanti, entah karena tersandung, menginjak kerikil tajam maupun karena otot yang melemah dan membusuk karena tak lagi mendapat suplai makanan dari tubuh. Benar, hidup ini tidaklah abadi, tinggal sejauh mana kita mampu menjalankannya apakah dengan menorehkan tinta emas ataukah meninggalkan coretan hitam yang tak bermakna sama sekali.

Sayap Apatis


Dunia saat ini telah memasuki era baru, era globalisasi. Sebagai hasil rekayasa teknologi informasi, era ini membawa manusia kepada budaya global, budaya pop dan melahirkan manusia-manusia kosmopolitan. Manusia masa kini seperti spesies baru yang tidak mengenal batas-batas budaya. Jika pada periode tahun 60-80an industri bioskop menjadi media penularan virus budaya barat melalui tontonan film-film “panas” —yang menjadi hospes budaya freesex and drugs--, maka tahun 90an menjadi era kedigjayaan dunia pertelevisian yang telah merubah pola perilaku masyarakat menjadi lebih individualistik dan egois.

Seleksi Habitat Banteng di Taman Nasional Baluran


INTISARI
SELEKSI HABITAT OLEH BANTENG (Bos javanicus)
DI TAMAN NASIONAL BALURAN
Oleh:
 Mohamad Eko Nurcahyono1)


Banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Baluran merupakan satwa yang dinyatakan terancam punah. Ada berbagai tipe vegetasi di Taman Nasional Baluran merupakan habitat yang mempengaruhi kelangsungan populasi banteng. Namun saat ini kondisi kawasan Taman Nasional Baluran mengalami perubahan sehingga dikhawatirkan menurunkan kualitas habitat banteng. Informasi yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan dan interaksi benteng terhadap habitatnya adalah seleksi habitat, karena informasi tersebut mengkaji kecenderungan tipe vegetasi yang dipilih banteng serta sumberdaya habitat yang digunakan banteng.
Untuk mengetahui tipe vegetasi yang dipilih banteng, dilakukan dengan analisis chi square antara keseluruhan plot dengan plot yang terdapat tanda-tanda kehadiran banteng (presence). Sementara untuk mengetahui sumberdaya yang dibutuhkan banteng digunakan analisis regresi logistik dari variabel sumberdaya habitat yang merupakan faktor vegetasi, faktor fisik serta faktor manusia. Variabel tersebut mewakili aspek pakan, air, pelindung dan ruang yang dibutuhkan banteng. Pengambilan sampel kehadiran dilakukan dengan metode line trensect di seluruh kawasan secara tidak langsung. Sementara sampel variabel sumberdaya habitat diambil dengan membuat petak ukur di dalam line transect dengan jarak minimal 200 meter.
Berdasarkan hasil analisis chi square diperoleh bahwa banteng di Taman Nasional Baluran memilih hutan jati, hutan pantai dan hutan musim daripada savana. Dan dari hasil analisis regresi logistik diperoleh variabel jarak sumber air, kepadatan tiang, kepadatan semai, penutupan horizontal tajuk serta penutupan vertikal tumbuhan bawah tinggi yang menjadi alasan banteng memilih kawasan hutan sebagai habitatnya.



Kata Kunci: Seleksi Habitat. Banteng, Taman Nasional Baluran


 
1)                    Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Wednesday, 20 February 2013

Rekonstruksi kebijakan Pengelolaan Hutan







Melihat poin-poin diatas, maka rekonstruksi kebipengelolaan hutan yang diambil apabila Khilafah tegak adalah;




1.    Menasionalisasi hutan yang pengelolaannya dikuasai swasta sebagaimana pengelolaan sekarang ini hutan dibagi-bagi konsensi izin dalam bentuk HPH, HTI ataupun IUPHHK(Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu)  di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
2.    Merevitalisasi BUMN Kehutanan seperti Perum Perhutani supaya sapat berperan aktif membangun sistem penataan hutan lestari di luar pulau jawa.
3.    Mengusir investor asing yang bercokol serta menolak semua program bantuan pengelolaan yang ujung-ujungnya menjerumuskan dengan hutang, ataupun hibah-hibah penelitian yang tetek-bengeknya adalah memetakan kekayaan sumberdaya alam Indonesia.
4.    Hanya menjalin kemitraan perdaganan, pengolahan hasil hutan, pendidikan dan penelitan dengan negeri kafir mu’ahadah.
5.    Membangun Industri berat yang mendukung pembangunan sector kehutanan dari hulu sampai hilir.
6.    Penegakan hukum Islam tanpa pandang bulu.
Dengan demikian, Insya Allah segala hal yang menjadi problema potret kehutanan Indonesia dapat teratasi. Keadilan dan kesijahteraan dapat terwujud dibawah naungan Syari’ah dan Khilafah.Amiiin

HUTAN SYARIAH....?


“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya itu.” [QS. Al-A’raf (7) : 96]

Berikut ini beberapa ketentuan syariah Islam terpenting dalam pengelolaan hutan :

1. Hutan termasuk dalam kepemilikan umum, bukan kepemilikan individu atau negara.

Secara prinsip syariah telah memecahkan masalah kepemilikan hutan dengan tepat, yaitu hutan (al-ghaabaat) termasuk dalam kepemilikan umum (al-milkiyah al-Ć¢ammah). Ketentuan ini didasarkan pada hadits Nabi SAW :

"Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal : dalam air, padang rumput [gembalaan], dan api." (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah).

Hadits ini menunjukkan bahwa tiga benda tersebut adalah milik umum, karena sama-sama mempunyai sifat tertentu sebagai illat (alasan penetapan hukum), yakni menjadi hajat hidup orang banyak (min marafiq al-jama’ah). Termasuk milik umum adalah hutan (al-ghaabaat), karena diqiyaskan dengan tiga benda di atas berdasarkan sifat yang sama dengan tiga benda tersebut, yaitu menjadi hajat hidup orang banyak.

Kategori hutan meliputi semuanya bentuk penutupan vegetasi alami dari ; hutan hujan tropis, hutan temprate, hutan pegunungan, hutan dataran rendah, hutan pantai, hutan mangrove, hingga padang semak belukar.

SEBAB KEGAGALAN PENGELOLAAN HUTAN


Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut (disebabkan) karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan ang benar”. [Qs Ar Ruum (30):41]

     Kegagalan pengelolaan hutan selama ini ada 3:

1.    kesalahan pembuat kebijakan,

2.    penyelewengan pelaksanaan regulasi, dan

3.    penyimpangan dalam tataran teknis di lapangan.

     Kesalahan pembuatan kebijakan itu ada 2 sebab, pertama akibat ketidaktahuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat guna. Kedua, akibat kesalahan filosofi/ideologis dalam pembuatan kabijakan.Kalau sebab pertama dikatakan sebagai penyebab kegagalan Indonesia dalam mengelola hutan hal itu dengan mudah dibantah. Saat ini ada ribuan sarjana kehutanan dari berbagai universitas di Indonesia maupun mancanegara, bahkan bayak diantaranya menduduki posisi di pemerintahan dan perusahaan.

     Seharusnya dengan banyaknya tenaga ahli di bidang  kehutanan, Indonesia dapat membuat kebijakan hutan yang lestari dan mensejahterakan rakyatnya.Tetapi hal itu tidak terjadi. Undang-undang atau kebijakan yang muncul justru menguntungkan pengusaha, perusahaan dan pihak asing. Artinya yang menjadi sumber utama kegagalan pengelolaan hutan selama ini adalah kesalahan filosofi/ideologis dalam pembuatan kebijakan yakni ideologi kapitalisme liberal.

     Karakter kapitalisme yang individualis telah mewujud dalam sikap menomorsatukan kepemilikan individu(private property) sebagai premis ekonomi dalam Kapitalisme Wajarlah jika dalam pengelolaan hutan, hutan dipandang sebagai milik individu, yakni milik pengusaha melalui pemberian HPH dan HTI yang diberikan oleh penguasa.Juga dengan UU Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 2007 yang berdampak banyak perusahaan milik asing semakin menguasai sumber daya alam Indonesia.

     Di tataran lapangan sering terjadi penyelewengan pelaksanaan regulasi --misalnya perusahaan HPH menebang melebihi volume yang dilaporkan-- dan penyimpangan dalam tataran teknis di lapangan, misalnya penyimpangan aturan TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia), karena cara pandangkapitalisme yang mengutamakan kepemilikan individu, yang utilitarian (mementingkan kemanfaatan) telah melahirkan sikap eksploitatif atas sumber daya alam seraya mengabaikan aspek moralitas.

Sunday, 17 February 2013

POTRET HUTAN INDONESIA SEPERTI BERKACA DI CERMIN RETAK


    Indonesia memiliki luas hutan mencapai 60 % dari luas daratannya,sebenarnya merupakan kekayaan alam yang sangat penting dan strategis. Namun kekayaan itu tidak banyak gunanya bagi rakyat, karena pengelolaannya gagal. Berdasar perkembangan Tata Guna Lahan Kesepakatan(TGHK) tahun1999 luasnya 120 juta hektar. Tetapi tahun 2004 berdasar data Badan Planologi Departemen Kehutanan (BAPLAN DEPHUT), Menhutbun/Menhut telah menetapkan luas penunjukan kawasan hutan dan perairan hanya 110 juta hektar saja.Menurut laporan WALHI, pada tahun 1993, rata-rata hasil hutan Indonesia tiap tahunnya 2,5 miliar dolar AS. Pada tahun 2005 diperkirakan hasilnya mencapai sekitar 7-8 miliar dolar AS.
     Namun, semua orang juga tahu kini Indonesia menjadi negara bangkrut. Indonesia mengalami deforestasi (kehilangan hutan) yang luar biasa.Sejak tahun 1985-1997 sekitar 21.65 juta hektar hutan hilang atau 1.8 juta hektar hilang setiap tahunnya. Tiga tahun setelah itu hilangnnya hutan justru meningkat menjadi 3.5 juta hektar per tahun dari tahun 1998-2000.
     Dari hasil hutan sejumlah itu, yang masuk ke dalam kas negara ternyata hanya 17 %, sedangkan yang 83 % masuk ke kantong pengusaha yang memperoleh izin Hak Pengelolaan Hutan (HPH ) maupun perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).
     Pemberian HPH kepada pengusaha itu dimulai sejak 1967 melalui UU Pokok Kehutanan No 5 Tahun 1967, yang kemudian direvisi dengan UU Kehutanan no 41 Tahun 1999. Sebab UU No 5/1967 itu hanya menekankan produksi. Maka lahirlah UU No 41/1999 yang agak mendingan karena sudah memperhitungkan konservasi dan partisipasi masyarakat. Sehingga semenjak tahun 2000 hingga tahun 2005 laju hilangnya hutan di 7 pulau besar Indonesia menjadi 1.09 juta hektar pertahun. Kalau ditotal selama 5 tahun tersebut 5.45 juta hektar hutan hilang.PT Inhutani, BUMN di bawah pengelolaan teknis Dephutbun pernah meneliti bahwa eksploitasi hutan melalui pola HPH ternyata telah menimbulkan kerusakan hutan lebih dari 50 juta hektar.
     Kini areal kerusakan hutan mencapai luas 56,98 juta ha.Walhasil, hutan yang semestinya menjadi sumber kekayaan rakyat Indonesia, ternyata hasilnya hampir-hampir tidak dirasakan mayoritas rakyat karena mengalami kegagalan dalam pengelolaannya.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [Qs al-Baqarah (2): 164]